Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bahayanya Fitnah

Bahayanya Fitnah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Tulisan ini penulis kutip dari sejarah yang terjadi dalam keluarga Rasulullah yaitu pada Bunda Aisyah.

Fitnah ini terjadi ketika dalam sebuah perjalanan, saat rombongan Rasulullah saw singgah di sebuah rumah menjelang Madinah. Setelah beberapa hari menginap, mereka lalu berjalan kembali di malam hari setelah mendapat izin dari Nabi saw. Beberapa saat sebelum mereka berangkat, Aisyah keluar rombongan untuk sebuah keperluan dengan memakai kalung pemberian saudara perempuannya. Aisyah segera kembali ke perkemahan. Namun, ia tidak menyadari bahwa kalungnya telah terjatuh. Dia baru mengetahuinya setibanya di perkemahan saat beraba lehernya.

Aisyah memutuskan untuk mencari kalung tersebut untuk menghormati saudara perempuannya. Padahal, di saat yang sama, rombongan kaum muslimin telah bergerak menuju Madinah. Pencarian itu memakan waktu yang cukup lama. Aisyah segera kembali ke perkemahan untuk menemui orang yang akan menemaninya, tapi dia tidak melihat seorang pun. Ternyata mereka telah pergi membawa serta tandunya. Mereka telah menaikkan tandunya di atas unta yang Aisyah tunggangi. Mereka mengira bahwa Aisyah telah berada dalam tandu tersebut. Wanita pada masa itu sangat kurus, sehingga mereka pun tidak curiga dengan ringannya tandu beliau. Setelah semuanya pasukan berlalu pergi, Aisyah menemukan kalungnya.

Dia lalu duduk saja di tempat itu dengan membuka hijab (cadar) karena menduga rombongan muslim pasti mencarinya. Aisyah bertasbih dan beristighfar kepada Allah. Rasa kantuk menyerangnya hingga dia tertidur.

Pada saat itu, datang seorang prajurit Perang Badar, Shofwan bin al-Mu’thal. Dia juga tertidur dan tertinggal dari rombongan pasukan.  Shafwan tahu bahwa orang yang tertidur itu Aisyah, karena dia pernah melihatnya sebelum turun ayat hijab.

Aisyah lalu terbangun ketika mendengar suara Shafwan bin Mu’thal yang beristirja’.

            “Innalillahi wa innalillahi raaji’un. Bukankah ini istri Rasulullah saw?” kata Shafwan.

Dia tidak mengatakan kata apa pun selain perkataan tadi. Aisyah yang terkejut segera menutup wajahnya dengan jilbab. Shafwan mendekatkan untanya ke sisi Aisyah dan memintanya untuk segera naik ke atas unta. Shafwan memegang tali kendali untanya tanpa menoleh dan berbicara pada Aisyah.

“Aku hanya mendengarnya bertasbih,” kata Aisyah.

Shafwan terus menuntun untanya hingga dapat menyusul rombongan pasukan yang saat itu sedang singgah d Nahruzh Zhahirah.

Musuh Allah, ‘Abdullah bin Ubai, menarik nafas panjang melihat hal itu. Dia seperti mendapat ilham untuk menyerang Rasulullah saw. Sebuah rencana disusunnya, yaitu memfitnah Aisyah dengan menuduhnya berzina. Atas prakarsanya, orang-orang munafik lalu menyebarkan fitnah tersebut. Inilah yang disebut dengan Ifkun (berita bohong), suatu kebohongan yang paling buruk.

Pasukan Muslim terus bergerak menuju Madinah, sedang orang-orang munafik juga sibuk mengumumkan fitnah tersebut. Ketika sampai di Madinah, mereka menyebarkan berita ini hingga sebagian kaum muslim termakan isu murahan tersebut.

Kabar dusta itu sampai juga ke telinga Nabi saw, setibanya di Madinah. Beliau juga kaget, tak menduga jika hal itu dilakukan istrinya. Berita itu datang bagai palu godam yang menghantam jiwanya.

