Home / Narasi Islam / Wanita / Dress Code Syar’i vs Trendi

Dress Code Syar’i vs Trendi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Mungkin, ada baiknya jika sejenak saya kembalikan ingatan kita yang mulai memudar tentang sejarah revolusi jilbab yang cukup menggemparkan kala itu. Berawal dari kasus pelanggaran jilbab yang menimpa beberapa siswi muslimah di Bandung pada tahun 1979, kasus serupa terus terjadi. Semakin banyak siswi yang ditengarai melakukan pelanggaran aturan karena jilbab yang mereka kenakan di sekolah. Apalagi setelah diterbitkan Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D/82 yang secara resmi melarang siswa berjilbab di sekolah, semakin banyak pelanggaran yang terjadi. Jilbaber-jilbaber dari berbagai daerah pantang menyerah dalam mempertahankan hijab mereka. Efeknya, ratusan siswi terpaksa pindah ke sekolah-sekolah swasta, ratusan lainnya rela dikeluarkan dari sekolah, sedang yang lain mengambil jalan tengah; melepas jilbab saat berada di lingkungan sekolah, dan memakainya kembali di luar sekolah.

Akibat dari merebaknya kasus-kasus tersebut, akhirnya timbullah perlawanan. Pemerintah mendapat kecaman dari berbagai kalangan. Aksi protes terhadap kebijakan yang dinilai menghalangi kebebasan untuk menjalankan agama sesuai dengan keyakinan masing-masing, membanjir. Perjuangan para jilbaber yang mati-matian mempertahankan jilbab, bahkan beberapa kasus hingga melaju ke meja hijau, mengundang semakin banyak simpati. Ormas Islam, Majelis Ulama Indonesia, LSM, masyarakat, media massa, semuanya turut berperan menyuarakan aspirasi para pelajar muslimah. Puncaknya, pemerintah tak bisa membendung arus jilbabisasi. Pergolakan pun berbuah manis. Melalui SK 100/C/Kep/D/1991 pemerintah memberikan kebebasan pada pelajar muslimah untuk tetap berhijab di sekolah.

Masya Allah ….

Sungguh tak mudah perjuangan para pendahulu kita demi memperjuangkan jilbab. Rasanya, amat patutlah jika kita—para pelajar muslimah—saat ini yang memperoleh kebebasan berjilbab di sekolah mana pun, berterima kasih pada mereka. Mustinya kita berkaca pada semangat jihad yang mereka tunjukkan; pantang menyerah demi menegakkan syariat. Semoga pahala mengalir pada mereka. Aamiin….

Lantas, bagaimana dengan kita setelah diperjuangkan sedemikian rupa? Benarkah semangat berjilbab kita seperti mereka? Lebih kuat, ataukah sebaliknya? Jika dulu mereka berjilbab untuk menegakkan syariat, bagaimana dengan kondisi sekarang?

Tak asing bagi kita melihat begitu banyak remaja-remaja berjilbab saat ini. Tak hanya di sekolah, namun jilbab telah menjadi pakaian yang lumrah dikenakan di segala tempat dan suasana. Namun sayang, jilbab masa kini cenderung bergeser dari fungsi jilbab yang semestinya.

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

Mari kita tengok dalam surah Al Ahzab: 59 berikut ini:

“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan wanita-wanita mukmin lainnya, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Lalu dalam surah An Nuur: 31 jelas-jelas disebutkan:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada-nya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka…”

Dalam kedua ayat tersebut jelas sekali bagaimana semestinya busana syar’i. Busana ketakwaan yang oleh Allah telah ditetapkan seperti apa bentuknya.

Sayang beribu sayang, busana syar’i saat ini tertindas oleh busana yang dikatakan trendy. Saudari muslimah kita berjilbab, namun mengesampingkan syarat-syarat busana syar’i demi mengikuti tren, mode, gaul, teenlit, dan sebagainya. Jilbab bukan dikenakan atas dasar kecintaan kepada syariat, melainkan sebagai tren yang saat ini sedang in. Pergeseran nilai jilbab ini pun pada akhirnya berimbas pada pergeseran akhlak seorang muslimah. Busana syar’i, sebagaimana firman Allah, adalah untuk menjaga kehormatan kaum wanita. Ketika kaum wanita sendiri menanggalkannya, lalu apa yang terjadi? Betapa seringnya kita lihat pemandangan seperti ini di sekitar kita. Na’udzubillah …

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

Marilah sejenak kita merenungi siapa diri kita sesungguhnya. Muslimahkah kita? Jika iya, marilah kita kembali pada fitrah seorang muslimah sejati yang terus berusaha memperbaiki diri. Mari menjadikan diri kita muslimah yang senantiasa mengarah kepada kaffah, bukan malah kembali pada zaman jahiliyah.

Syar’i adalah dress code dari Allah SWT, sedangkan trendi adalah penilaian dari pandangan mata manusia. Manakah yang semestinya kita pilih?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,70 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis berprofesi sebagai PNS di lingkup Pemkab. Tulungagung Jawa Timur. Menekuni dunia literasi sejak dua tahun terakhir. Tulisannya tergabung dalam 40 antologi, buku solo Love and Live Undercover, Meraup Pahala Kala Haid Tiba, dan Kitab Gang Pitu telah terbit tahun ini. Dua novel Islaminya insya Allah terbit awal tahun 2014. Penulis aktif dalam jaringan kepenulisan Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN)

Lihat Juga

Longmarch PD KAMMI Medan tuntut 14 Februari jadi Hari Hijab Internasional. (IST)

GEMAR Kota Medan Ajak Muslimah Tutup Aurat