Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bersyukur Sekarang Juga

Bersyukur Sekarang Juga

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: wallives.com)
Ilustrasi. (Foto: wallives.com)

dakwatuna.comSeorang mahasiswi cantik dan cerdas baru saja melalui tahun akhir perkuliahannya, beberapa bulan berikutnya ia menanti wisuda. “Sister, Alhamdulillah, sebentar lagi aku lulus ujian, mau bertunangan dan mencari pekerjaan. Kalau dapat ‘job yang itu’ maka bersyukur banget diriku…” celotehnya. Kami sahabat-sahabat dekatnya mendoakan kesuksesan itu dan berharap tercapai semua impiannya, namun penetapan rencana adalah Allah.

Tak disangka, wisudanya yang sempat tertunda pun harus bertambah prahara, sang tunangan dipanggil Allah, tiba-tiba telah berada di alam barzakh. Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun…

Sister kita ini bertambah pilu melihat sohib lainnya yang telah berumah tangga dan menggendong putra-putri. “Enak sekali menikah dan punya anak-anak…” desisnya, mengurangi lafazh syukur sebagaimana hal yang patut dilakukan. Lebih enak jika menambahkan “Tetap syukur Alhamdulillah bahwa saya bisa punya kesempatan lebih banyak belajar dari keluarga saudari-saudariku untuk persiapan rumah tangga kelak…” Karena apa pun kejadian yang dialami, semuanya memang hal terbaik buat pribadi kita.

Bukan rahasia lagi, banyak sister yang telah mendidik buah hati (dengan jumlah kelahiran anak tiga, lima, enam orang atau lebih) menjadi tertunda ‘goal-goal’ pribadinya, urusan pendidikan formal, sosial, ekonomi dan meskipun cita-cita sederhana lainnya, dikesampingkan demi amanah penting yang bernama rumah tangga, ketaatan kepada Allah menuju cita sakinah bersama. Sungguh penting memanjatkan rasa syukur sekarang juga, jangan memberi kesempatan iblis memasuki relung hati kita di saat melihat ‘seolah banyak hal lebih nyaman’ dirasakan oleh sobat lainnya.

Suatu hari temanku bergumam, “Enak banget yah, dia kantornya dekat… bisa bolak-balik ke rumah, belanja juga dekat rumah, dan banyak dana belanja bulanan… sedangkan aku harus subuh bangun, buat cemilan, nitipin di kantin-kantin yang lumayan jauh supaya dapat sedikit laba demi tambahan belanja…” Padahal sisi teman yang diamati, juga berbisik dengan pasrah, “Enak sekali jadi dia, pintar membuat cemilan, bisa nitip menu di kantin-kantin, jadi banyak teman yang bertemu setiap hari, waktu luang pun banyak, bisa bermain sepuasnya dengan anak-anak usai mengurusi bisnis cemilannya… Sedangkan aku harus di depan komputer berjam-jam, cuti susah diambil-harus terjadwal, tak ada keluangan masa untuk memasak meskipun menu yang praktis, bahkan kala berjumpa permata hati—memeluk dengan tenaga lemah, hanya dengan sisa energi sejak pagi… namun harus tetap sabar dengan kondisi yang ada.” Wah, benarlah adanya ungkapan bahwa ‘bintang lain terlihat lebih terang, rumput tetangga tampak lebih hijau’, rasa syukur lebih mudah kita ucapkan dalam kosa kata, sering tanpa kita sadari perbuatan diri bukanlah praktek mensyukuri nikmat karunia-Nya.

Hal itu terjadi pada dua orang teman, mereka mengundurkan diri dari kursi ‘pekerjaan empuk’ yang digaji oleh dana rakyat. Bukan karena kebetulan semata, mereka menyadari bahwa jika pagi datang dan pergi setelah menampangkan tanda kehadiran, kemudian datang di jam ‘akan pulang kerja’ untuk menampangkan tanda kehadiran pula, terasa hati telah menipu jiwa sendiri. Meskipun keluar di tengah hari untuk tugas mulia semisal berceramah agama atau proyek kebaikan lain sebagai amal diri, efeknya besar, bahwa tugas-tugas di dalam kantornya dengan mudah ‘dilelang-lelang’ untuk membully  beberapa pegawai yang lebih rajin, atau dikhususkan buat pegawai yang ‘doyan menerima tambahan pelicin’. Na’udzubillahiminzaliik…

Bagi kedua sobat ini, mengundurkan diri tersebut adalah bentuk syukur nikmat kepada-Nya, sebab mereka masih dilimpahi kesehatan, rezeki iman dan ilmu, bahkan memiliki kesempatan luas dalam memilih pekerjaan lainnya, yang jauh lebih berkah, insya Allah selamat di dunia sampai akhirat.

