Home / Narasi Islam / Politik / Mengubah Paradigma Politik

Mengubah Paradigma Politik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)
Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)

dakwatuna.com – Melalui tulisan ini, saya hanya ingin berbagi ilmu yang telah saya pelajari. Mencoba mengajak untuk bersama mulai membangun kecerdasan politik, memahami arti politik yang sebenarnya, dan mengubah paradigma tentang politik itu sendiri.

“Politik itu kotor”, begitulah kebanyakan orang menilai politik. Bukan begitu??

Bahkan banyak umat muslim saat ini yang memiliki paradigma seperti itu, menganggap politik adalah sesuatu yang tidak diperlukan dalam agama. Perlu kita ketahui ternyata pemikiran “politik itu kotor” adalah sebuah mitos yang sengaja digembar-gemborkan untuk menghancurkan mentalitas politik umat Islam, sehingga kita umat Islam sendiri enggan untuk menjamahnya. Padahal politik adalah sarana dakwah, alat strategis untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan umat.

Kekeliruan dalam menilai politik bisa jadi dikarenakan tidak luasnya pemahaman kita tentang politik itu sendiri. Dulu, saya pun tak mengerti jika bertemu kata “politik”, yang langsung terpikirkan hanyalah partai. Dan kebanyakan orang menganggap partai hanyalah tempat untuk memperebutkan kekuasaan semata. Namun setelah mempelajari lebih dalam tentang apa itu politik, akhirnya saya menyadari betapa sempit sekali pemikiran saya tentang politik.

Jadi, apa sebenarnya politik itu?

Politik secara bahasa artinya kebijaksanaan, siasat, atau cara bertindak. Sadar atau tidak, dalam setiap kehidupan, kita sedang berpolitik. Ketika kita sedang lapar lalu berusaha mendapatkan makanan dengan memasak, ketika kita sedang belajar bersama untuk ujian, ketika sebuah tim melakukan latihan untuk perlombaan, sesungguhnya saat itu kita sedang berpolitik, saat itu kita sedang bersiasat, bertindak, mengatur strategi untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Artinya bahwa sebenarnya kita semua adalah seorang politisi loh. Lebih tepatnya politisi dalam arti luas. Karena dalam arti sempit politisi memang dimaknai banyak orang adalah ketika seseorang mengikuti politik yang tersedia dalam institusi negara, seperti lewat partai politik, ormas, atau LSM.

Jadi, pada dasarnya setiap kita adalah politisi dalam arti luas. Pilihan-pilihan salurannya bisa berbeda-beda. Bisa di partai politik, LSM, ormas, bahkan mungkin hanya di arisan ibu-ibu, warung makan, kelompok belajar, atau Club olah raga.

Lalu, apa hubungan politik dengan dakwah Islam? Kenapa seorang muslim seharusnya “melek” dengan politik?

Jika di awal tadi saya menulis bahwa politik sebenarnya adalah sarana dakwah, alat strategis untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan umat, maka inilah alasannya;

Dakwah adalah menyeru kepada kebajikan, dan mencegah keburukan. Lalu politik adalah kebijaksanaan, strategi atau cara bertindak. Dilihat dari artinya sendiri, antara dakwah dan politik tidak dapat dipisahkan. Dalam berdakwah pastinya dibutuhkan strategi. Untuk mengajak orang mengerjakan kebaikan, untuk menciptakan keadilan, untuk menjadikan musuh takluk, untuk memenangkan dakwah Islam dan membangun kembali kepemimpinan Islam itu semua membutuhkan cara, siasat, strategi agar semua itu dapat tercapai.

Pada masa Rasulullah pun terjadi perpolitikan. Setiap peperangan yang terjadi di masa itu, semua dilaksanakan dengan strategi, dengan politik. Masih ingatkah kisah perang Khandaq? Di mana pasukan musuh ketika itu berencana mengepung umat muslim di Madinah dan akan menyerang secara tiba-tiba. Namun, rencana itu terdengar oleh kaum muslimin, dan akhirnya Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat untuk mengatur strategi. Saat itu seorang sahabat yang bernama Salman Al-Farisi berkata “wahai Rasulullah dulu jika kami orang-orang Persia sedang dikepung musuh, maka kami membuat parit di sekitar kami”. Ini merupakan langkah yang bijaksana yang sebelumnya belum dikenal orang-orang Arab. Maka Rasulullah dan para sahabat segera melaksanakan rencana tersebut untuk menggali parit sepanjang empat puluh hasta. Itulah salah satu bentuk kebijaksanaan, strategi yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat. Masih banyak lagi peperangan-peperangan dan aspek kehidupan di zaman Rasulullah yang tidak lepas dari politik. Seperti perang mu’tah, perjanjian Hudaibiyah dan lain lain, bisa lebih banyak lagi didapat kisah-kisahnya dengan membaca sirah nabawiyah.

