Home / Berita / Profil / Alfath, Anak yang Divonis Dokter “Idiot” Ternyata Menjadi Penghafal Al-Quran

Alfath, Anak yang Divonis Dokter “Idiot” Ternyata Menjadi Penghafal Al-Quran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Alfath bersama ibunya. (Foto: Dok. pribadi Alfath)
Alfath bersama ibunya. (Foto: Dok. pribadi Alfath)

dakwatuna.com Kisah seorang anak ini bisa jadi inspirasi untuk kita. Suatu ketika, ketika si anak masih dalam kandungan ibunya, si anak diperiksakan kondisinya ke dokter. Ternyata, di otak kecil si anak, terdapat tumor. Si anak yang masih belum keluar dari rahim ibunya ini, sudah divonis ini-itu oleh dokter. Kurang lebih, dokter mengatakan bahwa si anak akan menjadi bocah idiot, yang tidak berguna, malah justru menyusahkan orang tuanya sepanjang hayatnya. Bahkan, parahnya lagi, dokter menawarkan satu jalan pintas: aborsi.

Namun, di saat-saat seperti itu, apakah si ibu menerima saja opsi yang ditawarkan dokter itu; mengingat kondisi si anak – menurut dokter – tidak baik bila sampai lahir? Ternyata, orang tua si jabang bayi mengambil keputusan yang cukup mencengangkan, yaitu tetap melanjutkan kehamilan hingga lahirnya.

Dan alhamdulillah, si anak lahir, dan sejak itu, orang tuanya merawat dengan penuh kesabaran. Bahkan, sang ibu sampai harus pensiun dini dari kerjanya demi mengasuh anaknya itu.

Orang tuanya telah mendidik, merawat, dan mengajarkan banyak hal. Mulai dari berbicara, membaca cerita, hingga membaca Al-Qur’an.

Singkat cerita, di ulang tahun si anak yang ke-13, ia menyelesaikan hafalan Al-Qurannya. Apa yang menjadi motif si anak menyelesaikan hafalan Al-Qurannya? “Aku ingin memberi sebuah kebahagiaan besar untuk orang tuaku”, ujarnya.

Si anak yang dulu divonis ini-itu oleh dokter, kini sudah meraih banyak prestasi di bidang Al-Qur’an, baik nasional maupun internasional. Bermula dari keyakinan kuat orangtua si anak, bahwa dibalik ujian tersimpan berjuta karunia. Dan akhirnya, Allah lah yang menentukan nasib hamba-Nya, tergantung seberapa besar usaha hamba-Nya untuk mengubah nasibnya, dari yang nelangsa jadi bahagia. Dari yang sengsara jadi gembira. Dari pecundang menjadi pemenang. Dari tak bernilai menjadi tak ternilai. Benarlah firman Allah:

إن الله ﻻ يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada dalam suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri” (QS 13: 11).

Apa hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah nyata di atas? Banyak, di antaranya ketabahan dan kesabaran seorang ibu yang luar biasa, meski jabang bayinya sudah divonis idiot oleh dokter, ia tidak putus asa untuk tetap merawat dan mendidiknya hingga dewasa, hingga akhirnya berbuah manis, akhirnya bocah idiot tadi tumbuh menjadi anak yang cerdas bahkan telah menghafalkan Al-Qur’an secara sempurna di umur 13 tahun (umurnya kini 17 tahun). Hebatnya lagi ia telah memenangkan kejuaraan menghafal Al-Qur’an beserta tafsirnya dalam bahasa Arab di tingkat nasional dan internasional.

Inilah buah dari ketabahan, kesabaran dan usaha maksimal. Allah itu Maha Adil dan Maha Bijaksana. Jadi, jangan menyerah dan jangan pernah putus asa, sebelum bergerak maju. Doa, usaha, tawakkal! Semangat!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (83 votes, average: 9,58 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.
  • ridwan

    maaf ini kalo bisa judulnya jgn pake kata idiot,sepertinya terlalu kasar

  • Rizal Saamar

    iya…betull…tolong ganti bahasanya yg lbih halus…takut yg punya anak seperti itu makin minder kl udah besar…kl masih kcil mungkin bisa diajarn seperti itu…

    • Ike Wardhana Efroza

      idiot itu memang sebenarnya istilah khusus di dunia medis..berhubung idiot sudah melebar maknanya krn sering dipakai utk “menghardik” orang, jadi kesannya seolah2 tidak sopan. Nah, maksud idiot di sini lebih kepada istilah asli tadi yg mmg disampaikan oleh dokter. IMHO :)

      • Irhamni Rofiun

        Ini komentar Ibunda Alfath:

        Insya Allah komen buruk tidak akan membuat kami terpuruk, begitupun komen baik tidak akan membuat kami takabur.

        Alfath memang lahir dengan tumor di belakang otak kecilnya. Waktu lahir diameter kepalanya 11cm dan diameter tumornya 4cm, sampai sekarang tumor tersebut masih di kepalanya.

