Home / Narasi Islam / Politik / Dari Rasulullah, untuk Pemimpin Bangsa

Dari Rasulullah, untuk Pemimpin Bangsa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Ialah manusia paling agung di sepanjang sejarah kehidupan manusia di muka bumi. Akhlaknya agung, suci, menawan, dan membuat hati terpikat. Bahkan, mata jahiliyyah pun mampu merasai keindahan akhlaknya. Lembaran demi lembaran sejarah telah mencatatkan namanya. Lisan-lisan agung telah membuncah kalimat menutur tentangnya. Indah sekali. Ia pelengkap dan penyempurna. Beliau menggambarkan dirinya seperti sebuah bata yang melengkapi celah di sudut bangunan.

Di langit ia dicintai, diridhai, dan diakui. Namun, tak jarang ia tersakiti di bumi. Dakwahnya bermula dihadang pedang dan ancaman. Hari-harinya dilalui dengan tindakan semena-semena. Hingga Allah mengizinkan kemenangan ia rengkuh di tangannya. Pun begitu, keagungannya tak berkurang. Lisan pemaafnya mengampuni seluruh jasad tertunduk lemah di hadapannya. Lantang ia membebaskan, “Pergilah kalian!! Hari ini kalian bebas!!”

Ia seorang pemimpin yang mampu menyelamatkan umatnya dari kehancuran. Menerangi mereka di tengah gelapnya kebodohan. Menumpas berhala yang menggilakan. Membakar kebudayaan nenek moyang yang menyesatkan. Ia tetap berjuang, meski banyak orang mencercanya dengan cercaan menghinakan. Ketika ia menyampaikan Firman Tuhan-Nya, mereka menyebutnya penyihir. Besar sekali kesabarannya…

Beliaulah manusia paling agung, paling mulia, paling indah perangainya, paling terpuji perkataannya. Beliau Rasulullah. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Saat ini, mengenang hari lahirnya, hendaknyalah para pemimpin mengambil spirit dari sejarahnya. Sebaik-baik teladan adalah beliau. Garansi ini turun langsung dari Allah di ayat ke-21 surah Al-Aldzaab…

“Sungguh, telah ada bagi kalian, dalam diri Rasulullah itu keteladanan yang baik. (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (pertemuan) dengan Allah dan hari akhir, serta banyak mengingat Allah.”

Barangkali, kita memang belum sampai pada taraf seharusnya. Keteladanan beliau hanya bisa dilihat oleh orang yang punya dua kriteria ini; Mengharapkan perjumpaan dengan Allah dan hari akhir, serta banyak mengingat Allah.

Bagaimana mungkin mengaku mengharapkan perjumpaan dengan Allah dan hari akhir, bila dalam hati masih tumbuh menjulang kecintaan terhadap dunia? Banyak mengingat Allah adalah pertanda kecintaan pada-Nya. Akan bergetar hati di kala asma-Nya disebut-sebut. Sebab kecintaan pada Allah pula, kecintaan kita pada Rasulullah akan tersemai subur. Sebab, beliau adalah kekasih Allah. Manusia pilihan Allah untuk mengemban amanah-Nya yang teramat beratnya.

Bagi para pemimpin—atau calon pemimpin—alangkah baiknya bila menyempatkan diri merenungkan Firman Allah ini…

“Telah datang kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan kalian. Teramat menginginkan keselamatan pada kalian. Penyantun dan penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (At Taubah: 128)

Tiga indikator pemimpin ideal dari ayat ini;

Berat terasa olehnya penderitaan kalian

Maka, lihatlah sejenak pada para pemimpin kita. Berdusta bila mereka mengaku merasakan penderitaan rakyat sementara mereka meraup uang rakyat terus-menerus. Korupsi dan kolusi di mana-mana. Bohong, bila mereka bilang peduli, sementara mereka bisa tidur tenang ketika rakyatnya menderita saat banjir melanda, misalnya.

Bagaimana dengan Rasulullah? Bahkan, tangannya yang lembut menyuapi si kafir buta di sudut pasar. Sekali lagi, dia kafir. Tidak hanya itu, tiap kali tangan Rasulullah menyuapinya, ia selalu membuncah kalimat cerca untuk beliau. Namun, tak pernah sekali pun Rasulullah membantah dan menghardik.

Bila lakunya pada orang kafir saja sudah begitu, bagaimana lagi pada umatnya—kaum muslimin?

Teramat menginginkan keselamatan bagi kalian

Ia bersabar menuntun umatnya. Terus menggiring mereka menuju keselamatan. Dengan tekun beliau menyirami hati umatnya. Agar keselamatan saja yang menimpa mereka. Beliau mengutamakan umat dibanding dirinya. Bahkan, ketika merasakan perihnya saat kematian akan menjelang, hanya satu kata ia ulang-ulang; “Ummatiy… Ummatiy… Ummatiy…”

Bila saat perih begitu beliau tetap mengingat umatnya, bagaimana lagi saat beliau hidup tenang? Bagaimana lagi saat umatnya yang merasai perih?

Penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman

Inilah bukti indah dan luhurnya kepribadian beliau. Sifat penyantun dan penyayangnya tak kenal kondisi. Selalu begitu. Baik saat senang, maupun susah. Bagi beliau merasa berat, maupun ringan. Sifatnya kekal…

Setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Tak tahu pula kapan amanah bangsa akan ditaruh di pundak. Maka tak ada pilihan lain, kecuali meneladani beliau.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ‘alihi wasallam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mhd Rois Almaududy
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Pemuda Investasi Bangsa