Home / Berita / Opini / Al-Azhar, Mesir, dan Prediksi Al-Quran: Sebuah Doa dan Harapan

Al-Azhar, Mesir, dan Prediksi Al-Quran: Sebuah Doa dan Harapan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Menara Islam Al-Azhar As-Syarif. (Foto: Irhamni Rofiun)
Menara Islam Al-Azhar As-Syarif. (Foto: Irhamni Rofiun)

dakwatuna.com Dulu Al-Azhar dikenal sebagai pusat peradaban ilmu ke-Islam-an yang moderat, banyak orang dari berbagai belahan dunia berbondong-bondong mengambil istifadah ilmu di Al-Azhar.

Kini, konstelasi politik Mesir yang telah terpecah belah, masuk ke ranah Al-Azhar. Menyebabkan kampus tercinta ternodai aksi demonstrasi, pembakaran kampus Al-Azhar -fakultas perdagangan-, di tempat terpisah terjadi pula pengrusakan fasilitas kampus di Al-Azhar Putri, ditambah aksi pembunuhan massal secara terang-terangan di mana-mana. Kesal namun bungkam, terasa mimpi menyaksikan kejadian yang ada.

Siapa yang salah?

Pemerintah adidaya kah? Al-Ikhwanul Muslimun kah? Atau Grand Syekh Al-Azhar yang salah melangkah? Rasanya tidak bisa menyalahi satu persatu dari mereka, itu semua sudah terjadi dan harus ada jalan keluar terbaik.

Rekonsiliasi kedua-belah pihak tidak akan berjalan mulus, kenyataannya seperti itu, bukan untuk mematahkan semangat, tapi praktek di lapangan membuktikan masing-masing kubu tetap terus bertahan dengan pendapatnya masing-masing. Akhirnya masyarakat yang tak berdosa ikut merasakan kepahit-getiran suasana yang ada, mahasiswa yang tak bersalah pun menjadi korban, kenyamanan terus dipertanyakan.

Jalan terakhir selain pertolongan Allah sepertinya perlu ada wasilah campur tangan dan peran dunia Islam untuk menghentikan kekacauan di Mesir.

Renungan dan Prediksi Al-Qur’an

ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ

“Masuklah kalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman” (QS Yusuf [12]: 99)

Sejenak membaca parsial ayat di atas seakan Al-Qur’an telah menjamin keamanan bagi siapa saja yang hendak masuk ke Mesir. Tetapi setelah ditelisik lebih lanjut, ternyata dugaan jaminan keamanan itu kurang tepat, sebab ayat tersebut sama sekali tidak menyifati Mesir sebagai sebuah negeri yang aman, tapi sifat aman berlaku bagi keluarga Ya’qub AS sebagai sebuah jaminan.

Coba perhatikan zhahir ayat آمنين merupakan haal dari objek ادخلوا bukan haal/sifat dariمصر, itupun kedudukan i’rabnya merupakan jawab syarth. Artinya, jawab syarth terlaksana jika syarthnya terlaksana, dengan kata lain jaminan keamanan hanya berlaku bagi keluarga Ya’qub AS saja, dan pada waktu itu saja, bukan jaminan keamanan bagi tanah/negeri Mesir.

Jadi, rasanya kurang tepat menjadikan ayat tersebut sebagai isyarat atau dalil bahwa Mesir mendapat jaminan keamanan, apalagi sepanjang masa sebagaimana tanah Haram dalam surat At-Tiin ayat 1-3:

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun) (1), dan demi bukit Sinai (2), dan demi kota (Mekah) ini yang aman (3)” (QS At-Tin [95]: 1-3)

Ayat di atas secara sharih Allah menyifati Mekah sebagai negeri/kota yang aman وهذا البلد الأمين. Jaminan keamanan ini sharih/tegas. Dan ditegaskan juga dalam ayat-ayat lain yang berbicara tentang Haram (suci)-nya tanah ini. Keamanan dan ke-Haram-an Mekah juga ditegaskan dalam ayat dan hadits-hadits shahih secara bergandengan.

