Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Manusia; Kekuatan Besar di Balik Kelemahan

Manusia; Kekuatan Besar di Balik Kelemahan

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comManusia di dalam alam semesta ini bagaikan anak kecil yang lemah tapi dicintai. Dia menyimpan sebuah kekuatan yang besar di balik kelemahannya; dia menyimpan kemampuan yang luar biasa di balik ketidak-mampuannya. Karena dengan kekuatan rasa lemahnya dan kemampuan rasa ketidak-mampuannya, banyak sekali makhluk di bumi ini yang ditundukkan untuk membantunya.

Maka jika manusia menyadari kelemahannya, lalu memohon kekuatan kepada Allah SWT; menyadari ketidak-mampuannya, lalu memohon kemampuan dan pertolongan kepada Allah SWT, baik dengan ucapan ataupun perbuatan; dan dia juga mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan kepadanya, maka Allah SWT akan memudahkannya mendapatkan apa yang diinginkan. Semua keperluannya akan diperoleh, bahkan akan mendatanginya dengan sukarela.

Padahal semua itu mustahil akan didapatkannya bila dia hanya mengandalkan kemampuan dirinya sendiri yang sangat terbatas. Bahkan sepersepuluh tujuan itu pun tak akan didapatkannya. Namun kadang manusia melakukan kesalahan, jika dia berhasil mendapatkan sesuatu melalui doa perbuatannya, dia kadang mengalamatkan kemampuan itu kepada dirinya sendiri.

Aku akan memberikan sebuah contoh. Kekuatan yang ada di balik kelemahan anak ayam yang masih kecil membuat induknya berani melawan singa untuk mempertahankan dan membelanya. Kekuatan yang berada di balik kelemahan seekor anak singa telah menundukkan induknya yang buas untuk mencarikan makanan. Sehingga kadang terjadi sesuatu yang ironis, induk singa yang buas dan kuat itu bisa saja kelaparan, padahal di waktu yang sama, anaknya yang masih lemah malah sedang kekenyangan. Oleh karena itu, harus diperhatikan betul bahwa tenyata ada kekuatan yang sangat besar di balik sebuah kelemahan. Bahkan harus kita akui bahwa rahmat Allah SWT akan selalu berada pada kelemahan itu.

Seorang anak kecil yang lembut dan disayang akan mendapatkan kasih sayang dari orang lain akibat kelemahannya. Jika menangis, dia akan mendapatkan apa yang diinginkan. Orang-orang yang perkasa, bahkan raja sekalipun akan tunduk kepadanya. Jika yang didapatkan dengan kasih sayang itu adalah seribu, maka dia tidak akan mendapatkan satu pun jika hanya mengandalkan kekuatannya yang sangat kecil. Kelemahan dan ketidak-mampuannyalah ternyata yang telah menggerakkan dan menimbulkan perasaan kasihan dan keinginan untuk melindunginya. Bahkan jarinya yang sangat mungil akan dapat menundukkan orang-orang dewasa, baik raja atau penguasa sekalipun.

Jika saja anak kecil itu mengingkari dan tidak mengakui kasih sayang itu, lalu dengan bangga mengucapkan sebuah kebodohan, “Akulah yang telah menundukkan orang-orang kuat itu dengan kekuatan dan kemampuanku sendiri.” Maka tidak mengherankan jika dia malah akan mendapatkan caci maki dan tamparan. Demikian juga manusia, jika tidak mengakui rahmat Penciptanya, dan berkata seperti perkataan Qarun, “Sesungguhnmya semua ini kudapat karena ilmuku” maka tidak diragukan lagi bahwa dia akan disiksa Allah SWT.

Oleh karena itu, kedudukan, kemajuan, dan cakrawala peradaban yang dimiliki manusia tidaklah timbul karena kehebatan manusia. Semua itu adalah pemberian dari Allah SWT karena kelemahannya. Itu adalah pertolongan dari Allah SWT karena memang manusia tidak mampu. Itu adalah pemberian dari Allah SWT karena memang manusia sangat fakir dan memerlukan.

Kekuasaan manusia juga bukan berasal dari kekuatan yang dimilikinya, juga bukan dari ilmu yang didapatkannya. Kekuasaan itu melainkan berasal dari rasa kasihan, iba, rahmat, dan hikmah Allah SWT yang menundukkan semua hal itu untuk keperluan manusia.

