Home / Berita / Internasional / Afrika / Kondisi Mesir Setiap Saat Bisa Meledak

Kondisi Mesir Setiap Saat Bisa Meledak

Gambaran suasana keamanan di Tahrir, Kairo (inet)
Gambaran suasana keamanan di Tahrir, Kairo (inet)

dakwatuna.com – Kairo. Kondisi Mesir setiap saat bisa meledak. Banyak sekali hal yang bisa menjadi pemantik ledakan tersebut. Erick Trager dari Washington Institute menulis sebuah artikel tentang kondisi keamanan di Mesir saat ini. Berikut kutipan artikel tersebut seperti dimuat dalam situs elmarsad, Kamis (9/1/2014).

Sejak terjadinya kudeta militer 3 Juli tahun silam, perpecahan antar kelompok dan kekuatan politik di Mesir semakin sulit dipulihkan. Para perwira militer yang terlibat dalam kudeta sedang sibuk-sibuknya bertempur dalam sebuah perang eksistensi melawan Ikhwanul Muslimin. Aksi terbaru mereka adalah memasukkan Ikhwanul Muslimin dalam daftar organisasi teroris. Hal ini untuk memastikan Ikhwanul Muslimin tidak kembali lagi memegang pemerintahan di Mesir.

Di waktu yang sama, kelompok-kelompok jihad di dataran Sinai mengambil kesempatan dijatuhkannya Presiden Mursi, dan menjadikannya alasan untuk meningkatkan aksi kekerasan.

Barisan internal pendukung kudeta juga mengalami hal yang tak jauh berbeda. Hubungan penguasa militer dan kelompok kiri sudah pecah. Para aktivis muda kiri yang mati-matian mendukung pemakzulan Presiden Mursi kini melakukan aksi demonstrasi menentang pemerintah militer. Banyak elit kelompok-kelompok tersebut yang ditangkap, ditahan dan diadili.

Secara teknis, proses transisi memang terus berjalan, apalagi dalam waktu dekat (14-15 Januari mendatang) akan dilaksanakan referendum konstitusi yang baru. Namun saat ini Mesir tak ubahnya sekotak korek api, bisa saja terbakar jika ada percikan api. Kalau itu terjadi, maka bubarlah semua proses politik. Yang terjadi adalah kondisi chaos. Apa hal-hal yang bisa menjadi percikan api?

Pertama, pembunuhan tokoh politik. Tokoh politik yang paling potensial menjadi korbannya adalah As-Sisi. Banyak alasan yang “membolehkannya” menjadi korban. As-Sisi adalah tokoh sentral dalam penggulingan Presiden Mursi. As-Sisi jugalah yang meminta rakyat Mesir memberinya mandat untuk menghabisi demonstran. Saat ini cukup santer dugaan telah terjadinya upaya pembunuhan As-Sisi. Dugaan itu didasarkan pada alasan tidak munculnya As-Sisi dalam beberapa even kenegaraaan penting selama beberapa bulan.

Jika ada kepastian As-Sisi terbunuh, maka bisa terjadi beberapa hal. Militer akan mendapatkan alasan untuk semakin memukul habis Ikhwanul Muslimin. Kasusnya akan sama dengan peristiwa 1954 saat terjadinya upaya pembunuhan Gamal Abdul Naser. Terlepas dari anggapan sebagian sejarawan bahwa peristiwa itu adalah skenario militer, selama 20 tahun rejim militer melakukan aksi penangkapan, penyiksaan, dan penggantungan para anggota Ikhwanul Muslimin. Akibat berikutnya, jika As-Sisi terbunuh maka akan terjadi persaingan sengit antar elit internal militer untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Persaingan tersebut bisa melemahkan militer dan tentunya akan menguatkan terjadi aksi kekerasan dari beberapa kelompok politik.

Kedua, hal yang bisa menjadi pemantik kebakaran di Mesir adalah terjadinya unjuk rasa di tempat pemungutan suara dalam proses referendum konstitusi yang baru. Apalagi sejarah Mesir tidak pernah mengenal hasil “negatif/tidak disetujui” dalam sebuah referendum. Padahal Ikhwanul Muslimin dan Koalisi Nasional sejak jauh hari sudah mengumumkan akan menggagalkan referendum tersebut. Dua hal ini akan sangat memungkinkan terjadinya kerusuhan dalam proses referendum.

Kalau referendum gagal atau diundur, maka kelompok-kelompok penentang kudeta semakin yakin dengan lemahnya penguasa. Hal ini akan semakin menambah semangat mereka dalam melakukan perlawanan dan penentangan.

Ketiga, hal yang bisa membakar kondisi Mesir adalah terjadinya aksi teror yang besar. Aksi teror banyak terjadi di dataran Sinai. Apalagi di sana ada Terusan Suez tempat berlalunya kapal-kapal dagang internasional. Kelompok jihad di Sinai pernah meluncurkan roket ke sebuah kapal berbendera Panama, lalu militer membalasnya dengan operasi besar-besaran memberantas mereka. Namun akhirnya militer mengakui bahwa memerangi kelompok jihad di Sinai tidak semudah mereka kira. Bagaimana jadinya jika yang menjadi objek aksi mereka adalah daerah perkotaan, seperti Kairo, bukan daerah gurun seperti di Sinai?

Memang tiga skenario di atas kecil kemungkinan terjadinya. Tapi, ala kulli hal, kondisi yang berkemelut saat ini akan terus terjadi dan bahkan semakin parah. Jika semakin parah, kebakaran itu semakin mungkin terjadi. (msa/dakwatuna/elmarsad)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Kondisi Umat Islam di Era Globalisasi