Jadi, kalau disebut aman berarti juga bermakna haram. Tinggal selanjutnya bagaimana kita memahami makna haram dan aman ini? Yang dipahami, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih, keharaman di sini bermakna larangan menumpahkan darah dan berperang, karena itulah disebut aman.

Dengan kata lain kehendak Allah yang menjamin keharaman Mekah, adalah kehendak yang sifatnya Syar’i bukan Qadari Kauniy. Kehendak Syar’i berarti kehendak yang disukai Allah, tapi mungkin saja terjadi, mungkin saja tidak. Sedangkan Qadari, adalah kehendak Allah yang pasti terjadi, baik Dia sukai atau tidak Dia sukai.

Sebagaimana dijelaskan para Ulama yang membedakan antara dua Iradah ini (Syar’iyyah dan Qadariyyah Kauniyyah). Karena itulah sangat mungkin apa yang diharamkan oleh Allah terjadi di tanah suci Mekah, sebagaimana pemberontakan Juhaiman tahun 1979, dan Rusaknya Ka’bah oleh Yazid ibn Muawiyah dan Hajjaj, serta terpenggalnya Abdullah ibn Zubair di pelataran Ka’bah oleh Hajjaj.

Ada ayat lain dalam Al-Qur’an yang juga harus direnungkan lebih lanjut, mengisyaratkan akhir dari konflik Mesir yang berkepanjangan, terdapat dalam surat Al-Qashash ayat 5:

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ

وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)” (QS Al-Qashash [28]: 5)

Jika dianalogikan dari ayat di atas mengindikasikan bahwa kekuasaan pemerintah yang lalim akan jatuh di tangan rakyat yang terzhalimi setelah melalui proses yang panjang, dalam beberapa tafsir dikatakan setelah runtuhnya kerajaan Fir’aun, daerah-daerah kekuasaan yang sebelumnya ada dalam kendali Fir’aun akhirnya diwarisi oleh nabi Musa AS beserta umatnya -Bani Israil-. Mereka memperoleh akibat yang baik di dunia sebelum di akhirat kelak.

Demikianlah Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya. Suatu hal yang rasanya tidak mungkin terjadi yaitu tumbangnya suatu kekuasaan besar oleh orang-orang yang lemah karena ditindas dan dianiaya. Benarlah Allah memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, membuat dan mencabut kekuasaan dari siapa saja yang dikehendaki-Nya, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran [3]: 26)

Ada ulama yang mengatakan bahwa persoalan Mesir jangan dianggap sebagai konflik politik. Sebab, jika melihat persoalan tersebut dari sisi politik saja maka hati akan terasa kosong. Lebih dari itu, bahwa Allah telah menyiapkan skenario besar dalam peristiwa ini.

Doa dan Harapan

Kesucian dan kemurnian Al-Azhar tidak akan pernah punah jika seluruh komponen bersatu dalam menjaga wibawa dan martabat Al-Azhar dari gempuran kelompok yang bermoral lacur, mereka memang sengaja untuk menghancurkan kekharismatikan Al-Azhar. Ketahuilah bahwa Al-Azhar akan tetap berdiri kokoh menjadi menara Islam di dunia.

Kami yang terikat ukhuwah Islamiyah yang posisinya jauh dari Negeri Para Nabi itu hanya bisa mendoakan dan terus mendoakan agar Mesir terhindar dari fitnah yang berkepanjangan. Semoga saja bantuan doa kita semua yang tulus dipanjatkan bisa menjadikan Mesir kembali pulih dari sakitnya dan semoga semua pihak bisa mengintrospeksi diri. Allahumma Ihfadz Mishra wa Ahlaha. Ya Allah, jaga Mesir dan penduduknya.

Wallahu a’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 7,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.
  • Kedamaian sejati tentunya tidak bisa diukur dengan kedamaian duniawi semata. Proses menuju terwujudnya bisa jadi akan melewati ujian yang berat.

Lihat Juga

Terkait Kunjungan Saksi Ahli dari Mesir, MUI Surati Grand Syaikh Al Azhar