Benar, manusia akan kalah dengan hewan seperti kalajengking yang tidak bermata, atau ular yang tidak berkaki. Manusia yang lemah seperti itu tidak akan mungkin dapat membuat sehelai kain sutera dari seekor ulat yang kecil, atau mendapat setetes madu manis dari seekor serangga beracun. Semua itu didapatkan berkat kelemahannya yang berasal dari penundukkan Allah SWT atas segala sesuatu yang dikehendakiNya.

Wahai manusia, jika keadaannya demikian, maka hendaklah kau jauhi perasaan egois dan berbangga dengan dirimu. Tunjukkanlah kelemahan dan kemiskinanmu di depan gerbang ketuhananNya. Tunjukkanlah kelemahan itu dengan cara meminta dan memohon. Tunjukkanlah kemiskinanmu itu dengan doa dan perasaan hina. Katakanlah bahwa engkau benar-benar hamba Allah SWT yang sebenarnya. Katakanlah: “Hasbunallahu Wanikmal Wakil.” Maka engkau akan segera menaiki tangga-tangga kemuliaan dan ketinggian.

Janganlah engkau berkata, “Siapakah diriku. Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak mempunyai sebuah kelebihan yang membuat Allah SWT secara sengaja menundukkan semesta alam untukku, kemudian memintaku untuk melakukan syukur.” Karena engkau, jika yang dipandang adalah wujud dirimu dan bentukmu, maka engkau tidaklah mempunyai nilai apa-apa.

Tapi jika dilihat dari tugasmu dalam kehidupan, engkau adalah seorang saksi yang cerdas; seorang penonton yang pandai. Engkau bersaksi atas alam semesta yang sangat luas ini. engkau adalah lisan yang pandai dalam bercakap, mengungkapkan apa yang dimaksud alam semesta ini. Engkau adalah pembaca yang cerdik dan teliti, yang mengungkap isi alam semesta ini. Engkau adalah pemimpin yang turut memikirkan semua alam yang selalu melaksanakan tasbih kepada Allah SWT. Engkaulah guru dan arsitek bijak pada ciptaan Allah SWT yang semuanya selalu melaksanakan ibadah kepadaNya.

Benar, wahai manusia. Dari segi tubuh dan dirimu adalah bagian yang sangat kecil dan hina; makhluk yang miskin; hewan yang lemah, yang terombang-ambing di antara gelombang lautan besar makhluk-makhluk Allah SWT yang sangat banyak dan beragam ini. Tetapi, dari segi engkau adalah manusia yang diciptakan sempurna dengan tarbiyah Islamiyah, yang disinari cahaya keimanan yang mengandung cinta Allah SWT, engkau adalah raja atas semua hambaNya. Engkau sangat sempurna dalam kekuranganmu; engkau berpengetahuan luas dalam kekecilanmu; engkau berkedudukan sangat mulia dengan kehinaanmu; engkau pengawas yang berpandangan tajam atas semua yang berada di alam semesta yang sangat luas ini.

Sehingga engkau dapat berkata, “Tuhanku yang Maha Penyayang telah menjadikan bumi sebagai rumah dan tempat tinggalku; menjadikan matahari dan bulan sebagai lentera dan penerangku; menjadikan musim semi sebagai setangkai bunga yang harum semerbak; menjadikan musim panas sebagai hidangan yang sangat lezat; menjadikan hewan-hewan sebagai pelayan; dan terakhir menjadikan tumbuh-tumbuhan sebagai hiasan dan perangkat yang menyejukkan pemandangan rumahku.”

Kesimpulannya, jika engkau menuruti perintah nafsu dan setan, engkau akan jatuh kepada derajat yang paling rendah. Tapi jika engkau turuti perintah Allah SWT dan Al-Qur’an, maka engkau akan dinaikkan kepada derajat yang paling tinggi. Dengan itu, maka engkau adalah benar-benar makhluk yang diciptakan Allah SWT dengan sebaik-baik bentuk. (msa/dakwatuna/disarikan dari Rasailun Nur karya Sa’id Nursi)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 9,06 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Kriteria Manusia Beruntung Menurut Al-Quran