Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Segala Kesulitan Berbuah Anugerah

Segala Kesulitan Berbuah Anugerah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Penulis bersama keluarga di Paris, Summer 2012. (Foto: bidadari_Azzam)
Penulis bersama keluarga di Paris, Summer 2012. (Foto: bidadari_Azzam)

dakwatuna.comSuatu hari dalam kesempatan ‘Tour Eiffel’ ada secuil sikap seorang nenek yang menggelitik nurani. Ketika melewati beberapa lokasi tour di kota Paris, sang nenek yang paling sering berjalan jauh dari grup kami. Ternyata tak hanya mencari lokasi belanja souvenirs di emperan yang jauh dari jalan besar (toko-toko di jalan besar, biasanya menjual barang-barang dengan harga yang lebih tinggi), ia juga mencari tempat-tempat unik untuk mendokumentasikan perjalanan itu.

Pada hari ketiga tatkala kami sudah lelah karena banyak jalan kaki di area-area tour, sang nenek tampak tetap gagah menggandeng cucu dan anak perempuannya. Meski dari tempat parkir bus ke depan gerbang Menara Eiffel sudah lumayan jauh jaraknya, masih juga ia terus mondar-mandir ke segala penjuru area, termasuk tepian Sungai Seine yang berdampingan dengan menara besi tersebut.

Lokasi-lokasi tempat si nenek berpose-pose lumayan sulit dijangkau, apalagi buat seorang ibu yang menggendong bayi sepanjang jalan serta membawa dua kanak-kanak lain sepertiku. Bagi teman lain di grup tour itu pun demikian, betapa capeknya kalau kaki terus berjalan jauh di tengah musim panas, hanya untuk mengambil beberapa foto saja. Kebanyakan anggota grup lainnya ‘menempeli’ pemandu wisata sejak awal antrian naik ke menara, berbincang ringan hingga menanti giliran menikmati armada kapal di Sungai Seine.

Sang nenek yang amat lincah memberikan alasan, “Bukan cuma foto unik, tapi semakin sulit lokasi yang dicari, makin bagus juga pemandangan yang dilihat…” ujarnya. Matanya haus akan pemandangan indah yang dapat dilihat lebih luas dan berbeda dari para turis lainnya. Memikirkan kalimatnya, ternyata benar juga. Apalagi kami sekeluarga ingin sekali berfoto berlima dengan batik Indonesia saat itu, namun mencari lokasi yang pas di area depan menara besi itu memang agak sulit kalau pengunjung sangat padat.

Analogi si nenek adalah hal sederhana, namun berefek besar bagi yang merenungkannya. Berbekal kalimat motivasi si nenek, “Langkah kaki capek tak akan sia-sia ketika melihat pemandangan yang lebih indah di lokasi yang memang lebih jauh…” maka kami melangkah lebih jauh pula dari grup-grup tour untuk beberapa saat. Kami jalan ke arah lain, lokasi yang agak jauh dari keramaian yang ada, dan justru di tempat itu pemandangan sekitar memang amat bagus, jauh lebih indah dari pada pemandangan di dekat menara besi tersebut. Subhanallah, lega hati tatkala merapikan tripod dan duduk di bebatuan, tidak berdesak-desakan dengan pelancong lainnya. Capek kaki, pegal, tapi sungguh gembira.

Pemandangan Paris dari menara Eiffel, Summer 2012. (Foto: bidadari_Azzam)
Pemandangan Paris dari menara Eiffel, Summer 2012. (Foto: bidadari_Azzam)

Saya pun mengenang masa pramuka zaman masih bersekolah dulu, ada kalanya harus mendaki bukit di area kemah, sampai berkeringat deras, kehausan dan hampir menitikkan air mata. Namun ternyata ketika tiba di tempat tujuan di balik bukit itu, yang hadir justru rasa syukur karena amat berbahagia. Pertama, bersuka cita karena sudah melewati aral melintang. Kedua, bergembira karena melihat betapa indahnya tempat yang dituju, tidak menyesal sudah berletih-letih dan melalui ragam kesulitan saat pendakian bukit.

