Home / Berita / Opini / Sosok Kakek, Ratu Adil, dan Partai Keadilan

Sosok Kakek, Ratu Adil, dan Partai Keadilan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (pksjateng.or.id)
Ilustrasi. (pksjateng.or.id)

dakwatuna.com Tentang Indonesia masa depan, dalam angan orang-orang lemah yang merasa tertindas, di antara karut marut bangsa yang tak kunjung usai, tentang terwujudnya masa keemasan sebuah negeri yang dipenuhi keadilan, kedamaian dan kemakmuran. Sebuah mimpi yang menjadi sandaran terakhir dan penghibur yang masih tersisa ketika satu demi satu harapan itu pupus, di antara kesulitan hidup yang mereka rasakan.

Kemerdekaan ini, ketika masih menjadi penantian, dalam waktu yang teramat lama, di dalam harapan orang-orang yang bersusah payah memperjuangkannya, adalah mimpi indah tentang kejayaan negeri yang dicitakan itu. Namun sekian lama kemerdekaan itu dicapai, ia tak seindah yang dibayangkan semula, makna kemerdekaan yang sesungguhnya semakin sirna. Cita indah itu seperti masih sama jauhnya atau malah terasa kian jauh.

Kemerdekaan ini tidak menghapuskan keluh kesah orang-orang lemah tentang kesewenang-wenangan dan kezhaliman yang masih leluasa terjadi di negeri ini. Nafsu angkara, keserakahan dan kesewenang-wenangan tak lagi dimonopoli oleh penjajah yang datang dari jauh, semua kebejatan itu juga mampu dilakukan sesama anak bangsa terhadap saudara mereka sendiri. Mengapa kemerdekaan ini tidak hanya mengubur sekian banyak jiwa-jiwa pejuang, namun sekaligus melahirkan manusia-manusia berperilaku nista di antara anak bangsa ini?

Sekiranya para penjajah itu masih mencengkeram negeri ini, masa keemasan negeri yang diimpikan itu rasanya akan mustahil untuk terwujud. Tetapi sekiranya para penjajah itu tidak pergi, mungkinkah juga zaman edan dengan segala kenistaannya bisa berlangsung di negeri ini?

“Partai keadilan! Kok ada yang milih ya?” Kakek berkata dengan terkagum-kagum, bagaimana mungkin di TPS desa ini juga ada yang mencoblos Partai Keadilan.

Apa istimewanya Partai keadilan? Pikir saya, mungkin saja hanya pilihan orang-orang yang asal mencoblos, toh hampir semua partai mendapatkan suara meski hanya satu dua, bukan hanya partai-partai yang memang sudah eksis di sini.

Aneh juga, untuk yang kesekian kalinya kakek begitu antusias dengan sebuah partai yang bernama Partai Keadilan. Sebelumnya setiap bertemu dengan saya, ketika berbicara mengenai kondisi politik saat itu, beliau tak ketinggalan menyebut partai tersebut. Maklum ketika itu masih berada dalam suasana euforia politik pasca reformasi.

Apalagi kakek, saya sendiri saat itu malah belum tahu menahu dengan Partai Keadilan. Hanya mengetahui dari berita di TV dan koran, banyak partai baru bermunculan, biasa saja. Kabarnya yang menjadi ketua adalah anak buahnya Pak Habibi. Jadi saya pikir mungkin partai ini termasuk yang diisukan sebagai produk kroni Soeharto, kelompok yang pro status quo. Jangankan saat itu, hingga Tahun 2009 PKS masih menjadi partai non-parlemen di daerah ini, perolehan suara di kecamatan ini selalu menempati posisi buncit setiap pemilu. Hanya yang saya ketahui tentang Partai Keadilan pada waktu itu, bahwa adalah ia sebuah Partai Islam.

Apakah kakek saya adalah seorang pengagum ideologi revival Islam, gerakan-gerakan Islam kontemporer dan pemikiran dari Timur Tengah? Tidak sama sekali.

