Home / Pemuda / Cerpen / Kusebut Dia, Pemuda Itu…

Kusebut Dia, Pemuda Itu…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Sore yang cerah. Lantunan doa kupanjatkan untuk ayahanda yang telah Allah panggil 8 tahun yang lalu. Memori kenangan pun kembali terlintas ketika ku pejamkan mata sambil mengaminkan doa yang dibacakan oleh Raihana, hingga tak terasa air mata pun menetes tanpa permisi.

Setelah selesai, ku bersihkan makam yang menjadi tempat peristirahatan terakhir, hingga ku terbayang nanti aku pun akan seperti ini, diam dalam tanah. Segera ku berdiri hendak melangkahkan kaki meninggalkan makam. Kulihat sekeliling pun banyak orang yang melakukan hal yang sama, mendoakan keluarga mereka yang telah tiada. Namun ada yang berbeda di antara banyaknya orang. Kulihat seorang pemuda yang menarik penglihatanku. Dia khusyuk dalam doa.

Sambil berjalan pelan, aku masih memperhatikan pemuda itu. Tangannya yang mengusap-usap mata seakan menghapus air mata kesedihan. Batu nisan pun dielus-elusnya sebagai tanda sayang, entah kenapa aku pun merasa sedang ada yang mengusap-usap kepalaku. “Santun sekali. Pasti sangat menyayangi orang yang telah tiada itu” gumamku dalam hati. Mungkin saja dia mendoakan ibu atau bapaknya, pikirku. Lalu kulihat pemuda itu segera pergi membawa motornya.

Sesaat setelah pemuda itu pergi, ku dekati makam dan ku lihat batu nisan itu bertuliskan Latifah Azkiyah. “Nama perempuan, mungkin ibunya. Beruntung sekali ibu Latifah punya anak sesantun ini. Andaikan aku punya suami seperti orang itu.” Batinku. Aku hanya mampu tersenyum sambil mengelus dada dan beristighfar. Tak lama, Raihana pun mendekati makam itu dan melakukan hal yang tadi dia lakukan pada makam ayah.

“Dek, kamu kenal dengan ibu Latifah ini? Kamu kenal pemuda tadi?” tanyaku penasaran. Pertanyaanku hanya dia jawab dengan tangisan. Aku pun tak berani menanyakan lagi walaupun rasa penasaran masih menggelayut dalam hati.

***

Sore ini begitu sejuk. Angin yang berhembus lembut mengibarkan jilbabku. Kurasakan nikmatnya iman yang aku pegang teguh sekarang. Sudah dua tahun aku hijrah ke dunia yang baru, dunia yang membawaku pada indahnya Islam. Ya, aku memang terlahir menjadi seorang muslimah, tapi entahlah aku merasa tidak menampakkan perilaku sebagai orang yang beragama Islam sepenuhnya. Tidak menjaga perilaku, aurat yang tidak tertutup rapat, pacaran hingga hampir menikah siri karena hubunganku dengan seseorang di tentang oleh keluarganya. Mungkin karena latar belakangku yang tidak punya orang tua, tidak sekolah tinggi, atau mungkin karena tidak sederajat dengan keluarganya. Entahlah. Akan tetapi, sekarang aku hanya bisa bersyukur. Justru kejadian itulah yang menjadi titik balik kehidupanku. Sekarang, aku berproses menjadi pribadi yang lebih baik.

Putusnya hubunganku dengan sosok idaman itu cukup membuatku sulit membuka hati kembali untuk orang lain. Perasaan takut akan mengalami hal serupa pun masih saja menghantui, sehingga aku selalu saja menolak jika ada teman yang mau memperkenalkan pemuda kepadaku atau pemudanya langsung yang memintaku. Aku masih berharap pada pemuda yang dulu hatinya Allah titipkan padaku, yang sekarang entah di mana karena orang tuanya memisahkan. Aku selalu berdoa, semoga saja hubungan kami segera direstui dan dia menjadi imamku. Akan sangat bahagia jika itu berwujud nyata. Tapi apakah aku menutup hati bagi pemuda lain? Aku tidak tahu, aku hanya ingin dia yang memilikiku. Ah entahlah, apa jadinya aku jika terus begitu. Mungkin perawan tua akan melekat dalam diri ini.

“Mba, aku pulang ya. Sudah sore nih” ungkapnya ketika selesai mendoakan orang yang mungkin ibu dari pemuda itu. Walaupun Raihana adikku, tapi kami tinggal terpisah. Raihana yang masih ngampus memaksanya untuk berdomisili di sekitar kampus. Biar lebih efektif katanya.