Ternyata kita selalu begitu, ingin melihat ‘tempat terindah-Nya di jannah’ kelak, maka di muka bumi ini kita senantiasa menemui cabaran. Semakin berusaha menuju kebaikan, kian terjal pula jalan yang didaki. Terluka, deras keringat dan air mata menjadi hiasan. Ikhlas adalah sebuah keharusan, proses kita menuju ke sana, jalan hidup ‘sulit~bagi banyak orang’, namun pilihan terbaik bagi orang beriman. Insya Allah…

Dengan susah, kita mengerti artinya senang. Dengan kesulitan, kita menemui adanya kemudahan. Dengan sakit, kita jadi paham betapa berartinya sehat. Dengan semua proses itu, kita menjadi lebih bersyukur, yakin berada di jalan selamat. Segala kesulitan memang berbuah anugerah, inilah hadiah dari Allah ta’ala buat hamba yang dicintai-Nya. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa baginda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.”

Tidak ada pilihan bagi kita selain mempelajari segala hikmah-Nya di setiap kejadian yang dilalui, bekal dari Allah SWT sudah sempurna; raga yang sehat, hati jernih, akal pikiran yang tajam, serta jiwa yang optimis dalam keimanan pada-Nya. Mari bersemangat menikmati segala anugerah ini, Barakallah!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
bidadari_Azzam
Sri Yusriani, ananda dari bapak H. Muhammad Holdoun Syamsuri TM Moorsid dan ibunda Hj. Sahla binti alm H. Majid, biasa dikenal dengan nama pena bidadari_Azzam, lahir di Palembang, 19 Juni 1983. Mantan pelajar berprestasi ini sangat senang membaca & menulis sejak kecil (memiliki ratusan sahabat pena sejak SD hingga SMU sehingga terbiasa bersurat-menyurat), terutama menulis puisi. Syair dan puisinya serta cerita-cerita mini pernah menghiasi majalah Bobo, surat kabar lokal serta beberapa majalah nasional. Semasa menjadi putri kecil yang malu-malu, ia mengoleksi tulisan karya pribadi dan hanya dinikmati seisi keluarga serta bapak-ibu guru di sekolah. Beberapa prestasi yang terkait menulis adalah juara pertama menulis dan menyampaikan pidato kemerdekaan RI tingkat kotamadya Palembang, pada tahun 1997, Peserta termuda buku Antologi Puisi Kepahlawanan Pemda SumSel, serta kejuaraan menulis di beberapa majalah lokal dan nasional. Pernah menyabet juara 3 lomba puisi tingkat kodya Palembang, juara 2 menulis cerpen islami tingkat kodya Palembang yang diadakan ForDS (Forum Dakwah Sekolah), dan pada tahun 1999, semasa masih SMU dipercaya untuk menjadi pembimbing kepenulisan bagi sang ayah ketika mengikuti lomba membuat karya ilmiah tentang keselamatan kerja di Pertamina (menghadapi persaingan dengan para mahasiswa yang sudah S2 dan S3), dan Alhamdulillah, karya tersebut terpilih menjadi juara pertama. Lima tahun terakhir ini, ia tinggal di luar negeri, jauh dari bumi pertiwi. Hobi menulis pun terasah kembali, mengalirkan untaian kata pengobat rindu jiwa, sehingga kini kian aktif menulis artikel di beberapa website dan milist islami. Kini sedang mempersiapkan buku mengenai pengalaman pribadi sebagai sosok muslimah yang menikah di usia amat muda (ia menikah saat berusia 19 tahun), Tentunya dengan ragam keajaiban yang saya temui, betapa saya amat merasakan kasih sayang Allah taala dalam tiap tapak kehidupanku ini. Prinsipnya dalam menulis, Bagiku, Menulis itu dengan hati, dianalisa oleh semua indera, tak bisa direkayasa, tak boleh terburu-buru pula. Menulis itu adalah mengukir tanda cinta pada-Nya, mengharapkan apa-apa yang menjadi tulisan adalah cambuk motivasi diri sendiri dan dihitung-Nya sebagai amal jariyah. Ia mengecap bangku kuliah di UPI-Bandung, dan UT-Jakarta, Lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi. Kegiatan saat ini menikmati peran menjadi ibu dari tiga jagoan ; Azzam, Sayyif dan Zuhud, mendukung penuh tugas suami yang mengemban project perusahaan di negara-negara lain, sekaligus mengatur jadwal sekolah bahasa Polish, serta menjadi pembimbing para muallaf dengan aktif sebagai koordinator muslimah di Islamic-Centre Krakow, Poland. Buku pertama kisah hikmah yang ditulisnya di Krakow baru dicetak awal maret 2012 oleh penerbit Eramuslim Global Media, dengan judul Catatan CintaNya di Krakow-seri 1.

Lihat Juga

Ilustrasi. (fizgraphic.com)

Pentingnya Pemilihan Buah dan Makanan yang Tepat untuk Ibu Hamil