Home / Berita / Opini / Tahun 2014 Mengulang Sejarah 1997?

Tahun 2014 Mengulang Sejarah 1997?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (newsroom.unl.edu)
Ilustrasi. (newsroom.unl.edu)

dakwatuna.com Tahun 2014, coba kita perhatikan, ada yang unik dengan tahun ini. Dimulai tanggal 4 bulan 4 2014 adalah hari jumat. Lalu setiap dua bulannya juga seperti itu. 6/6/2014 adalah hari jumat, 8/8/2014 adalah hari jumat, 10/10/2014 adalah hari jumat, dan 12/12/14 juga hari jumat. Bahkan bukan hanya itu, kalender 2014 ternyata sama dengan kalender yang ada pada tahun 1997.

Begitulah sejarah terulang. Hari-hari dalam sejarah lalu kembali terulang. Seperti kehidupan yang terus berputar. Kemudian kita akan bertanya, “Akankah peristiwa terulang? Akankah 2014 sama dengan 1997?” tentu setiap kita punya jawaban dan pandangan masing-masing. Namun kita telah memasuki era baru, seperti yang dikatakan salah satu pimpinan partai, Anis Matta, kita telah berada pada gelombang ketiga. Setelah reformasi, setelah negeri ini melalui tiap-tiap masanya. Lalu di depan gerbang gelombang ketiga ini kita berhenti sejenak, kembali menoleh pada tapak-tapak sejarah. 1997, tahun di saat negeri ini dilanda krisis. Tepatnya pertengahan tahun 1997. Setelah itu perlahan Indonesia mulai menata diri. Muncullah peristiwa runtuhnya orde baru, dan meletakkan batu pertama reformasi bangsa ini. Negeri ini melalui masa sulitnya. Lalu kita kembali menatap gerbang ketiga ini. 2014, tahun yang mengulang tanggal dan hari dengan tahun itu, 1997, tahun dimulainya krisis negeri ini.

Gerbang gelombang ketiga ini memberi kita kabar, sekaligus harapan. 2014, pemilu akan kembali digelar, menghiasi tanah hijau negeri ini. Pagelaran demokrasi lima tahunan ini akan kembali berlangsung. Menampilkan skenario-skenario unik dan kemahiran para pemainnya. Yang kotor akan terlihat kotor, dan yang bersih akan tampak bersih. Tampuk kepemimpinan negeri ini akan kembali dilelang. Akankah sejarah terulang? Akankah 2014 sama dengan 1997? Akankah tahun ini akan mengulang datangnya krisis seperti tahun ketika itu?

Kemudian kita akan saling berbincang dan berdebat di gerbang ketiga peradaban negeri ini. Tak satu pun akan mengulang sejarah itu. Tak satupun yang akan membiarkan krisis itu memasuki gerbang ini, mencuri kedamaian di dalamnya. Semua ditentukan saat pemilu. Semua berharap krisis pada 1997 tak terulang di 2014.

Setiap kita punya tanggungjawab. Setiap kita memikul beban. Beban menentukan siapa yang berhak atas kendali negeri ini. Ini peran kita. Bukan sekadar penikmat pesta demokrasi dan menjadi penonton atau komentator saja. Lalu semua kelak akan dipertanggungjawabkan. Ke mana beban ini kita pikul, bagaimana peran ini kita jalani? Kelak akan ditanya, di dunia atau hari akhir.

Golput? Bukankah kita sudah berdebat lelah, berbincang di depan gerbang gelombang ketiga ini? Tentang krisis itu. Adakah kita rela pemimpin yang buruk terpilih? Teori konspirasi akan berlaku. Yang kotor akan terlihat kotor, dan yang bersih akan tampak bersih. Lihatlah dengan mata hati, bukan ego apalagi mata duit. Media akan samar. Banyak membutakan. Makar akan marak. Hanya yang cerdas yang akan tahu.

Ini babak baru. Ada secercah harapan. Ada asa. Ada mereka yang terus bekerja dalam cinta. Terus peduli apapun yang terjadi. Kitalah yang akan memilih. Membiarkan mereka berperan di kursi kepemimpinan atau kebaikan itu akan hangus terbakar, lalu mau tak mau tinggal asap dan debu yang akan naik, mengotori atap bangsa negeri ini. Adakah kita rela? Yang kotor akan terlihat kotor, dan yang bersih akan tampak bersih.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Raji Luqya Maulah
Mahasiswa LIPIA Jakarta. Lahir di Makassar tahun 1994, menyelesaikan pendidikan jenjang SMP dan SMA di Pesantren Terpadu Al-Kahfi Bogor. Anak ketiga dari empat bersaudara. Aktif di kegiatan dakwah kampus. Ketua Ikatan Silaturrahim Alumni Pesantren Terpadu Al-Kahfi (KASAHF.org).

Lihat Juga

RA Kartini

Wanita, Kartini, dan Emansipasi dalam Tinjauan Sejarah Islam