Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Orang Tua dan Suri Teladan

Orang Tua dan Suri Teladan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)
Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)

dakwatuna.com Orang tua adalah sosok yang sangat dekat dengan kita, kehadiran mereka adalah sebagai teladan bagi anak-anak mereka, itulah yang menjadikan peran orang tua sangat penting. Merekalah yang memperkenalkan kita dengan Allah, yang mengajarkan kita untuk mencintai Rasulullah, dan menceritakan perjuangan para nabi untuk menyampaikan kebenaran serta para pejuang Islam terdahulu yang telah rela menumpahkan darahnya demi membumikan agama Allah, karena hal tersebut bisa menumbuhkan kecintaan kita terhadap Islam. Merekalah yang mengajarkan kita bagaimana mencintai Allah, Rasul, dan Al-Quran, yang tercermin dari perbuatan mereka. Begitulah peran orang tua sebagai Role Model seharusnya. Namun, pada kenyataannya tidaklah semua orang tua memerankannya dengan baik.

Tempo hari, aku membuka akun Facebookku dan berbagai status muncul dari kawan-kawan Facebookku, tapi perhatianku tertuju pada satu status yang berasal dari Si Fulanah teman satu angkatan ketika bersekolah dulu. Ia memaki orang tuanya dengan kata-kata yang kasar dan membiarkan khalayak mengetahui keburukan orang tuanya, kemudian di tulisannya tersebut ia bercerita bahwa saat ini ia sudah semakin buruk dalam pergaulan disebabkan oleh orang tuanya yang kurang menunjukkan teladan yang baik. Setelah membaca tulisan Si Fulanah di Facebook, tiba-tiba aku teringat dengan satu kutipan dari sebuah novel yang pernah kubaca:

“Tidak semua dari kita dilahirkan oleh orang tua yang sempurna, yang dapat mengajarkan berbagai hal kepada kita secara benar dan tepat. Tidak semua dari kita berada atau memiliki lingkungan yang baik di antara orang-orang bijak yang senantiasa menuntun kita selalu berbuat baik. Bisa jadi, kita dilahirkan oleh orang tua yang Islamnya biasa-biasa saja. Bisa jadi, kita hidup di lingkungan yang tidak bernuansakan Islam secara baik, maka kita perlu menjadi bijak berusaha melakukan yang terbaik sekemampuan kita”.

Menjadi bijak adalah sebuah keharusan ketika kita memang tidak terlahir dari orang tua yang ketauhidannya tidak paripurna. Menjadi bijak untuk tidak mengikuti perilaku orang tua yang buruk dan mengambil hikmahnya sebagai pelajaran untuk diri sendiri. Berdasarkan pengamatanku yang mungkin saja bisa keliru, aku menyadari bahwa iman tidak diwariskan melainkan iman seharusnya dicari; bisa saja Si Fulan terlahir dari keluarga yang berislamkan dengan baik namun Si Fulan sendiri tidak berakhlak baik, semua tergantung bagaimana kita berusaha membimbing diri sendiri serta kesadaran kita tentang tujuan hidup di dunia ini.

Menjadi anak shalih/shalihah tidak melulu dari orang tua yang baik akhlaknya, tapi karena keinginan yang kuat untuk mendapatkan keridhaan Allah. Bagaimanapun keadaan orang tua kita, mereka adalah sosok yang sangat penting dalam hidup kita, tanpa mereka kita tak akan pernah ada. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang tua adalah pintu jannah yang paling tengah. Terserah kamu telantarkan ia apa kamu hendak menjaganya” (HR Tirmidzi). Maka, sudah seharusnya kita berusaha menjadi anak shalih/shalihah dan memohon hidayah kepada Allah untuk ibu-bapak kita.

Allah menganugerahkan kita dengan akal, itulah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya dan dengan akal itulah kita ditugaskan untuk mencari kebenaran demi keridhaan Allah. Semisal kita tak mempunyai lingkungan yang mendukung untuk memantapkan iman dan memperbaiki akhlak maka sudah sepatutnya kita meraba jalan kita sendiri dan menjadi, baik dengan mengikuti majelis ilmu, bergaul dengan orang-orang shalih dan shalihah, atau banyak membaca buku-buku yang bermanfaat. Jadi, bukan alasan bagi kita untuk menjadi buruk karena lingkungan yang buruk, bagaimanapun diri kita sendiri yang akan merugi.

Ketika kamu tidak mempunyai pegangan dan rapuh untuk melangkah maka ingatlah Allah dan ketika kamu tidak punya lingkungan yang baik untuk menjadi baik maka ingatlah pada Rasulullah SAW, karena ialah sebaik-baiknya suri teladan, belajarlah dari beliau dan teladani akhlaknya. Kita memang tidak bisa memilih untuk dilahirkan oleh orang tua yang seperti apa, semua sudah Allah tetapkan, tapi kita bisa memilih akan menjadi orang tua seperti apa untuk anak-anak kita kelak. Maka untuk kita para calon orang tua, sangat penting untuk mempersiapkannya dengan baik, terutama bagi perempuan yang kesehariannya adalah untuk merawat dan mendidik anak-anaknya kelak. Ada sebuah Syair Arab yang berbunyi: “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq, ibu adalah sekolah utama bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik”.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Siti Sa'adah Dwi Diana
Mahasiswi Sastra Inggris di Universitas Pamulang, Sedang belajar Menulis, berharap membawa manfaat melalui tulisan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Peran Orang Tua Dalam Mendidik Anak Ala Rasulullah