Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bukan Kompetisi Menikah

Bukan Kompetisi Menikah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Seringkali ketika ada acara ngumpul keluarga, atau sekadar menghadiri undangan. Pernah ditanya tidak, kamu kapan menikah? Temanmu yang dulu sama sekolah di SMP sudah punya anak 3. Keponakan saya juga  mau menikah. Jangan lama-lama lho, jangan terlalu pilih-pilih. Nanti gak laku. Duh, doanya. Tidak mengenakkan sekali.

Wah, hal yang agak sensitive ketika ini ditanyakan pada seseorang yang sudah seharusnya berumah tangga. Apalagi seorang perempuan. Usia 20 tahun ke atas menjadi usia yang sudah semakin banyak pertanyaan, apalagi seputaran menikah. Ketika kuliah, ditanya. Kapan wisuda? Ketika sudah wisuda. Ditanya, kapan kerja? Sudah bekerja, ditanya. Kapan menikah? Sudah menikah, ditanya lagi. Kapan punya anak? Dan seterusnya. Selalu ada pertanyaan yang bersifat ‘memojokkan’ untuk sebagian orang yang belum mencapainya. Siapa sih yang tidak ingin menikah? Punya pendamping yang shalih dan shalihah, punya anak- anak yang menyejukkan mata. Jika itu ditanyakan kepada setiap yang orang yang belum berumah tangga, pasti jawabannya ingin, walaupun terkadang kata itu tidak terucapkan. Hanya saja setiap orang mempunyai porsinya masing-masing. Punya waktunya masing-masing. Ada yang menikah di usia muda, namun banyak juga yang bertemu jodohnya ketika sudah berusia lanjut. Bukan hal yang tidak mungkin. Bukankah rezeki, jodoh dan mati itu sudah ditentukan Allah. Maka tidak akan bertemu dengan jodohnya ketika belum Allah izinkan. Walaupun ada sebagian yang menjajaki dalam kurun waktu beberapa tahun, toh ketika itu bukan jodohnya. Sebaik apapun dan sekuat apapun ia mempertahankan ‘hubungan’ itu, ketika ia tidak berjodoh,  ya tetap saja tidak akan berjodoh.

Nah ketika ada yang bertanya, kapan menikah? Itu hal yang susah untuk dijawab. Karena manusia sifatnya hanya bisa merencanakan. Yang memutuskan jadi tidaknya perencanaan kita adalah Allah. Sebaik apapun rencana kita, jika Allah tidak izinkan maka bisa jadi semua perencanaan kita gagal.

Dan menikah bukanlah sebuah kompetisi. Siapa yang terlebih dahulu menikah, dia pemenangnya. Sementara yang belum menemukan jodoh hingga usia nya sudah melebihi kepala tiga, dianggap sebagai seorang yang kalah. Tidak, tidak sama sekali. Terlepas dari usaha dan doa. Ya, setelah usaha dan doa kita maksimal. Mungkin ketetapan Allah lebih baik dari apa yang kita pikirkan. Ketika kita mungkin baru menemukan jodoh di usia 26 (misalnya, untuk seorang perempuan) yang katanya sudah terlambat menikah. Mungkin begitulah ketetapan yang Allah tetapkan untuk kita. Karena bisa jadi, di usia 26 ini kita dianggap lebih siap menghadapi kehidupan rumah tangga. Tenanglah kawan, jodoh kita tidak akan pernah tertukar. Sudah Allah tetap kan di dalam kitab Lauhul mahfuz jauh sebelum kita hadir di dunia ini. Maksimalkan saja usaha dan doa. Isi hari-hari penantian dengan hal-hal yang positif. Semoga kita dipertemukan Allah dengan jodoh yang shalih dan shalihah sehingga bisa melahirkan generasi yang bisa menjadi penyejukan mata. Aamiin Allahumma aamiin.

Wallahu’alam, semoga bermanfaat.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zahratul Afifa
Lahir di Bengkalis Provinsi Riau pada bulan Desember 1990. Mahasiswi semester 1 pada sekolah Pasca sarjana program studi pendidikan dasar di UPI. Memulai belajar menulis, dan menjadi anggota FLP kota Pekanbaru angkatan VIII pada awal tahun 2013.

Lihat Juga

ilustrasi (jilbabcantig.blogspot.com)

Murabbiyah, Ta’arufkan Akhwat yang Siap Menikah