Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Sejati Tinggi-Pendek: Ah, Apalah Diri Kita…

Sejati Tinggi-Pendek: Ah, Apalah Diri Kita…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Inet)
Ilustrasi (Inet)

Orang yang meninggi sejatinya adalah pendek (rendah). Demi tinggi, ia suka menjinjit. Ia lupa kedudukan semula, bahwa ia sejatinya pendek.

Orang yang merendah sejatinya adalah tinggi (mulia). Ia merunduk demi selaras dengan lainnya. Betapapun ia merendah, tetap saja ia tinggi.

Maka mengapa kita terjebak mata dalam menilai kedudukan? Mengapa kita mengejar kedudukan hanya demi penilaian mata (manusia)?

Tak mudah menjadi tak terlihat, tapi lebih sulit lagi memperlihatkan apa-apa yang tak terlihat. Karena sejatinya tak ada. Kosong. Naif.

Jika ada kebaikan, apalah diri kita. Segala kebaikan datangnya dari Allah. Maka sejatinya bukan hak kita berbangga bila pujian itu tiba.

Pun jika ada keburukan, apalah diri kita. Memang kita tempatnya khilaf dan lupa. Maka sejatinya bukan kewajiban kita untuk selalu membela semua cela.

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak kecil menggemari segala jenis masakan. Hingga kini senang membaca dan mengakrabi aksara.

Lihat Juga

Pilihan Terbaik-Nya