Sekarang bagaimana dengan politik partai atau kekuasaan yang saat ini banyak diragukan dan enggan dijamah?

Perlu digaris bawahi bahwa politik Islam adalah berpihak pada kebenaran. Memang tak semua perpolitikan baik. Karena itu banyak ditemui hal-hal buruk mengenai politik kekuasaan ini. Nah, jika kita sudah melihat sendiri banyak di luar sana orang-orang yang mencari kepentingan di luar Islam untuk bisa menduduki kekuasaan, apakah kita akan diam saja? Apakah kita bisa mengubah kebijakan-kebijakan mereka dengan status “rakyat biasa”?

Jika memang politik partai dan kekuasaan adalah strategi dan cara yang harus diambil untuk mencapai kemenangan dakwah, untuk mewujudkan cita-cita umat, maka hal itu menjadi suatu yang wajib, sebagaimana menurut kaidah ushul fiqih: “apabila suatu kewajiban tidak dapat dilaksanakan secara sempurna tanpa adanya sesuatu yang lain, maka pelaksanaan sesuatu itu hukumnya juga wajib”. Karena mewujudkan cita-cita umat, menciptakan kemashlahatan umat adalah suatu kewajiban, maka cara politik partai dan kekuasaan menjadi wajib. Tanpa kita terjun ke pemerintahan, maka kita tidak bisa mengatur kebijakan dan hukum di negara kita ini.

Kita bisa lihat beberapa penjelasan beberapa Imam ulama tentang hal ini,

Menurut ibnu al Qayyim:

“Politik adalah aktivitas yang memang melahirkan maslahat bagi manusia dan menjauhkannya dari kerusakan, walau pun belum diatur oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan wahyu Allah pun belum membicarakannya.”

“Maka, tidaklah dikatakan, sesungguhnya politik yang adil itu bertentangan dengan yang dibicarakan syariat, justru politik yang adil itu bersesuaian dengan syariat, bahkan dia adalah bagian dari elemen-elemen syariat itu sendiri. Kami menamakannya dengan politik karena mengikuti istilah yang mereka buat. Padahal itu adalah keadilan Allah dan Rasul-Nya, yang ditampakkan tanda-tandanya melalui politik.”

Jadi, setiap cara apapun yang dapat melahirkan keadilan maka itu adalah bagian dari agama dan tidak bertentangan dengannya.

Menurut Imam Syahid Hasan Al-Banna:

“sesungguhnya seorang muslim tidak sempurna keislamannya kecuali jika ia politisi, pandangannya jauh ke depan terhadap persoalan umatnya, memperhatikan, dan menginginkan kebaikan.” Dengan kata lain, Syumuliatul Islam menuntut amal politik.

Dan pada intinya…

Seorang muslim harus “melek” politik. Jangan sampai terbawa mitos dan ragu terhadap politik, karena mitos itu bisa jadi sengaja dibuat agar umat muslim ragu untuk berpolitik. Mereka yang di luar Islam ingin membuat umat Islam tidak bekerja keras memikirkan masyarakat bahkan dirinya sendiri, menjadikan kita orang-orang yang menerima dan iya-iya saja terhadap kezhaliman, kepemimpinan yang tidak adil, dan ketertindasan yang menimpa kita.

Seorang muslim yang baik tidaklah memisahkan antara Islam dan politik. Ia tidak terdoktrin dengan mitos “politik itu kotor”. Karena sesungguhnya setiap kita adalah da’i dan setiap da’i adalah politisi. Kita dituntut terampil dalam mengatur strategi, cara dan metode yang tepat dalam menyampaikan kebaikan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Wallahualam bisshawab…

Mungkin hanya sedikit pengetahuan yang saya miliki dari membaca buku, mengikuti kajian, dan pengalaman berorganisasi selama ini. Berharap dapat menjadi awal mula membuka wawasan kita terkait politik.

Semoga Bermanfaat…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Uswatun Nisa
Mahasiswi. Seorang muslimah yang terus berjuang menjadi lebih baik, berusaha menjadi manusia terbaik, yaitu yang memberi manfaat kepada orang lain.
  • Bayu Dwi Anugrah Putra

    Nice artikel.
    izin Share :)

Lihat Juga

Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)

Berpolitik itu Jejak Sikap