Fitnah tersebut bagai bola salju; terus menggelinding dan kian lama semakin membesar. Orang-orang ramai bergunjing membicarakannya. Namun ada satu orang yang tidak mengetahui berita bohong itu. Dia adalah Aisyah sendiri. Sepulangnya dari perang Bani Musthaliq, Aisyah jatuh sakit selama hampir satu bulan. Dia baru sembuh pada tiga hari terakhir pada bulan terjadinya fitnah tersebut.

Selama sakit, dia terbaring lemah di tempat tidur. Namun, untuk kali ini, dia mendapat perlakuan berbeda dari suaminya, Rasulullah saw. Tak ada sentuhan kelembutan seperti biasanya. Nabi saw hanya masuk kamar, menemuinya, lalu mengucapkan slam. Hanya kalimat singkat yang terucap dari mulut beliau. “Bagaimana kondisimu, wahai Aisyah?” Setelah itu, beliau keluar menyelimuti Aisyah mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya tercinta.

Sikap ini terjadi karena Rasulullah saw terpengaruh dengan kabar yang disebarkan orang-orang munafik. Rasulullah saw senantiasa diam, tidak berbicara sedikit pun. Beliau menunggu Allah swt menurunkan wahyu-Nya. Akan tetapi wahyu yang dinanti tak kunjung turun. Beliau gamang, karena tidak memiliki petunjuk yang dapat membuktikan kebenaran kabar tersebut. Hanya kepada Allah swt, beliau menggantungkan harapan karena beliau hanyalah manusia biasa.

Telah hampir satu bulan fitnah menyelimuti kota Madinah. Kondisi Aisyah kian membaik. Suatu malam, dia pergi ke pinggiran kota Madinah bersama Ummu Misthah. Saat berjalan di kegelapan malam, Ummu Misthal tergelincir. Dia terkejut dan dengan spontan keluar ucapan buruk yang menjelekkan anaknya sendiri, Misthah.

“Celakalah Misthah!”

Aisyah terkejut mendengarnya.

“Mengapa engkau mendoakan anakmu seperti itu? Bukankah dia anak shalih yang mengikuti perang Badar?” tanya Aisyah penuh keheranan.

“Engkau tidak tahu apa yang dikatakannya tentangmu.”

“Apakah yang dikatakannya tentang diriku?” Aisyah penasaran.

“Dia telah berburuk sangka kepadamu. Dia salah menilai kehormatan dirimu seperti yang dilakukan orang banyak. Mereka mengatakan dirimu melakukan perbuatan keji dengan Shafwan, ujar Ummu Misthah.

Jawaban itu bagai petir di siang bolong. Aisyah terkejut luar biasa. Dia tak mengira jika dirinya telah menjadikan sasaran fitnah. Bumi seakan berguncang, langit seolah runtuh. Dia pulang ke rumahnya dengan langkah gontai. Ditemuinya Rasulullah saw yang masih tetap mendiamkan dirinya. Aisyah kini tahu, mengapa suami tercinta yang selalu mengasihinya itu bersikap demikian. Tanpa menunggu lama, dia segera meminta izin kepada Rasulullah saw untuk pergi ke rumah orang tuanya, Abu Bakar. Aisyah berniat mencari kebenaran atas fitnah yang menimpa dirinya. Setelah mendapat izin, Aisyah bergegas berangkat dengan membawa rasa gundah yang tak terkira.

Sementara itu Rasulullah saw terus menunggu wahyu. Karena wahyu yang di tunggu tak kunjung datang, Rasulullah saw memutuskan untuk menemui para sahabatnya dan penduduk Madinah lainnya. Beliau mendatangi Ummu Aiman.

“Apa engkau mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Aisyah? Apa pendapatmu? Tentang Aisyah.

“Aku senantiasa menjaga pendengaran dan perhatianku. Demi Allah, aku tidak mengetahui apapun tentang Aisyah melainkan hanya kebaikannya,” jawab Ummu ‘Aiman.

Setelah itu, Rasulullah saw pergi menemui Ummul Mukminin, Zainab binti Jahsi.

“Apa engkau mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Aisyah? Apa pendapatmu? Tentang Aisyah. Apa pendapatmu?

“Aku senantiasa menjaga pendengaran dan perhatianku. Demi Allah, aku tidak mengetahui apapun tentang Aisyah melainkan hanya kebaikannya,” jawab Zainab.