        Alhamdulillah fiibarokatil Quran prediksi-prediksi buruk dokter tidak terbukti, prediksinya adalah kecacatan mental dan kelumpuhan, bahkan dokter memprediksi rongga hidungnya pun hanya satu. Dan kami (umi dan abi) disuruh main saja ke bagian Tumbuh Kembang supaya tidak kaget dengan kondisi anak kami nanti.

        Pernah sebelumnya dokter mengatakan kalau saja kandungannya (waktu itu sudah sekitar 30 pekan) masih di bawah 5 bulan maka baiknya disedot saja (aborsi maksudnya), karena kecacatan di otak efeknya sangat besar terhadap kualitas hidupnya kelak kata dokter demikian, dokter pun berharap dengan kemajuan teknologi sekarang anak-anak yang lahir bisa dipilih yang berpeluang kualitas hidupnya baik.

        Apapun kata dokter ahli ini, kami (umi dan abi) meyakini ketetapan Allah atas diri kami adalah yang terbaik dan kebaikan buat kami adalah ketaka dia (Alfath) menjadi jalan kami (umi dan abi) lebih kenal dan lebih dekat dengan Allah. Dia (Alfath) menjadi jalan kami (umi dan abi) menuju Syurga-Nya. Aamiin

        [Tambahan]

        Alfath pernah test IQ, IQ umumnya 139, IQ penalarannya 150. Subhanallah. Berkah Al-Qur’an.

        • captainc

          alhamdulillah, otaknya tidak terkena apa2.

  • Tra Mudya

    Dari wajahnya terlihat bukan seperti anak idiot dan tidak semua dokter akan menawarkan solusi seperti itu apalagi dokternya rajin ngaji. Sebaiknya tidak terlalu didramatisir dan digeneralisir. Bravo buat para penghapal Al-qur’an anda dan orang tua anda luar biasa.

  • heinrich cheng ho

    mohon maaf, rasanya tidak pantas redaksi menggunakan kata idiot dalam judul berita ini,apalagi untuk melabeli seorang penghapal quran.

    coba misalnya pake judul “divonis tumor otak, masih bisa jadi penghapal quran”

    bahasa adalah bagian dari akhlak, semoga dakwatuna senantiasa berusaha menjadi panutan umat.

    dan mengapa tidak melengkapi data sepantasnya? disitu disebutkan …Hebatnya lagi ia telah memenangkan kejuaraan menghafal Al-Qur’an beserta tafsirnya dalam bahasa Arab di tingkat nasional dan internasional….. kapan dan dimana kejuaraan itu?
    .
    jazakumullah.

  • Ati Oktavia

    Subhanallah , akhirnya ALLAH lah yg menentukan !

  • elwita

    maaf mungkin judul bisa diganti kata “idiot” menjadi “sindrom down” mungkin lebih halus dan setahu saya istilah medisnya adalah sindrom down atau trisomi 21. Dan kalimat kalau dokter memvonis bocah “idiot” tidak berguna dan menysahkan orang tua agaknya terlalu didramatisir. maaf dan terimakasih :)

    • captainc

      mungkin masing2 ada karakteristiknya, kalau bocah idiot atau down sindrom memang nanti akan selalu bergantung pada orangtuanya, bahkan untuk ke WC

  • rudy agustiansyah

    Itulah kalau Allah SWT menghandaki, maka jadilah?

  • Bang Sukarman Harianto

    Allah maha besar ini adalah Kehendak Nya

  • Ryan

    Masi aga bingung dengan kronologisnya:

    Calon bayi masih 5bulan diperiksa dokter, dengan cara apa ya, tentunya melihat si anak umurnya kira2 15tahunan, 15tahun yg lalu diperiksa di RUmah sakitkah ? dengan cara apa dokter mengetahui ada tumor pada calon bayi yang baru 5 bulan

    Soalnya seinget saya periksa kehamilan istri, pake USG hanya keliatan burem2 samar2.

    • captainc

      iya, jangan2 si penulis juga cuma denger2 rumor.

  • Rizal Hari Wibowo

    dokter sekarang banyak yg gak pinter hanya ngejar target pendapatan. Maka jgn percaya sama diagnosa satu org dokter lebih baik pindah2 dokter agar didapat diagnosa yg mendekati. Kembali lagi semua kehendak ada di Kuasa Allah SWT

  • cepi

    alhamdulillah….afwan ustadz….kalo ditambah profil si anak dengan nama/ alamat jelas/ dsb….lebih cucok….jazakallah

  • Abshan Shihab AbBedulloh

    syukurlah…

  • Mike Fitria Adam

    Saya suka sama inti dari tulisannya..tp bahasany sangat memprovokasi dan menyudutkan profesi dokter..afwan ustadz jika anda memang org yg paham agama sebaiknya tulisannya jangan memprovokasi.ingin mengangkat sebuah topik tapi meyudutkan yg lain…sangat tidak bijaksana…

Lihat Juga

Pasar Merespons Positif Aksi Damai Bela Al-Quran 4 November