Jika 12 tahun kemudian kakek adalah orang yang rajin mendatangi shalat jamaah di masjid, sekalipun berjalan dalam kondisi tertatih sempoyongan, bahkan beberapa kali sempat terpeleset, terjerat kain sarungnya, kondisi beliau saat itu justru sebaliknya. Untuk melaksanakan shalat lima waktu rasanya seperti terpaksa sekali, sekadar menggugurkan kewajiban. Hari-hari beliau adalah kerja, kerja dan kerja. Kadang-kadang ketika hari telah gelap baru pulang dari sawah, kemudian melakukan shalat Ashar dengan amat terburu-buru, entah masih mendapatkan waktunya atau tidak.

Dan tentang sikap beliau mengenai Islam politik, jangan ditanyakan lagi.

“Ya tidak akan bisa, Islam kok mau ngatur negara. Apa ingin meng-arabkan Indonesia?”

“Jual agama untuk cari sandang pangan,” begitulah pandangan beliau terhadap politik Islam dan santri.

Islam dan Jawa, sulit mendefinisikan hubungan keduanya. Sekian lama Islam menjaga Jawa ketika para penjajah datang dengan nafsu angkara murka, nafsu untuk menaklukkan dan menguasai seluruh penjuru dunia. Menghadapi mereka yang ingin menghapus entitas Jawa. Islam telah memberi kekuatan kepada Jawa menghadapi berbagai tantangan dalam waktu yang panjang, namun ketika tantangan itu berlalu (berganti), keduanya saling berpaling.

Islam terkadang masih dipersepsikan sebagai tamu di Jawa. Apakah karena peradaban India datang ke negeri ini lebih dahulu sebelum Islam, apa beda antara India dan Arab, bukankah keduanya sama-sama negeri asing yang jauh? Islam terkadang masih dipersepsikan sebagai ancaman bagi Jawa. Apakah peradaban Barat tidak lebih banyak mengoyak Jawa, menenggelamkan Jawa dalam arus globalisasi, sebuah dunia yang tak mengenal batas? Tetapi jika kita membuka diri seluas-luasnya terhadap semua nilai yang baik dan seluruh teknologi yang bermanfaat, masih akan adakan eksistensi Jawa ini?

Keluarga besar buyut terpolarisasi menjadi dua kubu. Tak seperti kaum laki-lakinya, kaum perempuan di keluarga ini cenderung agamis. Di antara polarisasi itu mereka sering berseberangan pada sikap politik keagamaan hingga berbeda sikap pada pemilihan Kepala Desa. Termasuk nenek saya yang agamis, lebih menyukai datang ke pengajian-pengajian, sementara kakek dan saudara-saudaranya lebih respek pada seorang dukun yang kental mistiknya. Urusannya berputar pada problematika hidup serta jimat-jimat untuk perlindungan dan kesuksesan.

Yang teramat menarik, ketika mbah itu datang bertamu, minta untuk diselimuti, kemudian entah bagaimana pakaian yang dikenakan mbah sudah berganti, suaranya juga menjadi aneh. Pada saat itulah sosok mbah yang baru berbicara tentang hal-hal yang berada di luar jangkauan manusia pada umumnya. Tentang perkara yang akan terjadi di masa datang, baik Indonesia masa depan maupun hal-hal yang bersifat lokal.

Tentang keberadaan jalan raya yang nantinya akan sampai juga ke gunung, lereng gunung yang kelak akan longsor, bukit yang suatu hari nanti akan menjadi kota, hingga pembicaraan tentang negeri ini di masa depan, tentang kedatangan Ratu Adil.

Keberadaan mbah dukun sangat memengaruhi pola pikir kakek saya, membentuk pola pikir yang tidak agamis seperti kaum santri. Mbah dukun itu ya Islam, membangun mushalla dan pernah mengislamkan beberapa mualaf. Tapi Islamnya berbeda dengan Islamnya kaum santri.

Pokoke Jayabayane ngono” (Pokoknya Jayabayanya begitu). Demikian yang selalu diutarakan kakek. Maksudnya bukan hanya yang bersumber dari ramalan Jayabaya semata, tapi semua ramalan dan masa depan yang disampaikan mbah dukun diistilahkan dengan ‘Jayabaya’. Maklum beliau lebih paham Wayang dan Kitab Jayabaya daripada nubuwat Rasulullah tentang akhir zaman.

