Home / Berita / Opini / Peta Kekuatan dalam Benturan Gülen-Erdogan

Peta Kekuatan dalam Benturan Gülen-Erdogan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Peta Turki. (inet)
Ilustrasi – Peta Turki. (inet)

dakwatuna.com Ia merupakan sebuah koalisi global yang digerakkan kaum Neo-konservatif di Amerika, didanai oleh grup KOC, dimanfaatkan oleh Partai CHP dan Jamaah Gulen maju untuk melaksanakan.

Kebanyakan pertanyaan yang muncul mengenai Turki khususnya terkait apa yang disebut sebagai benturan Gulen-Erdogan, berkisar tentang ke mana nantinya ujung dari perseteruan ini, dan ke pihak mana daun timbangan akan bersebelah. Meski memprediksi dalam ranah politik adalah hal mustahil; namun, melihat pidato Erdogan yang mengatakan: “Akan kami patahkan tangan-tangan yang mencoba menyentuh kedaulatan kami”, dan ia tutup dengan: “tunggu sepak terjang kami ke depan”, lalu membandingkannya dengan doa histeris yang dipanjatkan Gulen; itu cukup untuk menilai titip pijakan kedua kubu ini.

Kemudian, ada juga beberapa pertanyaan mengenai faktor yang mendorong jamaah ‘Islam’ ini untuk berbenturan dengan pemerintahan Erdogan. Di sini bisa diprediksi bahwa Jamaah tidak memilih untuk berhadapan, tapi yang memilih dan mengantarkan Jamaah ke front perbenturan ini adalah kekuatan luar yang tidak bisa menerima peran regional Turki, dan tidak mengizinkan Turki untuk langgeng dalam langkah-langkah kemajuannya sekarang, dan ini yang diisyaratkan Erdogan dalam pidato-pidatonya belakangan.

Dalam sejarahnya, mulai dekade 60-an, jamaah selalu memihak pengkudeta. Namun sekarang lain halnya, Gulen mengajak para pengikutnya untuk mengerahkan segenap kekuatan demi mencegah pemerintahan menutup pusat-pusat bimbingan belajar yang mereka punya. Dahulu jamaah pernah menawarkan untuk menyerahkan sekolah-sekolah ini kepada pengkudeta atas keinginan sendiri, begitu juga Jamaah bergandeng tangan dengan mereka yang melarang jilbab dan memerangi Islam, sebagaimana juga Jamaah tunduk kepada kekuatan kudeta. Dan hari ini pun ia tunduk dan maju untuk mendalu gendering perang yang sebenarnya tidak ada kemaslahatannya di sana.

KOC Group

Di tahun-tahun di mana Erdogan belum sampai ke pucuk pemerintahan, ada 3 nama yang menguasai dunia media, politik dan ekonomi Turki. Yang pertama, kalah dalam pertarungan melawan pemerintah Erdogan dan sekarang menetap di prancis dan dihukum penjara -23 tahun, Cem Uzan.

Kedua: imparator media Turki, Aydın Dogan, di mana pemerintahan AK Parti melemahkannya lewat pemaksaan pembayaran utang terhadap negara yang mengharuskannya menjual beberapa perusahaan media miliknya. Ia juga diperiksa dalam dugaan keıkutsertaan dalam provokasi dan pendanaan kudeta.

Sedangkan yang ketiga, berkaitan dengan keluarga terkaya di Turki, yang mempunyai perusahaan dalam semua sektor perekonomian Turki, mulai dari sektor pangan hingga industri militer, yaitu keluarga KOC, yang sekarang diketuai oleh Mustafa KOC. Benturan antara KOC dan pemerintahan secara terang bermula ketika ia diduga mendanai peristiwa Taksim Gezipark yang bergolak pada musim panas tahun lalu. Dugaan ini menguat lewat pendanaan dan provokasi mereka di Universitas KOC milik mereka, di mana dekan di sana mengirimkan surat kepada para pelajar yang tidak hadir ujian sebab mengikuti demonstrasi gezipark, akan diberi kesempatan ujian ulangan. Dan Erdogan pun memberikan komentar terkait hal ini pada waktu tersebut.