Sahabatku pernah berujar, “Kita masih terbelakang jika masih membandingkan jalan hidup kita dengan orang lain. Si X punya ragam keahlian yang dikhususkan oleh-Nya untuk kuat berada di jalan pilihannya, begitupun si Y, dan diri kita sendiri, semua tidak sama….” Sobatku yang memiliki beberapa putra dan putri, yang salah satunya harus di-terapi khusus karena kelainan tulang sejak lahir, ia tidak pernah mengucapkan ‘syukur kalau bisa ini anak segera sembuh…’ (Sebagaimana kebiasaan sobat lain yang sering kudengar jika sedang ‘jungkir balik merawat anak yang sedang sakit). Beliau malah berkata, “Semoga saya tidak lupa untuk bersyukur, dear… Berapa banyak sahabat kita yang belum bisa menimang anak, bahkan yang belum menikah di usia kepala empat, masa’ saya maunya buru-buru sembuh saja, padahal masih sekecil ini ujianku…?!” Masya Allah, ‘menonjok’ sekali kata-katanya.

Sering kali kita berbisik, bahkan menjerit dalam doa, sadar atau pun tidak, kita katakan, “Ya Allah! Tolong cepatlah selesai ini problemku, kalau sudah selesai masalah ini, maka aku bisa tenang, ya Allah, bisa lebih fokus beribadah kepada-Mu!” lantas ketika memang kesulitan dan permasalahan itu berlalu, kita ucapkan hamdalah, lega… Namun belum tentu kita kian menjaga ibadah dengan ‘fokus’ seperti janji kepada-Nya yang telah diucapkan. Ah, memang kita punya penyakit lupa dan lalai dalam bersyukur.

Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah berdoa.”(HR. Ath-Thabrani) Ketika kita merenungi segala keberuntungan yang kita miliki, maka ‘double point’ kita dapatkan, yaitu tanda bahwa kita bersyukur atas nikmat karunia-Nya, dan tidak merugikan orang lain. Sebab kenyataannya semua makhluk di bumi ini diberikan-Nya permasalahan, setiap pagi dan petang, supaya kita belajar dan terus belajar. Jadi buat apa kita ‘omeli’ segala prahara dan problema ini, jauh lebih nyaman jika kita ‘berteman’ dengan masalah, bersyukur dapat menghadapi dan melaluinya dengan baik.

Ketika bersyukur, otomatis teman sejati jiwa hadir, yaitu kesabaran yang berbuah manis, Rasulullah SAW berpesan yang maknanya, “Barang siapa dikehendaki Allah kebaikan baginya, maka dia diuji (dicoba dengan satu musibah), Barang siapa yang memelihara kesopanan dirinya, Allah akan memelihara kesopanannya. Siapa yang merasa cukup, maka Allah akan mencukupinya, dan siapa yang melatih kesabaran, maka Allah akan menyabarkannya. Dan tiada seorang pun mendapat karunia (pemberian) Allah yang lebih baik dari kesabaran.” (HR. Bukhari)

Semanis ‘akhir ketenangan hidup’ bagi Sumaiyah binti Khabbat, betapa ketegaran dan kesabarannya dalam menghadapi siksaan telah menginspirasi semesta, tampak sekali sikap Sumaiyah binti Khabbat, ibu Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu adalah tanda syukur, tanda bakti dan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Konon Si Abu Jahal, panglima kezhaliman memakaikan baju besi pada Sumaiyah, kemudian menjemurnya di bawah terik panas matahari yang membakar. Walaupun begitu ia bersabar dan mengharap pahala, ia tidak berharap sesuatu kecuali Allah SWT dan Hari Akhir. Ketika sikap beliau ini mematahkan kesombongan Abu Jahal, dan mengobarkan kemarahan di hatinya, Abu Jahal melakukan apa yang dilakukan oleh para penguasa zhalim lagi jahat ketika tak mampu berbuat apa-apa. Karena ketegaran Sumaiyah radhiallahu ‘anha dalam agamanya, Abu Jahal mendekatinya, kemudian menusuknya dengan tombak hingga meninggal dunia.

Dalam kitab ‘Usdhu al-Ghabah’, al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Abu Jahal menusuk sumaiyah dengan tombak yang ada di tangannya pada kemaluannya hingga meninggal dunia. Beliau adalah orang yang mati syahid pertama dalam Islam, beliau dibunuh sebelum hijrah, dan beliau termasuk di antara orang yang memperlihatkan keislamannya secara terang-terangan pada awal datangnya Islam.”