Ramalan-ramalan indah tentang masa depan memang amat menghibur dan bisa membuat kita terpedaya. Namun yang lebih bermanfaat bagi kita sesungguhnya adalah kerja nyata yang bisa kita perbuat dalam kehidupan ini. Kerja nyata yang mampu kita lakukan meski sederhana, daripada ramalan indah yang hanya sebatas utopia.

Terhadap berbagai nubuwat yang disampaikan Rasulullah, kita mesti meyakininya, dengan tetap menempatkannya dengan hati-hati, sehingga kebenaran nubuwat tersebut tidak diletakkan di bawah keterbatasan dan subyektivitas penafsiran kita. Apalagi terhadap ramalan-ramalan yang diperoleh secara ilegal, yang didapat dari mencuri berita-berita dari langit.

Agar jangan sampai muncul kembali prediksi-prediksi konyol tentang kiamat yang akan terjadi tanggal sekian, Imam Mahdi akan muncul tahun sekian, tahun sekian akan terjadi perang dunia, siapa yang akan menjadi Presiden Indonesia selanjutnya dan sebagainya. Ketika semua itu tak terlaksana, tetap tak ada pihak yang bertanggung jawab.

Baiklah nubuwat-nubuwat itu menjadi kabar gembira tatkala perjuangan ini menghadapi cobaan yang luar biasa berat, saat-saat kita butuh sandaran untuk menguatkan asa yang hampir pupus. Saat-saat kezhaliman sedang berada pada puncaknya, dan kita harus terseok-seok menghadapinya dalam ketidakberdayaan. Untuk sebuah optimisme bahwa masa yang penuh dengan kerusakan ini akan berakhir suatu hari nanti, meski seolah mustahil menurut logika kita hari ini.

Keyakinan yang menjadi pegangan orang-orang yang tertindas, yang menantikan datangnya Imam Mahdi, Ratu Adil, Satria Piningit, Mesias, Kalki Avatar dan dalam berbagai versi lain, yang akan membebaskan mereka, memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kedamaian.

Islam dan Jawa memiliki kesamaan pandangan bahwa sebelum masa indah itu terwujud, mesti didahului masa-masa penuh nestapa, melewati puncak-puncak kezhaliman dan kesewenang-wenangan, kerusakan moral dan kehancuran martabat manusia, fitnah, bencana, huru-hara dan peperangan.

Seperti apa yang dianggap sebagai fitnah akhir zaman, jahiliyah modern, zaman edan atau kalabendu. Saat kebenaran dianggap kebatilan, kebatilan dipuja-puja. Pengkhianat dipercaya, sedang orang jujur menjadi tertuduh. Segala sesuatunya telah terbalik.

Lantas ketika kebejatan itu memuncak, di manakah nilai-nilai luhur Islam dan Jawa saat itu? Mengapa tak mampu mencegah manusia-manusia itu dari perbuatan yang nista? Apa arti nilai-nilai luhur Jawa? Begitu banyak orang-orang berdzikir, berdoa, berbondong-bondong naik haji, namun tak melahirkan manusia amanah yang berakhlak? Apa yang masih salah?

Begitulah yang dikehendaki oleh Tuhan, agar kezhaliman itu menjadi sempurna. Saat kejahatan yang mencengkeram dunia ini mencapai puncak kesempurnaannya, Tuhan Yang Maha Kuasa akan menghancurkannya. Jika saat ini kita merasa sedang berada pada masa itu, di antara kepahitan ini sebenarnya terbersit suatu harapan bahwa masa yang dinantikan itu telah dekat.

Seberapa penting keberadaan Partai Keadilan bagi kakek, saya terlewat untuk menanyakannya, padahal sebenarnya merasa aneh juga dengan kakek, tumben beliau tertarik sesuatu yang berbau Islam. Apa ada hubungan antara Partai keadilan dengan ‘Jayabayanya’. Baru setelah beliau berpulang, terbersit keinginan untuk menanyakan seberapa penting fitur Partai Keadilan bagi kakek atau bagi Indonesia masa depan, dan alhamdulillah pertanyaan itu tak sempat saya lontarkan.

