Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mesir dan Mekah, Dua Negeri dan Kota yang Aman dalam Al-Quran? (Studi Kritis)

Mesir dan Mekah, Dua Negeri dan Kota yang Aman dalam Al-Quran? (Studi Kritis)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (Foto: ruizspieces.com)
Ilustrasi. (Foto: ruizspieces.com)

dakwatuna.com Ada sesuatu hal yang sampai detik ini saya masih terus meneliti dan mencari titik temu dari interpretasi surat Yusuf ayat 99, apakah jaminan keamanan dalam petikan ayat tersebut berlaku umum hingga sekarang, atau maksud ayat ini khusus diperuntukkan ketika nabi Yusuf AS menyambut sang ayah –nabi Ya’qub as- dan seluruh anggota keluarganya saat tiba di Mesir?

“Udkhuluu mishra insya Allahu aaminiin…” (Masuklah kamu ke negeri Mesir niscaya Allah akan memberikan keamanan kepada kamu) (QS. Yusuf: 99).

Ada satu lagi dalam surat At-Tiin yang telah menyifati Mekah sebagai negeri/kota yang aman.

“Wattiini waz-Zaytun, wathuuri siiniina, wa haadzal baladil amiin…” (Demi bumi tin di Damaskus (Syria), dan demi bumi zaitun di Palestina, dan demi bukit Thur yang ada di Sinai (Mesir). Dan demi kota Mekah yang aman.) (QS. At-Tiin: 1-3).

Jika diperhatikan dari dua petikan ayat dari surah yang berbeda di atas, seakan ada dua negeri atau kota di dalam Al-Qur’an yang telah mendapatkan jaminan keamanan, yaitu Mesir dan Mekah. Yang masih belum dipahami adalah shalahiyah (masa berlaku) jaminan keamanan ini, madal haya kah -sepanjang hidup- atau mahdudah- terbatas-, mengaca kepada fenomena yang ada.

Akhirnya setelah terus mencari tahu, muthala’ah, bertanya -sulit sekali-, dan berusaha mentadabburi. Kesimpulan sementara kurang lebih sebagai berikut:

1. Surat Yusuf ayat 99 sama sekali tidak menyifati Mesir sebagai sebuah negeri yang aman, tapi sifat aman berlaku bagi keluarga Ya’qub AS sebagai sebuah jaminan, coba perhatikan zhahir ayat آمنين merupakan haal dari objek ادخلوا bukan haal/sifat dari مصر, itupun kedudukan i’rabnya merupakan jawab syarth. Artinya, jawab syarth terlaksana jika syarthnya terlaksana, dengan kata lain jaminan keamanan hanya berlaku bagi keluarga Ya’qub AS saja, dan pada waktu itu saja, bukan jaminan keamanan bagi tanah/negeri Mesir. Jadi, rasanya kurang tepat menjadikan ayat tersebut sebagai isyarat atau dalil bahwa Mesir mendapat jaminan keamanan, apalagi sepanjang masa sebagaimana tanah Haram.

2. Sedangkan dalam surat At-Tiin secara sharih Allah menyifati Mekah sebagai negeri/kota yang aman وهذا البلد الأمين. Jaminan keamanan ini sharih/tegas. Dan ditegaskan juga dalam ayat-ayat lain yang berbicara tentang Haram (suci)-nya tanah ini. Keamanan dan ke-Haram-an Mekah juga ditegaskan dalam ayat dan hadits-hadits shahih secara bergandengan. Jadi, kalau disebut aman berarti juga bermakna haram. Tinggal selanjutnya bagaimana kita memahami makna haram dan aman ini? Yang dipahami, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih, keharaman di sini bermakna larangan menumpahkan darah dan berperang, karena itulah disebut aman. Dengan kata lain kehendak Allah yang menjamin keharaman Mekah, adalah kehendak yang sifatnya Syar’i bukan Qadari Kauniy. Kehendak Syar’i berarti kehendak yang disukai Allah, tapi mungkin saja terjadi, mungkin saja tidak. Sedangkan Qadari, adalah kehendak Allah yang pasti terjadi, baik Dia sukai atau tidak Dia sukai. Sebagaimana dijelaskan para Ulama yang membedakan antara dua Iradah ini (Syar’iyyah dan Qadariyyah Kauniyyah). Karena itulah sangat mungkin apa yang diharamkan oleh Allah terjadi di tanah suci Mekah, sebagaimana pemberontakan Juhaiman tahun 1979, dan Rusaknya Ka’bah oleh Yazid ibn Muawiyah dan Hajjaj, serta terpenggalnya Abdullah ibn Zubair di pelataran Ka’bah oleh Hajjaj.

Wallahu a’lam.

Metodologi riset ayat ini terus berjalan hingga akhirnya menemukan kepuasan batin. Semoga ada yang membantu untuk mencerahkan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.
  • ondeonde

    aman apanya selagi masih ada fir;un2 baru bermunculan….mesir tdk akan aman yg ada pembantaian secara massal..

  • Ha Mas

    penafsiran sy juga subyektif dan berlaku pada masa itu hanya untuk Nabi Yusuf AS.

  • masikhsan

    yang dibunuh oleh Hajjaj di pelataran Ka’bah adalah Said bin Jubair

  • E Fi Ta

    Dalam keraguan

Lihat Juga

Al-Quran yang Shalih LiKulli Zaman Wal Makan Membuktikan Bahwa Li Kulli Zaman Rijaaluhu