Sungguh pelajaran bagi setiap mukminah sepanjang masa, kian banyak godaan buat kita untuk mendekati dosa, untuk bermaksiat, untuk menjadi kufur nikmat, semoga kita mampu meneladani ketegaran, keteguhan dan kesabaran Sumaiyah. Kita ‘hanya’ sakit raga, kita ‘hanya’ letih dan penat dengan segala tugas, kita ‘hanya’ menjalankan peran yang melekat, dengan karunia-Nya kita menjadi muslimah, menjadi pendamping bagi suami yang shalih, menjadi ibu dan guru bagi anak-anak kita, dan ini belum sebanding dengan dahsyatnya cobaan wanita-wanita mukminah di zaman Rasulullah SAW.

Semboyan indah dalam perkataan Abu Athiyah,

“Bersabarlah dalam kebenaran, engkau akan merasakan manisnya
Kesabaran demi kebenaran terkadang harus melalui kepedihan.”

Hadirnya syukur pasti beriring kesabaran, sedangkan bila jauh dari rasa syukur – muncullah dengki serta penyakit hati lainnya, yang menggerogoti jiwa raga, na’udzubillahi mindzaliik. Jangan tunda puji dan puja serta doa tanda syukur dan cinta kepada-Nya, duhai teman-teman yang dicintai Allah, semoga hari-harimu berada dalam keberkahan dan ridha-Nya, aamiin…

Wallahu a’lam bisshawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
bidadari_Azzam
Sri Yusriani, ananda dari bapak H. Muhammad Holdoun Syamsuri TM Moorsid dan ibunda Hj. Sahla binti alm H. Majid, biasa dikenal dengan nama pena bidadari_Azzam, lahir di Palembang, 19 Juni 1983. Mantan pelajar berprestasi ini sangat senang membaca & menulis sejak kecil (memiliki ratusan sahabat pena sejak SD hingga SMU sehingga terbiasa bersurat-menyurat), terutama menulis puisi. Syair dan puisinya serta cerita-cerita mini pernah menghiasi majalah Bobo, surat kabar lokal serta beberapa majalah nasional. Semasa menjadi putri kecil yang malu-malu, ia mengoleksi tulisan karya pribadi dan hanya dinikmati seisi keluarga serta bapak-ibu guru di sekolah. Beberapa prestasi yang terkait menulis adalah juara pertama menulis dan menyampaikan pidato kemerdekaan RI tingkat kotamadya Palembang, pada tahun 1997, Peserta termuda buku Antologi Puisi Kepahlawanan Pemda SumSel, serta kejuaraan menulis di beberapa majalah lokal dan nasional. Pernah menyabet juara 3 lomba puisi tingkat kodya Palembang, juara 2 menulis cerpen islami tingkat kodya Palembang yang diadakan ForDS (Forum Dakwah Sekolah), dan pada tahun 1999, semasa masih SMU dipercaya untuk menjadi pembimbing kepenulisan bagi sang ayah ketika mengikuti lomba membuat karya ilmiah tentang keselamatan kerja di Pertamina (menghadapi persaingan dengan para mahasiswa yang sudah S2 dan S3), dan Alhamdulillah, karya tersebut terpilih menjadi juara pertama. Lima tahun terakhir ini, ia tinggal di luar negeri, jauh dari bumi pertiwi. Hobi menulis pun terasah kembali, mengalirkan untaian kata pengobat rindu jiwa, sehingga kini kian aktif menulis artikel di beberapa website dan milist islami. Kini sedang mempersiapkan buku mengenai pengalaman pribadi sebagai sosok muslimah yang menikah di usia amat muda (ia menikah saat berusia 19 tahun), Tentunya dengan ragam keajaiban yang saya temui, betapa saya amat merasakan kasih sayang Allah taala dalam tiap tapak kehidupanku ini. Prinsipnya dalam menulis, Bagiku, Menulis itu dengan hati, dianalisa oleh semua indera, tak bisa direkayasa, tak boleh terburu-buru pula. Menulis itu adalah mengukir tanda cinta pada-Nya, mengharapkan apa-apa yang menjadi tulisan adalah cambuk motivasi diri sendiri dan dihitung-Nya sebagai amal jariyah. Ia mengecap bangku kuliah di UPI-Bandung, dan UT-Jakarta, Lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi. Kegiatan saat ini menikmati peran menjadi ibu dari tiga jagoan ; Azzam, Sayyif dan Zuhud, mendukung penuh tugas suami yang mengemban project perusahaan di negara-negara lain, sekaligus mengatur jadwal sekolah bahasa Polish, serta menjadi pembimbing para muallaf dengan aktif sebagai koordinator muslimah di Islamic-Centre Krakow, Poland. Buku pertama kisah hikmah yang ditulisnya di Krakow baru dicetak awal maret 2012 oleh penerbit Eramuslim Global Media, dengan judul Catatan CintaNya di Krakow-seri 1.

Lihat Juga

Bersyukur atas Mata, Telinga dan Hati