Home / Berita / Nasional / Musholi: Beasiswa untuk Mahasiswa Berprestasi adalah Investasi yang Sangat Penting

Musholi: Beasiswa untuk Mahasiswa Berprestasi adalah Investasi yang Sangat Penting

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Logo PPSDMS NF. (inet)
Logo PPSDMS NF. (inet)

dakwatuna.com Direktur Program Pembinaan SDM Strategis, Drs. Musholi, menyatakan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi adalah investasi yang sangat penting karena akan menentukan daya saing bangsa.

“Kita tahu Jepang hancur saat Perang Dunia II. Lalu, Kaisar Jepang mengecek, berapa orang guru yang masih hidup. Dari sanalah perubahan dimulai hingga kini Jepang jadi salah satu negara maju. Demikian pula Korea Selatan di era 1960-an menghadapi kondisi yang sulit seperti Indonesia, bahkan mereka tak punya sumber daya alam yang kaya. Mereka fokus mengembangkan pendidikan dan teknologi, sehingga saat ini tampil sebagai raksasa ekonomi,” ujar Musholi di sela Rakernas PPSDMS Nurul Fikri, yang berlangsung Sabtu-Ahad (11-12/1).

PPSDMS adalah lembaga pengkaderan mahasiswa berprestasi dari berbagai perguruan tinggi negeri. Sejak berdiri tahun 2002, PPSDMS mengelola tujuh asrama gratis untuk para mahasiwa di lima kota: Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Tiap angkatan, lembaga nonprofit dan nonpartisan itu merekrut 220 mahasiswa yang dibina menjadi calon pemimpin masa depan.

“Disamping menerima beasiswa selama dua tahun, para mahasiswa dilatih kepemimpinan, wawasan Islam, kewirausahaan dan kebangsaan serta berdialog dengan beragam tokoh lintas kelompok. Tokoh nasional seperti Jusuf Kalla, Arifin Panigoro, Sandiaga Uno atau Hidayat Nur Wahid pernah hadir dalam national leadership camp, berbagi pengalaman. Begitu pula tokoh daerah semisal Joko Widodo, Tri Rismaharini, Nur Mahmudi Ismail, Ganjar Pranowo atau Ridwan Kamil diundang dalam leadership talks untuk membeberkan visi kepemimpinan generasi baru,” jelas Musholi.

Mantan Menristek (2009-2011) Suharna Surapranata membenarkan daya saing Indonesia yang masih terlalu rendah, bahkan dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia atau Singapura.

“Tapi, ukuran negara kita memang besar: jumlah penduduk 240 juta lebih dan volume APBN Rp 1.800 triliun, kita masuk kelompok G-20. Cara kita mengelola negara harus berbeda dibanding negara-negara kecil lain. Kenyataannya, anggaran untuk riset dan teknologi hanya 0,01 persen dari APBN,  sehingga kita lebih berposisi konsumen/pasar, belum menjadi produsen atau inovator di berbagai sektor,” ungkap Suharna yang menjadi calon anggota DPD RI daerah pemilihan Jawa Barat.

Untuk itu, Suharna menyambut kemunculan Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri yang bervisi “Cyber Campus for Innovation and Character Building”.

Kepala STT Terpadu NF, Rusmanto Maryanto, menegaskan: “Cyber campus akan mengintensifkan proses belajar-mengajar. Dimana saja dan kapan saja, para mahasiswa bisa berkonsultasi, meski kuliah tatap muka tetap penting,” papar Rusmanto.

Disamping itu, STT Terpadu NF juga mendorong inovasi, agar potensi mahasiswa teraktualisasi, terutama dalam pengembangan teknologi informasi. “Semua didukung karakter yang baik. Sebab kompetensi yang tinggi tanpa karakter bisa merusak,” tegas Rusmanto yang dikenal sebagai pelopor open source di Indonesia. (dakwatuna/sw/hdn)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sapto Waluyo
Direktur Institute of Strategic Studies and Civilizational Transformation (ISSaCT)

Lihat Juga

Indonesia mulai dibanjiri tenaga kerja asing, terutama dari Tiongkok (ilustrasi).  (sindonews.com)

Haruskah Indonesia Selalu Menerima Investasi Asing?