Home / Narasi Islam / Dakwah / Merajut Cinta di Jalan Dakwah

Merajut Cinta di Jalan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)
Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)

dakwatuna.com Siapapun engkau yang berada di jalan dakwah ini, jangan pernah kesampingkan rekan seperjuangan yang sama-sama meniti karir di sini. Di jalan dakwah ini kita telah menemukan seonggok kisah cinta yang begitu mempesona. Dari berbagai rupa wajah dan keadaan, dari beranekanya adat kebiasaan, dari berwarnanya warna kulit dan kemauan serta berpelanginya suku dan daerah asal, kita disatukan dalam visi perjuangan yang sama, “tegaknya agama Allah di muka bumi”.

Kita dulunya tak saling mengenal. Tapi jalan dakwah ini telah mempersaudarakan kita. Rajutan benang-benang ukhuwah perlahan namun pasti telah menjadi pakaian amal yang begitu indah. Keindahan cinta dijalan ini semakin mempesona ketika kita menyadari bahwa jalan ini adalah anugerah Allah untuk kita. Terlebih lagi jika kita mampu memahami bahwa jalan ini adalah setangkai bunga-bunga indah surga yang Allah berikan.

Tak banyak orang yang bisa merasakan getaran cinta dijalan dakwah ini. Dari yang tak banyak itu mungkin kita terpilih menjadi bagiannya. Betapa hebatnya takdir Allah untuk kita. Betapa hebatnya nikmat yang Allah berikan untuk kita. Sungguh nikmat ini amat besar. Serasa tak sebanding dengan kontribusi tak seberapa yang telah kita berikan

Kita tak pernah membayangkan bisa mengukir keindahan suasana persaudaraan seperti pelangi dijalan ini.  Seiring bertumbuhnya usia hidup dan kesempatan untuk bersama dijalan ini, kita bertemu dan menyatu dalam visi perjuangan yang selalu baru. Selalu berdinamika dan selalu melebur dalam asa cita-cita yang sama.

Di sini kita bertemu untuk merajut cinta. Di sini kita bekerja untuk membuat karya pada sesama. Di sini kita menyatu dalam harmoni perjuangan yang indah. Berbeda tapi tak menjatuhkan. Berbeda tapi tak saling menghakimi. Berbeda tapi selalu menghiasi dan mewarnai. Sebagai penutup dari tulisan yang singkat nan sederhana ini ada nasyid yang amat sangat mendalam baitan maknanya dari “Brother”

Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menghulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria

Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ingatanku
Kepadamu teman
Agar ikatan ukhuwah kan
Bersimpul padu

Kenangan bersamamu
Takkan ku lupa
Walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa

Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan
Mungkinkah menguji kesetiaan
Kejujuran dan kemanisan iman
Tuhan berikan daku kekuatan

Mungkinkah kita terlupa
Tuhan ada janjinya
Bertemu berpisah kita
Ada rahmat dan kasihnya
Andai ini ujian
Terangilah kamar kesabaran
Pergilah derita hadirlah cahaya

Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ingatanku
Kepadamu teman
Agar ikatan ukhuwah kan
Bersimpul padu

Kenangan bersamamu
Takkan ku lupa
Walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa..

Begitulah, rajutan cinta dijalan dakwah ini telah membuat kita seumpama keluarga yang dilahirkan dari rahim yang sama. Karena itu denyutan-denyutan rasa cinta selalu menggelora meski begitu banyak ujian yang mesti dihadapi. Selagi masih bisa menikmati rasa cinta di muka bumi ini, nikmatilah. Satu-satunya pertemanan dan persahabatan abadi adalah persahabatan yang dibungkus dengan aqidah yang sama.

Semoga dia yang dulu bersama, kini bersama dan kapanpun bersama dijalan dakwah ini dipertemukan kembali di jannahNya. Karena itulah harapan kita, bersama di dunia, bersama pula di akhirat. Walau sederhana apa yang kita lakukan dijalan ini, yakinlah Allah tak pernah siakan amal kebaikan setiap hambaNya. 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sardini Ramadhan
Staf di Bappeda Kabupaten Ketapang. Alumni FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak.

Lihat Juga

Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan