Home / Pemuda / Cerpen / Potret Rumah Usang

Potret Rumah Usang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Perayaan tahun baru telah berlalu. Sebagian orang merasa senang, namun berbeda denganku. Namaku Tegar, seorang remaja pria yang harus menerima kenyataan pahit karena perceraian orang tua. Pasti kalian mengira aku ini pribadi yang tegar bukan? Itu mungkin saja, namun apakah aku ini benar-benar mampu untuk tegar dalam menghadapi setiap masalah? Dulu hidupku begitu kelabu dan sepuluh tahun sudah kulalui hidup di Panti Asuhan Khalifah. Sebuah panti yang berada di pedesaan, bangunannya sederhana, dan orang-orangnya pun baik hati.

Kini, sudah saatnya aku harus meninggalkan panti. Karena aku akan kuliah di Kota Jakarta. Ya, cita-citaku harus terwujud untuk menjadi seorang psikolog. Aku tidak ingin terlarut dalam keterpurukan yang dulu pernah terjadi. Masa depan yang indah harus mampu kucapai. Aku tidak boleh menyia-nyiakan perjuangan pengurus panti, terutama Bu Ina dan Pak Andi. Karena, mereka sudah bersusah payah, mencarikan biaya sekolah untuk kami anak-anak panti. Aku harus buktikan, bahwa perjuangan mereka akan berbuah kebahagiaan.

Terlalu sedih untuk mengakhiri masa-masa indah di panti ini. Rasanya aku masih ingin tinggal berlama-lama lagi. Tak sanggup melihat tetes air mata yang mereka jatuhkan membasahi pipi. Sudahlah, aku yakin ini yang terbaik. Aku sudah beranjak dewasa, aku seorang pria, dan aku tidak boleh terlihat sedih di hadapan mereka. Ya, aku harus tetap tersenyum untuk mengakhiri perpisahan ini. Semoga, senyuman dan doaku untuk mereka akan menjadi kenangan indah untuk terakhir kali. Karena aku tak pernah tahu, kapan akan kembali ke panti ini.

****

       Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam diriku. Sejak melihat pria itu, wajahnya seperti ayah. Tapi, apa mungkin ayah masih mengenal diriku? Ya Allah, mengapa ingatanku selalu kembali ke masa kelabu? Keadaaanku mulai memburuk. Aku tidak fokus saat kuliah, prestasiku menurun. Itu berarti, aku tidak setegar namaku. Ya, aku lemah bagaikan tertusuk anak panah. Pria macam apa diriku ini, tidak berguna, tidak dewasa! Gerutuku dalam hati yang menangis.

Teman-temanku di kampus merasa heran karena perubahan sikapku. Mereka selalu bertanya apa yang terjadi denganku. Aku hanya menjawab, aku baik-baik saja, mungkin sedang tidak enak badan. Hanya satu orang yang tidak percaya denganku, seorang wanita shalihah, namanya Aisyah. Entah, Aisyah selalu dapat mengetahui apa yang sedang terjadi denganku. Untungnya, dia tak pernah menceritakan pada orang lain tentang yang dia ketahui tentangku.

Kehidupanku berangsur normal kembali. Ini berkat Aisyah yang membimbingku agar selalu mengingat-Nya, dalam keadaan sulit ataupun mudah. Karena Aisyah, aku mampu memperbaiki keadaan yang sebelumnya memburuk menjadi baik. Bahagia rasanya, kembali menemukan warna-warni keindahan hidup ini dan aku pun jatuh cinta padanya. Aku berjanji akan melamar Aisyah untuk menjadi pendampingku. Eits, aku lupa, aku kan belum tahu apa Aisyah juga mencintaiku? Aku harus berusaha untuk menemukan jawabannya.

