Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Islam di Tanah Serambi Madinah

Islam di Tanah Serambi Madinah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Monumen Nani Wartabone, Gorontalo. (wikipedia)
Ilustrasi – Monumen Nani Wartabone, Gorontalo. (wikipedia)

dakwatuna.com Kota yang lahir pada Kamis, 18 Maret 1728 ini kuat akan nuansa Islam pada kehidupannya. Berbasiskan pandangan harmoni dengan alam, Islam masuk dengan damai ke kota yang sekarang resmi menjadi salah satu Provinsi di Indonesia.

Hulondalo, merupakan kerajaan Islam di Sulawesi Utara yang cukup besar pada eranya. Nuansa Islam sangat kental dalam budaya dan kehidupan di kerajaan yang kini akrab disapa Kota Gorontalo. Ini karena sejak dulu Kerajaan Hulondalo atau dalam bahasa latin Gorontalo, telah menerapkan syariat Islam sebagai tatanan dalam kehidupan, hukum, pemerintahan maupun kemasyarakatan di kerajaannya.

Kala itu Islam masuk tahun 1525 di Gorontalo. Masuknya Islam dibawa setelah Raja Amai menikahi Putri Owutango dari kerajaan Palasa. Sang Putri sendiri memiliki hubungan dekat dengan kerajaan Ternate yang lebih dulu mengenal tentang Islam. Sebelum pernikahan, Putri Owutango meminta dua persyaratan kepada Raja Amai. Persyaratan itu mewajibkan Raja Amai beserta rakyatnya masuk Islam, serta menggunakan Al Quran sebagai tatanan kehidupan masyarakatnya.  Persyaratan itu disanggupi oleh Raja Amai dan sejak itulah Gorontalo dikenal sebagai kerajaan Islam.

Dapat disimpulkan bahwa jalur perkawinan merupakan salah satu jembatan masuknya Islam di Gorontalo. Namun, masih ada jalur masuk Islam lainnya. Ada tiga jalur masuknya Islam di Gorontalo, yakni lewat ekspansi Kesultanan Ternate dan adanya jaringan keulamaan.

Meski tidak melakukan ekspansi secara teritorial, pengaruh Kesultanan Ternate sangat kental dalam adat Gorontalo. Dari segi bahasa hingga kebiasaan masyarakat Islam melebur ke dalam pengaruh yang dibawa oleh Kesultanan Ternate. Dengan dilaksanakannya pernikahan Raja Amai dan Putri Owutango, mempermudah hubungan diplomasi antar kedua wilayah dan masuknya budaya Ternate.

Dalam penyebarannya, peran para ulama (sufi) merupakan inti dari berkembangnya budaya Islam di Gorontalo. Peran dan usaha yang diberikan para ulama dari Ternate memberi pengaruh dalam cirri khas kebiasaan masyarakatnya. Ini dibuktikan dengan kebudayaan masyarakat Gorontalo yang bersifat sufistik. Cirinya ialah banyak orang yang berkunjung pada orang yang dianggap sufi. Mereka menganggap bahwa kehidupan dan pembelajaran yang mereka pahami dipengaruhi oleh ulama.

Begitu besar pengaruh ulama di Gorontalo sampai-sampai ada budaya unik yang dilakukan masyarakat. Budaya yang dimaksud adalah penghormatan terhadap ulama ketika berada di masjid.  Di masjid-masjid besar, orang-orang yang dihormati terlebih dahulu berada di depan mimbar. Untuk Sultan dan pejabat pemerintahan berada di sisi kanan, sedangkan di sisi kiri berjajar tokoh agama. Apabila Sultan atau gubernur menunjukkan jarinya ke atas, itu berarti menurutnya waktu shalat telah tiba. Dalam hal ini diperlukan pemimpin yang bukan sekadar bisa memimpin. Ia harus paham betul tentang agama agar tahu kapan waktu shalat mulai.

Prinsip hidup Islam telah menyatu dan sangat mudah diterima oleh masyarakat Gorontalo, hingga peraturan Islam telah menjadi peraturan tidak tertulis dalam acuan perilaku kehidupan masyarakatnya. Hal ini dikarenakan sebelumnya mereka menganut ajaran animisme murni tanpa sentuhan Hindu dan Budha di dalamnya. Itu membuat Islam mudah masuk ke dalam masyarakat, karena dianggap tidak ada pertentangan dalam adat dan Islam. Selain itu, semboyan “Adati hula hula Sareati, Sareati hula hula to Kitabullah” yang artinya, Adat Bersendikan Syara, Syara Bersendikan Kitabullah (Al-Quran) telah menjadi falsafah dalam kehidupan masyarakatnya. Maksud semboyan itu adalah menjunjung tinggi adat berdasarkan aturan (Al Quran).

Keadaan tersebut didukung oleh kedudukan Sultan yang tidak lepas dari kehidupan Islam. Rumah seorang Sultan bahkan berdekatan dengan masjid dan tidak mewah. Dalam pemerintahannya pun dari dulu hingga sekarang tetap memegang teguh ilmu akidah. Dalam ilmu akidah itu diajarkan dua puluh sifat Allah, itu semua dijadikan sebagai pegangan dan amalan yang harus dilakukan kepada pejabat tinggi pemerintahan.

Tentu hal ini patut dicontoh seluruh masyarakat dan petinggi pemerintahan di Indonesia dalam menjalankan amanah. Dengan menjalankan syariat agama secara baik, maka akan mengurangi keburukan yang mereka perbuat. Dapat dikatakan jika pemimpinnya sudah menjalankan dengan baik maka itupun dapat menjadi contoh untuk rakyatnya, sehingga dapat menciptakan tatanan pemerintahan yang bersih dan dapat dipercaya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Haikel Altajulfa
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, jurusan Teknik Grafika & Penerbitan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini

Organization