Home / Narasi Islam / Wanita / Ketika Akhwat Rindu Menikah, So?

Ketika Akhwat Rindu Menikah, So?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Danang Kawantoro)
Ilustrasi (Danang Kawantoro)

dakwatuna.com Akhir-akhir ini cukup sering muncul acara seminar dengan tajuk pra-nikah di kampus-kampus, bahkan terkadang dibuat beberapa sesi. Alhamdulillah, dari sederet acara-acara yang digelar dengan topik serupa tak pernah sepi peserta. Beda ceritanya dengan kajian-kajian yang membahas tentang Aqidah, Fiqih, Tafsir, Hadits dan kajian tentang pemahaman dasar lainnya, menjadi tak cukup laku. Tentu kajian dengan tema tentang persiapan menikah menjadi pilihan yang paling banyak diambil untuk dihelat oleh beberapa lembaga dakwah kampus dalam men-syiarkan Islam dan menggaet massa minimal sekali pada satu periode kepengurusan. Secara logis, hal ini diterima karena penyelenggara setidaknya dapat melakukan suatu misi yaitu mencegah semakin banyaknya fenomena pacaran yang belum halal sebelum akad terlafal. Kejadian ini juga akhirnya menimbulkan kegalauan-kegalauan tersendiri bagi para peserta yang awalnya belum siap menikah menjadi terpacu meningkatkan keinginan untuk segera menikah. Entah mengapa, biasanya peserta dari acara semacam ini kebanyakan adalah akhwat.

Maka tak heran jika berada di kerumunan banyak akhwat, salah satu tema pembicaraan yang biasanya ada adalah tentang pernikahan. Atau ini memang naluriah bawaan seorang wanita berbicara tentang menikah? Wallahu a’lam. Banyak hal yang kemudian menjadi satu topik hangat, entah dari kriteria, visi keluarga, ataupun rencana berdakwah bersama. Luar biasa indah jika setiap pembicaraan itu berada dalam rangka menciptakan kecintaan kepada Allah.

Suatu ketika pada sebuah kajian kemuslimahan Jumat yang dilaksanakan lembaga dakwah fakultas yang saya ikuti, seorang adik kelas sebagai MC menyampaikan muqaddimah tentang materi kemuslimahan. Sebuah frasa yang memang sudah sangat sering ia ulang-ulang, yaitu tentang 3 peran besar seorang Muslimah, antara lain mar’atus shalihah (wanita yang shalihah) sebagai pribadi, zaujatu muthi’ah (istri yang taat dan penyayang) sebagai seorang istri, dan ummu madrasah (ibu pendidik) sebagai seorang ibu. Karena pembicara pada hari itu berhalangan untuk hadir, maka seketika acara diubah menjadi sesi sharing. Beberapa orang berkesempatan menyampaikan pengetahuan dan pesan untuk dibagi kepada sesama Muslimah, begitupun dengan saya. Pada kesempatan itu saya mencoba bertanya kepada para peserta yang hadir, “kalau teman-teman sedang berkumpul sering membicarakan tentang pernikahan?” serentak mereka tertawa dan ada seorang yang menyahut “iyaaa…”. Nah ternyata benar, bahkan muslimah-muslimah yang ada di sekitar kita pun senang membicarakan tentang pernikahan, seolah sudah sangat rindu akan ibadah separuh agama itu. Di mana Allah janjikan bahwa setiap sentuhan adalah ibadah yang bernilai pahala.

Maka wajar saja…

Dengan demikian, ketika bersemangat membicarakan tentang pernikahan, ketika bersemangat merenda harap dalam visi yang bersamaan sudahkah sepadan semangat kita dalam mempersiapkan?

Sudah berapa banyak kalam Allah yang dihafal dan resapi lafal?

Sudah berapakah buku yang diganyang setiap simpang?

Sudah berapa banyak lelah yang diseka tanpa sesal?

Sudah berapa sigap hati yang disiapkan jika terjadi beda sikap?

Sudah berapa waktu yang tertunggu untuk saling mengadu?

Sudah berapa waktu yang siap digadai mencoba resep baru?

Seberapa iman mengikat untuk saling menegakkan doa dengan khidmat?

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”

Hanyalah Muslimah shalihah yang mampu menyemai tunas-tunas akhlaq kebaikan, ialah yang menyalakan sinar harapan, dan ialah yang menyucikan keindahan. Rasulullah bersabda, “Dunia adalah perhiasan dan perhiasan terbaik di dunia ini adalah wanita yang shalihah”. (HR. An Nasa’i dan Ahmad)

Ialah shalihah, yang menjadi perhiasan sekaligus sumber kebahagiaan, yang melahirkan keanggunan pandang, dan yang menyuguhkan pesona keikhlasan. Rasulullah bersabda, “Ada empat kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman” (HR. Ahmad)

Dan sungguh ialah Shalihah yang bisa menghujam dunia, ialah yang menjunjung derajat kemuliaan, menembus batas agung jalan surga maha mulia. Rasulullah bersabda, “Ketika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan mematuhi suaminya, maka dia akan masuk surga dari beberapa pintu yang diinginkan.” (HR. Al – Bukhari, Al- Muwaththa’, dan Musnad Imam Ahmad)

Maka akhwat, bersabar dan bersiaplah jika telah datang rindu untuk menikah. Menjadilah muslimah yang berbeda, dan rayakan kemerdekaan jiwa bersama tutur kalam-Nya.

Karena sungguh akan tiba masa, kita memangku amanah beberapa generasi pembawa panji agama. Agama yang Allah janjikan kemenangan lagi nantinya. Semoga kita di antara pasukan yang menyiapkannya. Aamiin…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (19 votes, average: 9,11 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Suciati Zen Nur Hidayati
Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, sedang aktif di organisasi Forum Ukhuwah dan Studi Islam Psikologi UI. Mencintai Psikologi, Pendidikan dan Pembinaan.
  • peri

    asslamualikum..,,,sya sngat tertarik pda artikel yg d buat.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Pejuang Seberang