Aku sangat menyayangi adikku. Segalanya akan kuberikan untuknya. Melalui Raihana lah hidayah itu datang. Dengan caranya yang lembut, dia mengingatkanku. Aktivitasnya menjadi seorang aktivis dakwah di kampus tidak serta merta mendakwahiku dengan keras. Dia tidak pernah menyuruhku macam-macam. Dia hanya mencontohkan dengan tingkahnya dan sesekali mendandaniku sambil berkata “Kakak lebih cantik kalau pakaiannya tidak terlalu ketat.” Diiringi dengan senyumnya yang manis.

Raihana seperti designer pribadi yang mengomentari baju yang akan aku kenakan bahkan memilihkan baju mana yang pantas untukku walaupun tidak langsung dia menyodorkan baju-baju panjangnya. “Bertahap ya, Kak.” Jelasnya. Akupun malah merasa nyaman dan sangat merasa diperhatikan, terlebih setelah kejadian yang menimpaku setahun yang lalu saat ditinggalkan pemuda yang aku harap jadi imamku.

***

“Kak, aku mau dikenalkan.” Celetuknya.

“Waah, Alhamdulillah. Trus?” Tanyaku penasaran.

“Tapi aku menolaknya, Kak.” Dengan tertunduk dia menjawab.

“Kenapa, dek?” Kucoba angkat kepalanya.

“Aku ga mau Kakak sedih.” Air matanya mulai mengalir.

“Kakak ikhlas dek, jika kamu mau menikah lebih dulu.” Terangku.

Aku hanya mampu menghela nafas. Usiaku dan Raihana terpaut 7 tahun, mungkin itu yang menyebabkan dia tidak ingin mendahuluiku menikah.

“Dek, pernikahan itu bukan ajang lomba, bukan ajang lelang. Semua sudah ada takdirnya masing-masing.” Aku mulai menenangkannya.

Seringnya aku mengikuti kajian ustadz Yusuf Mansur di TV setidaknya membuatku sedikit mengerti tentang agama selain bacaan buku dan searching di internet.

“Kakak tidak pernah khawatirkan masalah jodoh, Dek. Terlebih kakak ini masih harus banyak belajar agama.” Sambungku.

“Adek ga mau…” Kalimatnya terhenti diganti dengan isakan tangis.

“Adek hanya punya kakak. Adek ingin sekali bahagiakan kakak setelah pengorbanan kakak selama ini” Lanjutnya sambil sesunggukan.

Selepas ayah dan ibu meninggal, aku memang menjadi pengganti orangtua bagi Raihana. Aku menjadi tulang punggung keluarga. Bangku kuliahpun hanya aku jalani selama 5 semester karena biaya yang tak sanggup aku penuhi. Akhirnya aku bekerja serabutan, kerjakan tugas teman, kerja di toko bahkan pelayan rumah makan untuk menyambung hidup. Sedangkan Raihana saat itu masih duduk di bangku SMP. Tak mungkin aku membagi beban pada adik kecilku.

Sulitnya mencari pekerjaan dengan ijazah SMA membuatku banyak bertanya tentang pekerjaan ke beberapa teman. Hingga ada seorang teman yang membantuku mencarikan pekerjaan. Atas kebaikannya itulah akhirnya aku bekerja sebagai sekretaris di yayasan milik keluarga pemuda yang masih duduk di bangku kuliah itu. Mungkin jika aku masih melanjutkan kuliah, aku satu angkatan dan satu almamater dengannya.

Seringnya bertemu dan intensnya komunikasi menjadikan kami berpredikat sepasang kekasih. Hubungan yang dijalin 5 tahun pun berakhir begitu saja karena orangtua pemuda tidak merestui. Menikah siri bahkan kawin lari pun sempat jadi pilihan, tapi bayangan Raihana selalu saja muncul ketika niatan itu akan kami lakukan. Aku tak mungkin tega meninggalkan Raihana seorang diri.

***

Acara perkenalan sudah semakin dekat, Raihana yang akhirnya memutuskan untuk berproses kini siap akan melakukan proses perkenalan. Tapi entah mengapa, jantungku malah berdegup dengan kencang seolah cemburu dengan Raihana. Hari perkenalan pun tiba. Aku yang menjadi keluarga terdekatnya ikut menemani proses yang diistilahkan dengan ta’aruf. Ditemani pula seorang ibu yang Raihana bilang itu adalah ustadzahnya serta seorang Bapak sekaligus suami ustadzah dan tentu saja seorang pemuda yang akan dikenalkan dengan Raihana.