****

     Hari ini, aku harus pindah tempat kos. Penelitian di lakukan di lingkungan rumah elit. Alhasil aku harus pindah ke daerah dekat sana. Tugasku adalah meneliti bagaimana sikap orang tua terhadap anaknya, begitupun sebaliknya. Huh, kenapa harus berkaitan dengan kehidupan kelabuku lagi? Aku rasa ini rencana indah-Nya yang diberikan untukku. Begitu banyak kejadian yang kulalui saat ini selalu berkaitan dengan masa kelabu dulu. Ya, ini sudah takdir-Nya dan aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aku harus semangat melakukan penelitian untuk sidang skripsi. Berusaha semaksimal mungkin diiringi niat dan doa yang baik. Niscaya, hasil baik pun akan diperoleh. Kulalui hari demi hari dengan perasaan bahagia, ku bantu memberikan solusi untuk keluarga yang mengalami masalah. Tak heran, jika aku harus seringkali konsultasi dengan dosen pembimbing. Penelitian ini penuh  dengan misteri, seperti sedang memecahkan teka-teki. Begitu banyak problema yang kuhadapi dengan beberapa keluarga elit. Aku tetap harus tenang dan fokus untuk menyelesaikannya.

Tanpa terasa, seminggu sudah aku melakukan penelitian. Masih banyak rumah yang harus ku kunjungi untuk mencapai target. Ya, aku harus lebih semangat lagi. Aku merasakan ada sesuatu yang pernah kurasakan dahulu. Tunggu, langkahku terhenti di depan rumah elit yang usang. Kucoba mulai mengingat hubunganku dengan rumah itu. Ternyata itu rumah kelabuku, tempat di mana masa kelabu terjadi. Huh, lagi dan lagi, aku harus bertemu dengan memori masa kelabu.

****

Aku berusaha untuk mencari tahu tentang keadaan rumah usang itu. Ku tanyakan pada Pak Iwan tentang penghuni rumah itu. Pak Iwan bilang, dia tidak begitu mengetahuinya, yang dia tahu hanya seorang wanita yang sering berkunjung setiap hari Jum’at. Akupun berpikir, apakah wanita yang dimaksud itu ibuku? Ya, mungkin saja, karena setelah aku tinggal di Panti Asuhan Khalifah, tak pernah lagi kutemukan ayah dan ibu kandungku. Aku berusaha meyakinkan kembali diriku, bahwa itu semua merupakan rencana indah dari-Nya.

Rasanya aneh, kenapa saat ini aku malah sibuk mencari tahu tentang rumah usang itu. Padahal itu bagian dari masa kelabuku, perasaanku mulai tidak karuan. Ingat Tegar, kamu harus fokuskan untuk sidang skripsimu. Jangan sampai memori kelabu kembali menjadi penghalang untuk meraih cita-citamu. Berarti, mulai saat ini aku harus mampu mengatur waktu untuk dua tujuan itu. Tidak hanya itu, kamu juga harus mampu menyatukan ayah dan ibu kembali. Tunggu, kenapa aku harus menyatukan mereka? Sudah jelas mereka memutuskan untuk berpisah. Aku masih bingung dengan kata hatiku.

Jum’at pun tiba, aku sudah berdiri sejak mentari belum terbit. Semua ini, kulakukan untuk mengetahui siapa sebenarnya wanita itu. Tepat pukul 08.00 WIB, kulihat sebuah mobil Avanza berhenti di depan rumah itu. Aku masih terdiam, mengamati keadaan yang kulihat. Seorang wanita berhijab turun dari mobil. Kuperhatikan dengan seksama, ternyata benar itu adalah ibu. Ibu yang selama ini tak pernah menemuiku lagi. Ibu yang saat ini terlihat menua karena usianya. Ya, sepuluh tahun tak bertemu, kini kami dipertemukan kembali di hari Jum’at yang cerah.

Segera mungkin, aku berusaha untuk melupakan masa kelabu. Kuhampiri wanita itu dengan perasaan yang entah aku tidak tahu. Aku terkejut, ternyata ibu masih mengenaliku. Ibu segera memelukku dengan erat dan aku merasakan air matanya menetes sangat deras, hingga membasahi pundakku. Hanya kata maaf dan penyesalan yang tiada henti ibu ucapkan padaku. Tidak lama, kami pun duduk untuk berbincang mengenai yang pernah terjadi selama ini. Aneh, ibu tak mau berbincang di dalam rumah usang itu, tanpa memberikan alasan yang pasti, kami mulai perbincangan di depan rumah usang itu.