Rasulullah saw lalu berangkat menuju rumah Usamah bin Zaid, kerabat terdekat yang palung dicintainya. Usamah sangat mengetahui rasa sayang yang ada dalam hati Rasulullah saw kepada Aisyah. Oleh sebab itu, dia menyarankan sesuatu sesuai dengan apa yang diketahuinya.

“Ummul Mukminin adalah suci dan bersih dari segala kabar bohong itu. Dia adalah laksana biji logam yang murni, sedangkan orang-orang yang suka membuat kabar palsu itu benar-benar telah berdusta dan berbohong, wahai Rasulullah saw,” kata Usamah.

Rasulullah saw juga mendatangi Ali bin Abi Thalib. Beliau disarankan untuk men-thalaq Aisyah. Terakhir, Rasulullah saw menemui Umar bin Khathab.

“Apa engkau mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Aisyah? Apa pendapatmu? Tentang Aisyah. Apa pendapatmu?

Umar balik bertanya, “Siapakah yang menikahkan engkau dengan Aisyah, wahai Rasulullah?”

“Allah-lah yang menikahkan aku dengan Aisyah,” jawab Rasulullah saw.

“Apa engkau mengira bahwa sesungguhnya Allah akan mengotori dirimu?” tanya Umar lagi.

Fitnah terus menyebar tanpa dapat di bendung. Suatu hari, Rasulullah saw berkhutbah.

“Wahai manusia…telah sampai kepadaku sebuah berita, bahwa ada seseorang yang menyakiti istriku, dan aku tidak mengetahui apapun tentang istriku itu melainkan hanya kebaikannya. Orang-orang juga mengetahui kebaikan istriku. Mereka menyebut-nyebut nama seseorang kepadaku. Maka siapakah yang akan menolongku untuk mendapatkan hakku atas orang tersebut?”

Sementara itu Aisyah telah tiba di rumah Abu Bakar, Ayahandanya. Dia bertanya tentang fitnah yang meninpa dirinya tersebut kepada Abu Bakar. Sang ayah membenarkan bahwa fitnah itu sudah hampir sebulan. Aisyah merasa sedih. Abu Bakar menatap pilu putri tercinta. Sejak mendengar kabar bohong itu, Abu Bakar sering menangis. Dia bertambah sedih setelah melihat langsung kondisi anaknya. Dia tak sanggup berkata-kata.

Aisyah terus menangis selama tiga hari. Dia tak dapat tidur. Kelopak matanya tidak terpejam sekejap pun. Air matanya terus mengalir. Dunia seakan sedang menghakimi dirinya.

Di saat awan duka menggantung di langit rumah Abu Bakar, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Rasulullah saw. Nabi akhir zaman itu segera duduk di dekat Aisyah. Rangkaian kalimat agung terlontar dari mulut beliau.

Asyahadu anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadurrasulullah.”

Seusai mengucapkan kalimat syahadatain itu, Rasulullah saw memulai pembicaraan.

“Wahai Aisyah…jika engkau bersih, Allah akan membersihkan dan membebaskanmu. Namun, jika engkau telah melakukan satu dosa, minta ampun dan bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya jika seorang hamba mengakui dosanya dan bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubatnya, ujar Rasulullah saw.

Aisyah terdiam. Dia tak mampu menjawab karena masih menangis. “Wahai Ayah, jawablah apa yang dikatakan Rasulullah tentang diriku ini!” kata Aisyah terbata-bata.

“Demi Allah, aku tidak tahu harus berkata apa kepada Rasulullah,” ujar Abu Bakar.

Aisyah lalu meminta ibunta yang berbicara.

“Jawablah pertanyaan Rasulullah tentang diriku ini, wahai Ibuku!” Aisyah memohon kepada ibunya.

Bukan jawaban yang diberikan ibunya melainkan tangisan. “Demi Allah, aku tidak tahu harus berkata apa kepada Rasulullah kata sang ibu terbata-bata.

Akhirnya, Aisyah menguatkan dirinya untuk berbicara. Dia usap air matanya. Nafasnya dia tarik dalam-dalam. Dia terdiam sejenak. Tak lama setelah itu, suaranya memecah kesunyian.