Aku mengamati pemuda yang akan dikenalkan pada Raihana. Serasa tidak asing. Betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa pemuda yang akan dikenalkan pada Raihana adalah pemuda yang pernah aku lihat beberapa bulan yang lalu saat di pemakaman. Ya pemuda itu. Ternyata Raihana lah yang beruntung mendapatkannya. Jodoh memang sulit ditebak. Tapi dia ditemani oleh kedua orangtua, “Lalu ibu Latifah itu bukan ibunya kah?” Tanyaku dalam hati. Sebelum kuberanikan bertanya, ternyata pemuda itu mulai memperkenalkan diri dan menceritakan masa lalunya bahwa dia sudah pernah menikah. Tidak hanya aku yang terkejut, kedua orangtua lelaki itu, ustadz dan ustadzah pun terkejut, tapi tidak dengan Raihana.

“Dek, kamu sudah tahu bahwa pemuda ini sudah menikah?”, tanyaku sambil menampakkan ekspresi kaget. Raihana hanya terdiam dan meneteskan air mata, entah apa arti dari air mata itu. Aku tak sanggup menanyakan dan menambah luka hatinya. Ta’aruf pun langsung dilanjut dengan lamaran sekaligus penentuan tanggal. Lebih cepat lebih baik menjadi alasan dipercepatnya proses. Aku hanya mampu menyaksikan tanpa bisa bertanya apa yang sebenarnya terjadi, hingga Raihana pun tak pernah menceritakannya padaku, pada kakaknya sendiri.

***

“Kak, panggilnya dengan sesunggukan. “Kakak tidak marah, kan? Tanyanya sambil menatap wajahku.

“Kakak tidak punya alasan untuk marah, adikku sayang. Kakak malah senang, akan ada orang yang lebih bisa melindungi dan menjagamu.” Hiburku untuk menenangkannya.

“Aku sayang sama Kakak… Aku sayang Kakak…” Ungkapnya dengan berlinang air mata.

“Apakah ini juga takdir, Kak. Kini aku akan dipisahkan lagi dengan kakak.” Sambungnya.

“Takdir Allah selalu indah, Dek. Kita pasti masih bisa bertemu” nanti ajak suamimu datang di rumah ini ya.” Pintaku.

***

“Kakak akan mendampingiku, kan?” tanyanya sesaat sebelum melangkahkan kaki ke dalam masjid.

“Iya, dek. Kakak akan selalu mendampingimu. Hayo segera masuk ke dalam. Penghulunya sudah menunggu.” Jawabku sambil mengingatkan. Ijab Kabul pun terlafazhkan. Segala sesuatu yang diharamkan, terhalalkan sudah. Dua insan yang telah disaksikan para malaikat pun kini berkunjung ke rumahku.

“Kak, aku tunaikan janjiku untuk membawa suamiku ke sini.” Raihana mulai terisak.

“Ini juga takdir-Nya kan, Kak? Suamiku sekarang, dulunya….” Raihana tak mampu meneruskan kalimatnya. Hanya linangan air mata yang terus menghiasi mata indahnya.

Aku pun hanya mematung. Lintasan dialog memori masa lalu mulai memenuhi pikiran.

“Kak, orangtua Mas Fikri tidak tahu kalau mas dan kakak sudah menikah?”

“Iya tidak tahu, semoga nanti mereka bisa menerima kakak, terlebih jika dede bayinya sudah lahir”

Aku hanya mampu memegang kepala yang tiba-tiba sakit. Memori masa lalu pun terus saja berdesakan keluar, memaksaku untuk mengingat masa lalu.

“Kakaaaakk jangan tinggalkan adeeekk… kakak bangun, Kak”

“Mas, kakak kenapa tidak bergerak? Kenapa badannya dingin? Kakak terpeleset di mana? Kakak, jangan tinggalkan adek.”

Fikri, suami Raihana tidak mampu berkata, ia hanya mengelus-elus batu nisan yang ada dihadapannya, Latifah Azkiya binti Rahman, istrinya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lastri Azzahra
Pengajar di Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Angkatan 4.
  • Abdul Rahman Najamuddin

    Baca sekilas, ga mengerti… Tapi setelah dibaca 2 kali… Tragis sekali ceritanya…

  • Euis Namasih

    setelah benar2 fokus mengikuti alur ceritanya, sungguh membuat merinding…
    menitikkan air mata..

Lihat Juga

Ilustrasi. (persisalamin.com)

Dari Pemuda untuk Kejayaan Peradaban

Organization