****

     Tiba saatnya untuk sidang skripsi, harap-harap cemas itulah yang sedang kurasakan. Alhamdulillah, pertanyaan demi pertanyaan dapat kujawab dengan baik. Akhirnya, tidak lama lagi aku akan mewujudkan cita-citaku sejak dulu. Rasanya bahagia sekali, kabar baik bertubi-tubi menghampiriku. Aisyah, ternyata dia juga mencintaiku dan setelah wisuda nanti aku akan melamarnya. Ibu telah memberikan restu untuk kami berdua, tidak hanya itu, ibu juga akan hadir pada acara wisuda nanti. Ini, pertama kalinya ibu hadir untuk menemaniku, dulu hanya Ibu Ina dan Pak Andi yang selalu setia menemaniku saat acara perpisahan sekolah.

Namun, aku merasakan ada sesuatu yang kurang. Ayah, di mana keberadaannya sekarang? Sudah lama aku tidak melihatnya lagi. Apa yang terjadi dengan ayah? Entah, aku tidak ingin mengingatnya. Rasanya sudah muak untuk mengingat perbuatan ayah di masa kelabu. Ayah selalu marah tanpa alasan, menyakiti hati ibu dan bahkan sering memukulku. Aku belum mengetahui penyebab pasti dari perilaku ayah yang seperti itu. Maklum saja, dulu aku masih kecil dan belum begitu memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Kali ini aku putuskan untuk kembali ke tempat pertama aku melihat ayah. Letaknya tidak jauh dari daerah kosanku yang dulu. Ya, aku harus menemuinya, mencari kebenaran dari peristiwa masa kelabu. Satu jam berlalu, aku belum melihat ayah lagi. Aku harus bersabar, dan ternyata setelah tiga jam menunggu aku melihat ayah lagi. Ingin segera ku menghampirinya, tapi ayah sedang bersama seorang wanita. Terus, kapan lagi aku dapat bertemu ayah? Butuh waktu yang cukup lama, itu berarti aku harus menghampirinya sekarang.

****

     Aku tidak menyangka, ayah masih mengenaliku. Ketika melihatku, ayah melakukan hal yang sama seperti ibu. Aku merasa ayah telah berubah menjadi pribadi yang baik. Seketika, ayah langsung menjelaskan tentang wanita itu. Ternyata dia adalah kakakku, namanya Fatimah, tentunya dari ibu yang berbeda. Ayah bilang, kakakku ini tidak dapat mendengar alias tuna rungu, otomatis dia juga sulit untuk berbicara. Perlahan ayah mulai menceritakan tentang hal di masa kelabu, akupun mendengarkan dengan seksama.

“Sebelum ayah menikah dengan ibu, ayah sudah memiliki seorang istri dan seorang anak perempuan. Namun, nenekmu tidak ingin memiliki cucu yang cacat. Alhasil, nenekmu menyuruh ayah untuk bercerai dan menikah dengan ibumu. Saat itu, ayah belum mampu untuk menerimanya, tapi nenekmu terus memaksa dan akhirnya terjadilah semua hal itu. Tidak lama kemudian, nenekmu meninggal saat dirimu berusia delapan bulan. Dari situlah, ayah mulai menyadari, bahwa ayah harus kembali pada istri dan anak ayah yang dulu. Tapi, ayah juga tidak tega untuk meninggalkanku kalian, maka dari itu ayah masih berusaha untuk bertahan. Ya, kurang lebih hanya sepuluh tahun ayah mampu bertahan untuk itu.”

Lantas, kenapa ayah tidak poligami saja? Tanyaku pada ayah. “Tidak nak, ibumu tidak pernah setuju  jika ayah berpoligami. Sifat-sifat ayah yang dulu itu disebabkan karena tekanan dalam diri ayah. Ayah minta maaf nak, selalu kasar terhadapmu dan ibu.” Ayah, seharusnya aku yang meminta maaf padamu, karena telah berpikiran negatif tentang dirimu. Aku lanjutkan dengan menanyakan ibunya Fatimah. Ayah bilang, ibunya Fatimah sudah meninggal saat Fatimah berusia dua belas tahun. Tepatnya satu minggu setelah perceraian ayah dan ibu.