Partai Rakyat Republik (CHP)

Sebuah yang bisa diprediksi dan sudah menjadi kelumrahan yang bergulir dalam wacana politik Turki, bahwa jalan menuju istana pemerintahan bermula dari kantor walikota Istanbul. Untuk hal ini, CHP telah mengumumkan nama calonnya dalam pemilukada ke depan, yang akan diadakan pada 30 maret 2014, yaitu seorang politikus kondang, Mustafa sarigul.

Yang menarik perhatian, Sarıgul, setelah kunjungannya bersama rombongan dari partai CHP ke Amerika, dan pertemuannya dengan beberapa tokoh berpengaruh dalam gerakan Gulen, ia memperlihatkan simpati terhadap Jamaah dalam pidato-pidatonya. Setelah jamaah-jamaah Islam di Turki dipandang sebagai bahaya besar terhadap Turki, sejak pendirian partai yang memiliki haluan sekuler radikal ini, lalu Sarigul yang merupakan orang kedua dalam partai ini berubah, ia membela pendirian Jamaah dan pusat-pusat bimbingan belajar milik Jamaah, dan ia memandangnya sebagai tugas demi menjaga nilai-nilai dan kepercayaan agama.

Beberapa jam sebelum pencalonan Sarigul oleh CHP untuk pemilukada ke depan, seorang wartawan terkenal Sevilay Yükselir mengatakan bahwa Sarıgul memberitahunya sendiri bahwa ia bersepakat dengan Jamaah Gulen, dan Jamaah Gulen akan memberikan dukungan untuknya dalam pemilihan ke depan seraya menambahkan: ‘jika saya bohong, silakan ia muncul dan menolak ucapan saya.. Kenapa harus malu untuk mengatakan kebenaran? Ia juga menguatkan: Sarıgul merupakan proyek, dan di belakang proyek ini ada Group koc, Jamaah Gulen dan kekuatan lobi di Amerika.

Kaum Neo-Konservatif Amerika

Dalam kunjungan pertamanya ke Amerika sejak ia memegang kepemimpinan Partai CHP, ketika membuka kantor perwakilan CHP di Washington, beberapa minggu lalu, Kemal Kılıcdaroglu mengatakan: “Ke depan kami akan mengunjungi Amerika lebih banyak lagi.” Kata-kata yang mendorong banyak penulis untuk mengangkat wacana keterlibatan dan rencana Amerika untuk menyingkirkan pemerintahan Recep Tayyip Erdogan; juga tentang kerisihan Amerika dan Barat tentang volume Turki di kawasan regional; juga tentang kekhawatiran kekuatan global jika Turki menjadi kota internasional menyaingi berbagai ibukota lainnya seperti London dan Newyork dalam kapasitas politik, ekonomi, atau bahkan melebihinya, menimbang letak geografis dan warisan peradaban yang ia miliki.

Kaum Neo-konservatif adalah gerakan dari sebuah proyek era baru Amerika, pewaris liberalisme Straussian, atau bisa disebut kaum konservatif berhaluan kanan, agamis namun berjiwa liberal. Aliansi ini, dalam skop yang luas menguasai jaringan media Amerika dan juga global, dan menguasai lobi-lobi ekonomi raksasa. Di samping juga memiliki pengaruh politik yang besar di dalam maupun di luar Amerika.

Para analis melihat, di antaranya Sevilay Yükselir, bahwa aliansi Neo-konservatif –CHP-Jamaah Gulen, secara mendasar dan secara khusus bertujuan menggulingkan sosok Recep Tayyip Erdogan dan kepala Lembaga Intelijen Turki, MIT, Hakan Fidan, yang mana keduanya terlihat keras kepala dalam berinteraksi dengan kekuatan global, baik itu lewat berbagai pendirian Erdogan dalam kasus regional, ataupun sepak terjang Hakan Fidan yang mampu mengeluarkan Lembaga Intelijen Turki dari kungkungan Mossad Israel.

