Home / Berita / Daerah / Virus SEPILIS Tantangan Besar dalam Penerapan Syariat Islam di Aceh

Virus SEPILIS Tantangan Besar dalam Penerapan Syariat Islam di Aceh

Dialog "Esksistensi Syariat Islam di Aceh" yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa Fakultas Syari'ah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry, Selasa (14/1/2013), (Foto: Teuku Zulkhairi)
Dialog “Esksistensi Syariat Islam di Aceh” yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry, Selasa (14/1/2013), (Foto: Teuku Zulkhairi)

dakwatuna.com – Banda Aceh.  Dalam dialog “Esksistensi Syariat Islam di Aceh” yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry, Selasa (14/1/2013), Dr Munawwar Abdul Jalil, MA, Kabid Bina Hukum  dalam pemaparannya mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam mensukseskan penerapan syariat Islam saat ini adalah menyebar virus-virus Sekulerisme, Pluralisme agama dan Liberalisme (SEPILIS) .

Virus ini dianggap berbahaya karena bermain pada tataran ideologi, merusak aqidah umat yang berakibat pada ragunya terhadap ajaran Islam dengan alasan-alasan yang terlihat seolah ilmiah dan akademisi.

Para pengusung paham ini mengusung slogan Humanisme dalam gerakan mereka. Padahal Islam selain mengusung misi Hifzunnafs (menjaga jiwa/humanisme), juga mengusung agenda hifzudiin (menjaga agama), menjaga harta, keturunan dan pemeliharaan terhadap harta.

Menurut Munawar, para pengusung paham Sepilis itu terus berusaha memperburuk imej syariat Islam dengan harapan mendapatkan kucuran dana dari luar. Contohnya seperti saat penertiban ondong-ondong di Aceh Singkil, pengusung Sepilis yang mengatakan dirinya Muslim itu mempropagandakan seolah yang terjadi adalah penutupan gereja dan pengengkangan terhadap kebebasan beragama di Aceh, padahal terbukti bahwa Aceh sangat toleran dalam beragama. Umat Islam di Aceh dan stakeholder syariat Islam sangat menjunjung tinggi adanya pluralitas di Aceh, tapi bukan pluralisme agama, kata Munawar menegaskan.

Peduli Syariat, Wartawan Bekerja dalam Sunyi

Sekjend Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), Muhammad Saman, S.Ag, dalam  dialog Eksistensi Syariat Islam di Aceh di UIN Ar-Raniry, Selasa (14/1/2013) mengatakan bahwa pihaknya saat ini bekerja dalam sunyi dalam membantu penerapan syariat Islam di Aceh. Pihaknya membantu lewat pemberitaan.

Muhammad Saman menyebut pihaknya sejauh ini sudah berusaha mengcounter banyak berita yang menyudutkan syariat Islam di Aceh. Menurutnya, wartawan sudah seharusnya terlibat dalam penerapan syariat Islam di Aceh lewat pemberitaan di media massa.

Sementara itu, Iliiza Sa’aduddin Djamal, SE, mengatakan, Pemko Banda Aceh ingin membangun substansi dari syariat Islam lewat pembinaan-pembinaan sehingga masyarakat menjadi yakin dengan ajaran Islam.

Menurut Illiza, dulu ada hanya sekitar 40 persen anak-anak di Kota Banda Aceh bisa baca Al-quran, sekarang sudah mencapai 98 persen.

Illiza mengatakan, salah satu kendala utama Pemko Banda Aceh dalam menegakkan nahi munkar dalam penerapan syariat Islam di Banda Aceh karena belum sinkronnya Pemko Banda Aceh dengan Pemerintahan Provinsi yang masih setengah hari dalam penerapan syariat Islam. Tapi Pemko Banda Aceh komitmen bergandengan tangan dengan MPU Banda Aceh untuk mensukseskan penerapan syariat Islam di Kota Banda Aceh.  Pihaknya, kata Illiza, berkomitmen mensukseskan penerapan syariat Islam di Kota Banda Aceh.

Illiza mengaku, kekuatannya dalam memperkuat penegakan syariat Islam di Banda Aceh selama ini adalah karena ada suami yang sangat mendukung di belakang. Ia mengkisahkan beberapa cerita begitu kuatnya dukungan suaminya terhadapnya dalam menerapkan syariat Islam di Banda Aceh. (teuku zulkhairi/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 2,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Kemenangan AKP Turki Dirayakan di Banda Aceh