“Partai Keadilan itu partai Islam, ketuanya Nur Mahmudi Ismail.” Hanya itu yang bisa saya jelaskan ketika kakek dengan antusias menyinggung tentang Partai Keadilan.

Mendengar kata Islam, wajar saja beliau kecewa. Hingga saya berpikir beliau besok tidak mengulang lagi pembicaraan terkait Partai Keadilan. Dugaan saya ternyata meleset, pembicaraan itu terulang kembali bahkan hingga setelah Pemilu 1999.

Padahal saya sendiri pada waktu itu tidak tertarik sama sekali dengan Partai Keadilan. Memang saya belum memiliki interaksi dengan orang yang menjelaskan banyak hal tentang partai tersebut. Informasi yang saya terima sebatas berasal dari media-media mainstream yang tidak banyak memberikan gambaran lengkap tentang kalangan Islamis. Baru beberapa tahun kemudian saya mengetahui kalau Partai Keadilan cukup disebut dengan singkatannya saja, ‘PK’.

Mereka itu ternyata terkait dengan buku-buku, majalah dan buletin tentang Islam yang dibawa mahasiswa ketika camping di dekat sekolahan bapak, yang mengisi memori masa kecil saya tentang Islam. Kisah tentang tragedi Bosnia yang sangat menyentuh masa kecil saya waktu itu, yang membangkitkan ketertarikan terhadap Islam. Hanya sebatas itu, tanpa pernah berinteraksi secara langsung dengan mereka.

Perjalanan hidup saya sebelumnya terdampar dari satu dokter ke dokter yang lain, meski berakhir kegagalan. Kekecewaan itu ada, namun saya juga menyadari bahwa para dokter itu manusia biasa yang hanya bisa berusaha. Tapi yang lebih mengecewakan ketika kemudian dalam keputusasaan saya beralih kepada dukun, paranormal dan kiai, dengan berbekal kepercayaan penuh atas kemampuan linuih mereka, sepenuhnya yakin kalau mereka adalah wali yang dekat dengan Allah, yang bisa memenuhi segala hajat kita, menyaksikan sendiri mereka mampu menunjukkan hal-hal yang luar biasa, namun bukan itu sebenarnya, tetapi kesembuhan yang sangat saya harapkan tak kunjung didapatkan.

Hingga diri ini ingin terbebas dari itu semua, meninggalkan amalan-amalan yang masih tersisa, tapi tak semudah begitu saja melepaskannya. Hingga ketika Muhammadiyah di tempat saya kesulitan mendapatkan satu dua orang yang bersedia diajak mengikuti sebuah pesantren kilat, ajakan itu saya terima sekaligus sebagai suatu upaya untuk membebaskan diri dari belitan mistik.

Setelah menikmati euforia kebebasan itu, selanjutnya saya menemui sebuah babak baru tentang umat ini, persoalan dari dalam tubuh umat, tentang firqah, manhaj dan fikrah yang tak kalah rumit dibandingkan peliknya persoalan dari luar. Sedikit-sedikit saya juga mulai mengenal Tarbiyah, yang menawarkan sudut pandang moderat dalam menyikapi ekses dari keragaman dalam tubuh umat ini.

Beberapa tahun kemudian informasi tentang PKS lebih banyak diterima kakek.

“PKS, yang orang-orangnya tidak mau korupsi!” Demikian ujar kakek.

Meski dalam pandangan kakek PKS ini identik dengan Islam, dan selama ini beliau tidak menyukai segala yang berbau Islam, apalagi model Islam garis keras, Wahabi, Masyumi yang dianggapnya bagai momok, tapi beliau telah menaruh harap pada partai ini. Tak seperti yang ditakutkan semula, Islam juga menghasilkan hal-hal yang baik. Meski kemudian saya tahu, harapan itu tak sesederhana yang dibayangkan.

Mungkin selama ini Islam lebih banyak menuntut dan mempersalahkan, daripada mengkomunikasikan kebajikan yang dikandungnya dalam bahasa yang dimengerti mereka, atau memberi solusi yang nyata bagi kehidupan.

“PKS itu berupaya baik pada semua, melakukan pendekatan kepada seluruh umat, menyikapi dengan bijak perbedaan-perbedaan yang ada.” Begitulah kurang lebih yang mampu saya jelaskan.

Rupanya sikap antipati beliau terhadap hal-hal yang berbau Islam sudah berkurang. Bahkan beliau sudah memiliki keinginan menunaikan ibadah haji, sesuatu hal yang selama ini sama sekali tak terpikirkan oleh beliau, padahal dari segi kemampuan finansial mestinya telah mampu sejak dulu.

Kerja dan kerja, demikian yang selama ini beliau jalani. Ketika generasi seangkatan beliau tinggal segelintir orang yang sudah jompo, kemampuan fisik kakek seusia itu sulit untuk dinalar, anak-anak dan cucu beliau secara fisik bahkan masih kalah. Rasanya seperti mustahil, apalagi beliau pernah menjalani operasi yang memotong sebagian ususnya, pernah pula tertabrak sepeda motor hingga mengalami patah tulang cukup parah. Sebenarnya tanpa perlu susah payah bekerja, gaji pensiunan sebagai veteran kemerdekaan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan beliau. Toh jerih payah dari semua yang dihasilkan tak pernah dinikmati oleh beliau yang hidup seadanya. Kami anak dan cucu beliaulah yang meski telah menempuh pendidikan dan banyak yang menjadi pegawai, lebih banyak memanfaatkan hasil jerih payah beliau, ada saja kebutuhan kami yang lagi-lagi masih harus ditopang kakek.

Apakah jimat dari mbah dukun itu di balik keperkasaan fisik ini? Untuk apakah kerja dan kerja yang hasilnya tak pernah dinikmati ini? Apalagi bila etos kerja itu memupus semangat untuk beribadah, memupusnya dengan semangat yang menyala-nyala untuk mengejar dunia, sementara usia terus melaju. Suatu saat saudara kakek sempat berujar ingin melepaskan jimatnya, meski selama ini membuatnya digdaya, namun sebenarnya tak lebih menimbulkan kemudharatan semata. Beliau terkesan dengan anaknya yang mengikuti Salafi, hanya dari sudut pandang sekilas, konsistensi mereka mengamalkan apa yang mereka ketahui, tanpa mengerti apa itu manhaj, ta’wil, tajsim dan sebagainya.

Kepercayaan di sekitar kami, bila ada orang yang berhubungan dengan pesugihan atau jimat bertaubat, akan ditimpa suatu malapetaka, untuk membersihkannya dari kesalahan di masa lalu. Semoga sakit yang kemudian menimpa beliau, hilangnya kedigdayaan beliau, adalah sebuah kesempatan agar beliau memiliki waktu untuk memperbaiki ibadah pada sisa hidupnya, meski teramat sebentar. Satu keinginan yang menjadi ganjalan di hati beliau, sebuah penantian untuk mendapatkan panggilan ke Tanah Suci yang belum tercapai.

Apa yang beliau citakan tentang partai orang-orang jujur (lugu) ini tak begitu saja dengan mudah diraih. Cita ini masih harus ditempa dengan berbagai aral menghadang. Tepat satu hari sebelum kasus LHI meledak, beliau berpulang. Takdir telah ditetapkan bahwa beliau tidak lagi bersama kami pada babak baru perjuangan ini. Apakah cita ini akan kandas, ataukah suatu saat akan mampu terwujud? Masih jauhkah?

Semoga sisi-sisi kebaikan kami yang tak seberapa ini berbuah rahmatNya yang tiada tara bagi kami. Semoga kami diberi kemampuan mewujudkan cita kebaikan beliau, menjadi kebaikan bagi kami, tambahan kebaikan bagi pendahulu kami, dan segenap umat manusia.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Aksi 4 November Murni dari Masyarakat