Dalam beberapa tahun terakhir, Media Amerika dan para aliansinya berusaha keras untuk menggolkan tujuan ini; Apakah itu lewat penggunaan istilah “Sultan Erdogan”, dan “mimpi Erdogan menegakkan khilafah” secara tersistem, ataupun lewat peliputan intensif terhadap peristiwa Taksim musim panas lalu. Ditambah lagi dengan laporan-laporan rutin, yang mana terakhir sekali memuat tuduhan terhadap Hakan Fidan menyerahkan informasi intelijen kepada Iran tentang para pion Mossad Israel, sehingga mereka ditangkap di sana.

Ada Apa di Balik Peristiwa Operasi Korupsi?

Reza Zarrab

Di samping target pemilihan umum yang dibidik CHP, target non-materi yang dibidik jamaah, Amerika pula membidik targetnya lewat manuver penangkapan pebisnis Turki asal Iran Reza Zarrab, yang merupakan mediator antara pemerintah Turki-Iran. Disebabkan sangsi yang dijatuhkan terhadap Iran dan penolakan Turki untuk membayar harga minyak Iran lewat cara-cara klasik, maka pemerintah Turki menitipkan pembayaran minyak yang diimpor dari Iran di bank-bank Iran yang ada di Turki, agar Iran kemudian membeli emas dari Turki melalui Reza Zarrab atau orang pebisnis dekat lainnya.

Dalam keterangannya kepada media secara langsung selepas ia dibebaskan, Reza menafikan tuduhan yang ditujukan kepadanya. “Setiap hari saya melakukan ekspor impor satu ton emas secara legal, dan tidak ada pajak yang dikenakan atas perdagangan emas di Turki, lalu kenapa saya harus memberikan uang sogok”? Ia menambahkan: “Sekali sebuah trailer yang membawa emas dari Afrika tertahan karena kekurangan dokumen dari penjual di Afrika. Ketika saya mencoba menyelesaikan masalahnya, wakil direktur di instansi kepolisian menekan saya dan meminta uang 1.5 juta dolar. Saya sudah melaporkan dan memberikan rekaman percakapan tersebut ke kementerian dalam negeri.

Reza menambahkan lagi: “Selang beberapa waktu, saya dihubungi oleh seorang wartawan, ia mengatakan bahwa ia memiliki dokumen tuduhan penyogokan terhadap saya. Saya mengalihkannya ke salah seorang pengacara saya, lalu ia menekan dan meminta tebusan 1 juta dolar agar tidak menyebarkan dokumen tersebut. Semua itu ada rekamannya pada saya. Dan saya menyampaikan kepada penyidik bahwa saya bisa memberikan rekaman percakapan tersebut.” Zarrab juga sudah menyebarkan sebagian rekaman tersebut di situs YouTube. Dan Zarrab mengatakan: “Saya sudah menyerahkan sebagian informasi tersebut kepada Kementerian Dalam Negeri beberapa bulan lalu, dan saya mulai mengajukan pengaduan atas wakil direktur kepolisian dan wartawan yang menekan saya, tapi anehnya, hari ini mereka pula yang mengadili saya!”

Halk Bank

Di sisi lain, Amerika atau kaum Neo-konservatif juga merealisasikan maslahat ekonominya lewat pukulan terhadap Halk Bank, yang mana direkturnya dijerat dengan tuduhan korupsi. Halk Bank adalah lembaga yang menjadi nadi kehidupan bagi hubungan ekonomi Turki-Iran, dan jika manuver ini berhasil membekukan interaksinya dengan Iran, maka Amerika akan berhasil mempersempit ruang embargo terhadap Iran dan semua kunci pembatalan embargo tersebut menjadi hak eksklusif di tangannya.

Haitham Kuhaili/Noon Post

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 8,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Andika Rahman Nasution
Mahasiswa di Turki, asal Labuhan Batu (Sumut). Kuliah S1 di International University of Africa, Khartoum-Sudan. Kuliah S2 di Marmara University, Istanbul-Turki.

Lihat Juga

Tidak adanya peta Palestina pada Google Maps. (maps.google.com)

Mayoritas Layanan Peta Online Belum Cantumkan Peta Palestina