Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Butanya Mata Hati (Bagian ke-1)

Ketika Butanya Mata Hati (Bagian ke-1)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi. (Foto: movingforward.net)
Ilustrasi. (Foto: movingforward.net)

Awal yang kelam

dakwatuna.com Tidak terasa kita sudah hampir melewati separuh dari bulan januari yang belum lama kita menikmati euphoria suasana tahun baru. Identiknya ketika disebutkan sesuatu permulaan berarti kita dihadapkan dengan program atau harapan atau rencana yang baru untuk mengawali hal yang lebih baik dari sebelumnya, namun ironisnya yang kita temukan dan jumpai dalam mengawali era baru adalah hal-hal yang memilukan, di antaranya:

  • Kasus orang tua yang menganiaya anaknya, ini malah terjadi di daerah bumi lancing kuning yang kita cintai tepatnya daerah Kampar. Masih terekam bagus di ingatan kita bersama seorang anak yang bernama “Aditya” yang ditemukan seolah-olah sebagai sesuatu yang terbuang di kebun sawit.
  • Kemudian baru-baru yang lagi hebohnya adalah di mana banyaknya masyarakat kita yang sebagian besar mereka merupakan pemuda yang disebut-sebut sebagai tonggak estafet penerus perjuangan tewas secara massal karena menenggak minuman oplosan bahkan parahnya ini tindakan ini dilakukan secara sadar oleh mereka sendiri yang akhirnya menjadi korban “senjata makan tuan”.
  • Berikutnya kita akan temukan lagi cerminan yang lebih hebat lagi di mana ayah memperkosa anak gadisnya, paman yang menghamili keponakannya, ibu yang terbunuh oleh anak kandungnya, istri yang membunuh secara mutilasi suaminya, anak kecil atau kakek-kakek yang melakukan tindak asusila kepada binatang.

Manusia lebih hina dari binatang ternak

Padahal kalau kita lihat di sisi lainnya di mana kita sering menyalahkan atau menisbahkan perbuatan buruk ini kepada perbuatan syaithan atau iblis namun kenyataannya syaithan atau iblis tak pernah kita temukan dalam sejarah iblis membunuh anaknya, syaithan menggagahi anak gadisnya atau hewan ternak memutilasi induk atau anaknya. Inilah langkah awal yang ditampilkan oleh masyarakat Indonesia khususnya dan manusia di belahan bumi ini secara umumnya. Kalaulah seperti ini startnya bisa dibayangkan bagaimana finishnya, maka pantaslah Allah katakana manusia itu lebih hina dari binatang ternak.

Butanya mata hati (lalainya mata hati)

Lalu kenapa semua ini terjadi? Kenapa manusia bisa berbuat serendah ini yang padahal banggakan manusia dari makhluknya lainnya sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman ketika bercerita tentang penciptaan Adam dan proses penciptaan manusia (at-tin: 4), “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Maka ini ditegaskan oleh Allah dalam firmannya (al-A’raf: 179) Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. Melalui firmannya ini Allah tegaskan bahwa manusia ini banyak yang akan masuk ke dalam neraka karena mereka menjadi makhluk yang lalai “nuraninya tak lagi berfungsi” yang akhirnya mereka mampu berbuat yang bahkan binatang dan syaithan pun tak melakukan perkara itu. Apa hal yang membuat itu terjadi:

Mata hati mati atau karena larut dalam kelalaian yang disebabkan hal berikut sebagaimana keterangan firman Allah di atas tersebut

  • Manusia tak lagi menggunakan hatinya untuk merenungi ayat-ayat Allah, bahkan menyibukkan hatinya memikirkan perkara yang dibenci Allah
  • Nikmat mata yang Allah amanahkan itu telah habis untuk melihat perkara yang Allah murkai bukan untuk memperhatikan mana perintah dan mana larangan Allah
  • Pendengaran yang Allah karuniakan sudah tak berfungsi sebagai perekam atau menyimak pesan-pesan Allah tapi mereka penuhi isi telinga mereka dengan hal yang nantinya akan mengantarkan mereka kepada siksa Allah

Adapun pemicu manusia bisa terjebak dalam faktor-faktor di atas adalah:

  • Manusia buta akan ilmu syar’i dan kurang mengenal Allah
  • Menyepelekan bahkan menghinakan amar ma’ruf
  • Membiarkan merajalelanya kemaksiatan dan tidak lagi menafikan kemunkaran

Hakikat hidup adalah ujian

Ketahuilah bersama bahwa hakikat di dunia inilah adalah ujian dan sudah secara fitrah manusia ketika di uji dengan nikmat dia akan kikir dan ketika ditimpa hal yang melarat mereka akan berkeluh kesah. Ini menunjukkan bahwa kita itu lemah, maka hendaknya seyogianya kita maksimalkan daya upaya yang kita miliki ini untuk berlomba-lomba mencari hal yang diridhai Allah bukan malah menjadi budak dunia yang membuat kita hina dan tak berperilaku lagi sebagian manusia yang selayaknya (an-nahl: 95), “sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Inilah yang harus kita perbuat

Lalu apa tindakan evaluasi kita? Maka inilah saat ini yang harus kita upayakan

  • Melapangkan dada dengan sabar dan sikap tawakal kepada Allah serta mengisinya serta mempertebalnya dengan mendalami ilmu tentang Allah (syar’i)
  • Merenungi setiap janji-janji Allah, yakni dengan selalu mempersiapkan diri untuk mengejar janji baik Allah dan selalu mewaspadai diri dari ancaman azab Allah

Semoga paparan ini bisa menjadi perenungan buat kita bersama untuk evaluasi diri dalam mengejar hal yang lebih baik ke depannya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa semester akhir di Fakultas Tafsir Hadist International UIN SUSKA Riau.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Keikhlasan dan Kerendahan Hati Ibu