“Demi Allah, sesungguhnya aku tahu, kalian telah mendengar cerita-cerita itu hingga dia telah menetap di hati kalian dan kalian pun membenarkannya,” kata Aisyah. Semua mata tertuju padanya.

“Jika aku mengatakan kepada kalian bahwa aku bersih dari semua cerita yang tidak pernah aku lakukan, kalian benar-benar akan mempercayainya.”

“Demi Allah,” suara Aisyah agak meninggi, “Aku tidak mendapatkan perumpamaan apa pun untuk menggambarkan keadaan diriku kecuali mengutip perkataan tersebut yang terdapat dalam surah Yusuf: 18.

Maka kesabaran yang baik itulah (kesabarannya). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.

Setelah itu Aisyah pergi menuju pembaringannya. Dia mengadahkan tangannya. Aisyah berdoa agar dimudahkan dalam menghadapi masalah berat tersebut.

Ayah dan Ibunya terus menangis menyaksikan derita yang dialami anak mereka tercinta. Mereka ingin sekali menolong, tetapi tak berdaya. Sementara itu, Rasulullah saw terus saja bersedih, menangisi apa yang sedang terjadi pada keluarganya. Beliau tafakkur, tak beranjak dari tempat duduknya.

Beberapa saat kemudian, tubuh Rasulullah saw bergetar hebat. Keringat mengucur deras dari tubuhnya. Kian lama tubuh Nabi saw semakin bergetar kuat. Beliau tak lagi mampu menahannya hingga pingsan. Aisyah yang menyaksikan itu tak terkejut. Dia tahu, di saat-sat seperti itu, Rasulullah saw sedang menerima wahyu.

Abu Bakar tampak pucat. Jika benar wahyu telah datang, dia khawatir Allah akan membenarkan fitnah yang meninpa Aisyah. Dia tak dapat membayangkan jika itu benar terjadi.

Rasulullah saw akhirnya siuman. Beberapa butir keringatnya yang seperti mutiara terlihat turun membasahi wajahnya. Matanya mulai dibuka. Abu Bakar dan istrinya menatap tajam Rasulullah saw. Mereka menanti-nanti apa yang akan dikatakan Rasulullah saw. Rasa was-was menghampiri mereka. Akhirnya, sebuah kalimat menyejukkan terlontar dari mulut Rasulullah saw.

“Wahai Aisyah, berbahagialah karena Allah telah membebaskan dan membersihkanmu dari atas tujuh langit. Selamat atas pembebasan dari Allah ini,” kata Rasulullah saw.

Aisyah dan kedua orang tuanya bernapas lega mendengar itu. Wajah Aisyah kembali bersinar, tersenyum bahagia. Abu Bakar langsung meminta Aisyah menghampiri Rasulullah saw.

“Wahai Aisyah, temuilah Rasulullah. Ucapkanlah salam kepadanya dan pujilah dia,” ujar Abu Bakar dengan mata berbinar-binar.

“Tidak! Demi Allah, aku tidak akan bangkit, aku tidak akan memujinya, memujimu, atau memuji ibuku. Aku hanya akan memuji Allah yang telah membebaskanku dari atas tujuh langit,” jawab Aisyah.

Wahyu yang turun tersebut adalah surah An-Nur (24): 11-20 yang artinya,

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian. Bahkan ia adalah baik bagi kalian. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan, siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong tersebut, baginya azab yang besar. (QS. An-Nur [24]:11), hingga ayat ke -20.

Lalu Rasulullah saw meninggalkan kediaman Abu Bakar. Beliau ingin segera menemui penduduk Madinah untuk mengetahui wahyu yang baru saja diterimanya.

Referensi: Shirah Nabawiyah “The Great Story of Muhammad, hal. 390. Ahmad Hatta, dkk. Magfirah 2011.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 5,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kusrin, S.PdI
Lahir di Pasaman bulan November 1984. Pendidikan terakhir UIN Bandung. Sekarang mengajar di SMP IT Darul hikmah Pasaman Barat Simatera Barat. Punya hobi menulis, membaca, traveling.

Lihat Juga

Pihak Daarut Tauhid Sebut Tidak Pernah Sebarkan Selebaran Berisi Tolak Wahabi