Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Psikologi Pemuda

Psikologi Pemuda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Psikologi Pemuda".
Cover buku “Psikologi Pemuda”.

Judul Buku: Psikologi Pemuda
Penulis: Sirot Fajar
Penerbit: Mitra Pustaka Nurani, Yogyakarta
Tebal: xvii+178; 13×20
Cetakan: 1; Oktober 2013
ISBN: 978-979-99042-7-0

dakwatuna.comKita sering mendengar ungkapan Bapak Proklamasi Indonesia yaitu Presiden Soekarno yang mengatakan, “Berikan padaku 10 pemuda maka dengannya aku akan mengguncang dunia.”  Dan jauh sebelum itu khalifah Umar bin Khatthab membuat pengakuan, “Kalau aku dihadapkan pada masalah besar, maka yang kupanggil pertama kali adalah seorang pemuda.”

Lalu siapakah pemuda itu? Buku ini mengupas pemuda mengupas dari perspektif lain: Psikologi. Namun, jangan dibayangkan buku ini akan rumit dengan teori-teori psikologi yang membuat kening berkerut, karena Penulis dengan apik dapat menyampaikan gagasannya sehingga memudahkan pembaca.

Selain itu, dengan tegas penulis menjelaskan bahwa dalam bukunya tidak akan membahas teori-teori perkembangan pemuda dan masalah yang dihadapinya, tetapi lebih menekankan pada bagaimana seharusnya pemuda itu menjadi; bagaimanakah seharusnya pemuda itu menjalani kehidupannya dengan sebaik-baiknya dan bermanfaat bagi umatnya.

Dalam bab pembuka, penulis menjelaskan mengapa ia memakai istilah ‘psikologi’: “bahwa psikologi berusaha mempelajari pribadi manusia tidak sebagai “objek” murni, akan tetapi meninjau manusia sebagai subjek aktif dengan ciri sifat-sifatnya yang unik. Subjek yang aktif itu diartikan sebagai perilaku dinamis dengan segala macam aktivitas dan pegalamannya.” (hlm: 5).

Memang, istilah psikologi pemuda tidak sepopuler istilah psikologi remaja. Maka dalam buku ini penulis mencoba menjelaskan perbedaan antara pemuda dan remaja. Dengan mengutip pendapat pakar Sosiologi Kenneth Kenniston, penulis menyimpulkan perbedaan antara keduanya. Pemuda: adanya perjuangan antara membangun pribadi yang mandiri dan menjadi terlibat secara sosial. Remaja: usaha untuk mendefinisikan dirinya. Itu sebabnya kebanyakan pembahasan tentang remaja lebih banyak membahas tentang konsep diri, identitas, dll.

Maka, pemuda bukanlah orang yang sibuk dengan dirinya sendiri. Sebab, yang demikian itu adalah apa yang dilakukan oleh para remaja. Pemuda adalah mereka yang mulai berpartisipasi untuk kemudian berkontribusi. Ia adalah orang yang berusaha membangun kemandirian dan keunggulan dirinya. Dengan apa yang dimilikinya itulah, ia kemudian berperan aktif dalam lingkungan sosialnya, dan berkontribusi terhadap umat. (hlm: 12)

Secara psikologis pun ternyata memang pemuda harus peduli terhadap umat. Pemuda tidak boleh egois, hanya memikirkan diri sendiri. Kedewasaan pemuda bukan sekadar tercapainya usia yang semakin tua saja. Seorang pemuda itu bisa disebut dewasa jika dalam dirinya sudah ada ciri-ciri psikologis tertentu sebagai tanda kedewasaan. Di antara ciri-ciri psikologis tersebut, menurut G.W. Allport adalah: extension of the self (pemekaran diri sendiri).

Pemekaran diri sendiri (extension of the self), yang ditandai dengan kemampuan seorang untuk menganggap orang atau hal lain sebagai bagian dari dirinya sendiri juga. Perasaan egoisme (mementingkan diri sendiri) berkurang, sebaliknya tumbuh perasaan ikut memiliki. Salah satu tanda yang khas adalah tumbuhnya kemampuan untuk mencintai orang lain dan alam sekitarnya. (hlm: 71).

Membahas masalah pemuda, buku ini pun tidak ketinggalan membahas masalah cinta. Sebuah masalah yang khas anak muda. Tapi bukan tanpa alasan jika penulis memasukkan tema cinta. Menurutnya, pemuda dan cinta merupakan hal yang lekat. Begitu lekatnya antara pemuda dan cinta sampai dalam Theories of Personality dituliskan bahwa, “Cinta: Kekuatan Dasar Dewasa Muda.” (hlm: 127)

Tak ketinggalan, di bab akhir penulis membahas masalah-masalah yang mengancam anak muda dan bagaimana menghadapinya. Dan akhirnya, buku ini hanyalah sebuah ikhtiar kecil dari penulis untuk menyajikan bacaan bagi kaum muda dan yang perhatian padanya. Buku ini adalah wasilah yang dijadikan penulis untuk mengajak saudara-saudaranya sesama muda, untuk memahami masa mudanya. Sebagai ikhtiar untuk menjadikan umat ini tersenyum, karena ada pemuda-pemuda yang mulai peduli dengannya.

Sebuah buku yang harus dibaca oleh para pemuda muslim…

(pirman/hdn)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lukman Hari Wahyudi
Mahasiswa Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya angkatan 2011. Aktif di Klub Dakwah Kampus.

Lihat Juga

Dari Pemuda untuk Kejayaan Peradaban