****

     Inilah saatnya aku harus mempertemukan ayah dan ibu. Di rumah usang itu, ya, kami harus kembali ke rumah usang itu. Rumah usang itulah yang menjadi saksi bisu masa kelabu. Pertemuan mereka sudah kuatur sebaik mungkin, sengaja aku tak membersihkan rumah usang itu. Aku hanya menyiapkan satu meja, empat kursi, hidangan makan malam dan perlengkapan lainnya di depan rumah usang itu. Aku hanya mengundang ibu, ayah, dan Fatimah saja. Aku berusaha dan berdoa semaksimal mungkin, agar usahaku kali ini tidak sia-sia.

Malam pun tiba, aku datang terlebih dahulu di depan rumah usang itu. Kemudian, ayah dan Fatimah datang tidak lama setelahku. Aku khawatir pada ibu, karena ibu belum juga datang. Di mana ibu saat ini? Padahal ibu berjanji akan datang. Ya, kami putuskan untuk kembali menunggunya. Dua jam berlalu, tepat pukul 21.00, rasa lapar sudah tak tertahankan lagi. Akhirnya ibu pun datang, meminta maaf kepada kami karena sudah menunggu cukup lama. Makan malam pun dimulai, nikmat rasanya makan malam bersama ayah, ibu dan Fatimah. Momen indah ini, takkan pernah kulupakan.

Setelah makan malam, perbincangan pun dimulai. Aku yang mengawalinya terlebih dahulu. Memberikan penjelasan tentang tujuan sebenarnya acara ini. Kulihat ekspresi mereka yang sedih, seperti sedang membayangkan masa kelabu itu. Tak lama, aku menyuruh ayah untuk berbicara, menyampaikan sesuatu yang belum ibu ketahui. Begitupun sebaliknya dengan ibu. Aku senang, karena mereka sudah menyadari kesalahannya. Satu hal yang baru kutahui, ternyata ibu sudah pernah menikah lagi, delapan bulan paska perceraian itu. Namun, suami baru ibu sudah meninggal akibat kecelakaan tiga tahun lalu.

****

     Terbilang usia yang sudah cukup tua. Ya, tapi tak masalah. Aku ingin ayah dan ibu menikah lagi. Memperbaiki hubungan yang pernah retak di masa kelabu. Aku ingin merasakan kebahagiaan yang hakiki, kembali memiliki orang tua kandung dan ditambah seorang kakak yang cantik baik hati. Acara pernikahan ayah dan ibu berlangsung dengan baik. Tanpa diduga, dua minggu setelah acara itu. Datang seorang pria shalih, namanya Rizky, dia melamar Kak Fatimah. Ayah kaget, karena tak pernah melihat Rizky sebelumnya.

Rizky menjelaskan, bahwa dirinya telah lama mengagumi Kak Fatimah. Masjid Al-Ikhlas, ya tempat itu merupakan pertama kali dia melihat Kak Fatimah. Perasaan cinta pun datang tanpa diundang, dia yakin bahwa Kak Fatimahlah jodoh untuk dirinya. Lalu kutanyakan apa yang dia kagumi dari Kak Fatimah? “Kak Fatimah seorang wanita shalihah, itu terlihat dari aktivitasnya di Masjid Al-Ikhlas. Tidak hanya itu, Kak Fatimah juga menjadikan kekurangan pada dirinya sebagai kelebihan yang tak dimiliki orang lain.” Jawab Kak Rizky padaku

Rasa syukur terus kusampaikan kepada-Nya. Nikmat ini begitu indah, hidupku menjadi lebih sempurna. Ayah dan ibu sepakat untuk merestui Kak Fatimah dengan Kak Rizky. Sementara aku, sedang sibuk mempersiapkan pernikahanku dengan Aisyah. Ya, H-30 menjelang hari pernikahanku. Tak lupa kuundang seluruh orang yang ada di Panti Asuhan Khalifah. Sungguh, aku sangat merindukan mereka semua. Inilah buah dari perjuanganku, ternyata namaku juga memberikan efek positif untuk diriku. Ya, Muhammad Tegar Susanto, nama yang indah. Sudahlah, sekarang waktunya mempersiapkan pernikahan. Lantas, bagaimana dengan rumah usang itu? Kami melupakannya dan meninggalkannya, karena rumah usang itu hanya berisi kisah kelabu.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Widya sri kurniawati
Mahasisiwi semester 3 di Politeknik Negeri Jakarta. Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan. Bercita-cita menjadi penulis dan selalu berusaha menjadi yang terbaik.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Rumah Impian