Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Terorganisirnya Jumud

Terorganisirnya Jumud

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (Foto: argetlamxx.deviantart.com)
Ilustrasi. (Foto: argetlamxx.deviantart.com)

dakwatuna.com Mereka yang pernah dan sedang mengalami, menyaksikan langsung betapa geliat, semangat tak bertepi itu menyongsong kemuliaan terbaiknya, di peran apapun bangunan dakwah. Mereka yang sulit rasanya dibayangkan, yang dengan alasan terjebak rutinitas dakwah, tenggelam dalam kolam jumud yang dingin beku.

Sebab mereka tidak pernah menyadari angin malam itu perlahan tapi pasti meniup selaput matanya, mengantar nafas lelahnya menuju tidur panjang. Ia tidak mati, iman itu masih berdegup kencang di dadanya. Hanya saja, samar-samar pandangannya mulai membayang, melihat potret amalnya satu per satu mulai bias memudar…

Jumud fi sabilillah

Ia bukan futur, apalagi Insilakh! Ia hanya jumud, yang membelenggu api semangat, yang memborgol tangan kreativitas. Padahal dari sanalah lahirnya loncatan-loncatan kemenangan itu, padahal dari sanalah lahirnya kejora daya tarik dakwah.

Sayangnya, sebagian mereka yang sedang Jumud di jalan Allah ini tidak menyadarinya, seolah semua sedang baik baik saja. Celakanya kalau, virus Jumud ini naik strata menjadi Jumud yang terorganisir. Celakanya kalau tidak sadarnya ini menyebar menjalar menular ke seluruh sudut organisasinya.

Jumud ini rupanya bukan dipicu oleh mundurnya putaran mesin, mesin organisasinya tetap bergerak, dengan percepatan yang positif. Tapi zaman, tempat ia bernaung, musim, iklim berganti, melaju dengan kecepatan lebih tinggi, dengan angka percepatan yang lebih besar.

Dari dalam kereta semua bisa kelihatan baik baik, ditarik oleh kuda yang sama.  Melihat peserta lain karnaval dengan laju yang relatif tidak terlalu mengkhawatirkan akan meninggalkanmu, itu sungguh membuat nyaman.

Tapi itu menipu, justru menipumu dari dalam dirimu sendiri.

Maka, ia harus segera membuka semua selaput yang menghalangi koordinasi organisasinya. Ia harus menebas semua penghadang yang menahan kreativitas para semangat muda, lebih dari itu ia mesti menciptakan pemicu lebih bagi mereka.

Jumud yang terorganisir dapat mengalahkan semangat yang tercerai berai. Jika kepala semangatnya sendirilah yang justru terbelenggu jumud, sementara tata krama dan sopan santun menahan yang lain untuk berbisik, apalagi teriak!

Tapi tidak, mereka yang lahir di tengah bara takkan beku oleh bunga salju. Mereka boleh jadi terlihat seolah senyap membelenggu rapat bibir imajinya, tapi jiwanya progresif, tinta jiwanya terus menoreh dalam arena apapun yang bisa ia datangi dan naik ke panggungnya.

Atau setidaknya, selalu ada kelompok semangat muda yang lebih awal mendeteksi sebaran virus jumud tadi, dan melawan tanpa harus mematah arang. Selalu ada kelompok semangat muda yang berlari dengan zaman, menari dengan irama zaman dan membuat koreo nya sendiri, koreo dakwahnya sendiri, koreo yang sesuai selera zaman.

Tata krama tetap dijunjung, tapi yang kita sebut jumud terorganisir tadi tidak akan mampu menembus semangat, motivasi terhebat, keikhlasan terbaik. Mereka tidak pernah patah semangat karena keterbatasan organisatif, apalagi materiil.

Dan semangat ini, motivasi hebat ini akan selalu menemukan tempat lahirnya, dari jiwa jiwa suci yang memaknai keikhlasan terdalam, langkah langkah dakwah.

Secara berkala, zaman selalu melahirkan mereka yang terkategori semangat-semangat muda ini.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 3,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang