Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Doa Kesembuhan untuk Salah Seorang Penasihat Terbaik

Doa Kesembuhan untuk Salah Seorang Penasihat Terbaik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Nabi SAW bersabda:

الدين النصيحة

“Agama itu adalah nasihat”

Sebagai manusia biasa, tentulah kita pernah berbuat salah. Dan kewajiban kita sebagai muslim, adalah saling menasihati di antara kita.

Teringat pesan salah seorang sahabat terbaik yang mengatakan bahwa: “Terkadang orang terlalu berharap nasihatnya akan langsung diandel dan diamalkan oleh orang yang ia nasihati. Padahal, penasihat juga memiliki tata cara dan adab-adabnya, agar nasihatnya menjadi lembut, namun langsung menuju titik inti permasalahannya”.

Lalu bagaimana cara dan adabnya? Silakan disimak taujihnya:

1. Ikhlas. Yang ini, adalah syarat terpenting. Allah berfirman

[وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ) [سورة البينة : 5)

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS Al-Bayyinah: 5)

Jadi, apapun amalnya, ikhlaslah kuncinya. Kalau dimasukkan dalam konteks nasihat, maka jadinya, kita menasihati orang dalam kebaikan lillahi ta’aala, untuk memperbaiki keadaan, bukan untuk meraih pujian dan popularitas di kalangan manusia. Jelas kan?

2. Menasihati Secara Rahasia

Dan di antara hal yang membuat orang lebih mudah dalam menyerap nasihat adalah menasihatinya secara rahasia, dengan kata lain, empat mata. Kenapa? Karena dengan menasihati secara rahasia, kita belajar untuk ikhlas dalam menasihati. Kita tidak harus dilihat orang untuk mengoreksi orang lain dari kesalahannya. Dan, agar menjaga nama baik serta martabat orang yang akan kita nasihati. Imam Ahmad rahimahullah menasihati Khalifah Abbasiyyah, Al Mu’tashim Billah, secara empat mata. Dan tindakan menasihati orang di depan umum tentu sangat dibenci. Imam Syafi’i pernah bersyair tentang hal tersebut. Beliau sangat membenci nasihat di hadapan umum:

تعمدني بنصحك في انفراد * و جنبني النصيحة أمام الجماعة فإن النصح بين الناس نوع * من التوبيخ ﻻ أرضى استماعه

“Kau membuatku menasihatimu empat mata, dan jauhkan aku dari nasihat di depan umum, karena nasihat di hadapan umum adalah penghinaan yang aku tak rela mendengarnya”

3. Mengetahui Keadaan Orang Yang Dinasihati

Merupakan suatu kewajiban bagi kita untuk mengetahui keadaan orang yang akan kita nasihati, agar kita tidak salah tembak dalam menasihati orang tersebut.

4. Menasihati Dengan Hikmah

Nah yang ini, orang sering sekali lupa. Nabi SAW adalah orang yang selalu menggunakan hikmah dalam menasihati orang lain. Di antara cara menasihati dengan hikmah adalah dengan pujian. Karena dengan pujian, orang akan lebih nurut dan lebih mau mendengar nasihat kita. Contoh, ketika Nabi SAW menasihati Umar ibn Khattab RA ketika berdesak-desakan dengan orang-orang di Hajar Aswad. Nabi tak langsung menegur Umar begitu saja. Beliau memulai dengan memuji Umar radhiyallahu ‘anhu:

يا عمر، إنك رجل قوي…

“Wahai Umar, sesungguhnya engkau adalah orang yang kuat”

Setelah itu, barulah Rasul menasihati Umar RA:

فلا تزاحمن عند الحجر

“Maka janganlah engkau berdesakan di Hajar (Aswad)”

5. Mengamalkan Nasihat

Ini penting. Allah akan sangat marah apabila kita tak mampu mengamalkan apa yang kita nasihatkan pada orang lain. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُون (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُون (3

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. As Shaff: 2-3)

Perkataan Nabi Syu’aib yang Allah kutip dalam Al Qur’an:

ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْه

“…dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Hud: 88)

Demikian, semoga dengan tata cara dan adab menasihati ini membantu kita untuk lebih bersemangat dalam menasihati sesama muslim, tentu harus saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Postingan ini ditutup dengan perkataan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam:

ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“…aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS Hud: 88)

Rasanya jika para penasihat menjalankan kelima poin di atas hidup di dunia ini akan lebih damai, tenang dan tenteram.

Sebagai manusia biasa dan makhluk sosial, tentu secara pribadi pasti memiliki beberapa orang penasihat yang telah memenuhi kelima kriteria poin tersebut – insya Allah -, mereka ada di dalam album “Ngalap Berkah” ini, dan perlu diingat, tempat pengaduan terbaik hanya Allah SWT.

Bagi saya, para penasihat dan keluarganya sudah seperti orang tua dan keluarga sendiri, mereka pun selalu masuk dalam daftar doa khusus sebelum mengaji dan muraja’ah yang dilaksanakan setiap waktu, semoga istiqamah. Ya, baru bisa membalasnya dengan doa, semoga suatu saat nanti bisa membalas jasa-jasa mereka dalam bentuk yang lain.

Bapak Cecep Maskanul Hakim di ruang kantornya. (Irhamni Rofiun)
Bapak Cecep Maskanul Hakim di ruang kantornya. (Irhamni Rofiun)

Inti dari tulisan ini sebenarnya ingin mendoakan salah satu penasihat terbaik yang kondisinya sedang diuji oleh Allah berupa sakit. Meski sakit yang dialaminya ia rasakan sebagai sebuah nikmat. Beliau adalah Bapak Cecep Maskanul Hakim.

“Syafaakallah Waalid, inna libadanika ‘alayka haqqan” (Semoga Allah memberikanmu kesembuhan, Pak. Sesungguhnya tubuhmu juga punya hak, untuk istirahat). Engkau pasti ingat pesan Rasulullah SAW, “Inna li-rabbika ‘alayka haqqan wa li-ahlika ‘alayka haqqan wa li-nafsika ‘alayka haqqan, fa`ti kulla dzii haqqan haqqahu” (Sesungguhnya Tuhanmu punya hak atas dirimu, keluargamu pun demikian, apalagi jiwa ragamu. Maka berikanlah hak sesuai dengan ketentuannya). Semoga bisa diresapi kembali.

Semoga engkau segera pulih kembali, supaya bisa melakukan aktivitas seperti sedia kala dan selalu bersemangat dalam menebarkan energi positif untuk kami semua. Saya selalu ingat akan nasihat-nasihatmu – insya Allah akan diterapkan semampunya – dan kagum akan kesederhanaanmu selama ini.

Mungkin engkau lupa akan nasihat-nasihatmu berikut ini, ya, karena kamu tidak suka mengingat kembali kebaikanmu:

“Justru kesadaran ini yang membuat kita tetap belajar dan berusaha. Yang penting jaga hati supaya tidak tinggi sehingga membuat semua yang ada di otak dan hati jadi hilang. ”

“Yang penting selalu ingat Tuhan. Pasti kita merasa kecil dan tidak ada apa-apanya.”

“Saya hidup bukan mencari pujian atau jabatan atau kemewahan. Buat saya yang penting saya bisa bermanfaat buat umat.”

“Perlu paham ilmu kemasyarakatan. Mengerti watak senior junior lalu ke orangtua dan tokoh. Belajar bagaimana menghadapi para tokoh dan figur terkenal.”

“Saya doakan Anda bisa lebih sukses dari saya.”

“Patuh agama, Semangat jihad, Pintar, Benar, Tinggi Ilmu, Sederhana dalam Harta, Persahabatan dalam perjuangan i’laa’i kalimatillah”

“Jadilah diri Anda sendiri. Yang menentukan sukses itu Ente sama Tuhan.”

“Niat baik seseorang belum tentu dianggap baik oleh orang lain.”

Dan masih banyak lagi nasihat yang lainnya, yang sudah tersimpan rapih di hati. Semoga Segera Sehat Pak! Semangat!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.

Lihat Juga

Sidang Paripurna

Ini Pengakuan Muhammad Syafi’i, Pembaca Doa Penutup Sidang Paripurna