Home / Pemuda / Essay / Karena Pemuda tidak Lagi Remaja

Karena Pemuda tidak Lagi Remaja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Sesungguhnya Tuhanmu kagum kepada seorang pemuda yang tidak memiliki sifat shabwah (kejahilan dan kekanak-kanakan)” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah 1225; Arbain Ruiyah No.8)

Pakar Sosiologi Kenneth Kenniston mendefinisikan masa muda (youth) adalah periode transisi antara masa remaja dan masa dewasa yang merupakan masa perpanjangan kondisi ekonomi dan pribadi yang sementara. Lebih jauh lagi Kenniston berpendapat bahwa kaum muda berbeda dengan remaja karena adanya perjuangan antara membangun pribadi yang mandiri dan menjadi terlibat secara sosial, berlawanan dengan perjuangan remaja untuk mendefinisikan dirinya.

Jadi remaja dan pemuda itu beda. Itu sebabnya Psikolog University of Texas at Dallas, John W. Santrock, dalam bukunya Life-Span Development membedakan antara remaja dan pemuda. Remaja merupakan transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Dan pemuda merupakan masa dewasa awal.

Jika kita lihat dari pendapat Kenneth Kenniston di atas maka dapat disimpulkan:

  • Pemuda: adanya perjuangan antara membangun pribadi yang mandiri dan menjadi terlibat secara sosial.
  • Remaja: usaha untuk mendefinisikan dirinya.

Itu sebabnya kebanyakan pembahasan tentang remaja lebih banyak membahas tentang konsep diri, identitas, dll…

Dari pendapat Kenniston itu juga kita dapat melihat bahwa yang namanya pemuda adalah orang yang melakukan perjuangan untuk membangun pribadi yang mandiri dan menjadi terlibat secara sosial.

Pertama: membangun pribadi yang mandiri. Mandiri dalam hal apa? Sedikitnya ada dua kemandirian yang perlu mulai kita usahakan di saat memasuki masa muda: kemandirian dalam membuat keputusan dan kemandirian ekonomi.

Ketika mulai memasuki masa dewasa, sudah saatnya kita mulai bisa membuat keputusan sendiri terhadap masalah-masalah yang kita hadapi. Ini menuntut kita untuk berfikir lebih dewasa. Biarpun demikian, selama masih berada dalam asuhan orang tua, kita harus tetap bermusyawarah dengan mereka. Selain itu juga, sebagai seorang pemuda, ia harus mulai berusaha untuk mandiri dalam hal ekonomi.

Kedua: menjadi terlibat secara sosial. Ketika memasuki masa muda, sudah seharusnya seorang pemuda itu mulai terlibat secara sosial. Ini bukan masalah pergaulannya yang semakin luas. Tidak! Tapi ini lebih pada kesadaran dalam dirinya bahwa ia adalah bagian dari lingkungan sosialnya.

Di kampung saya sering sekali ada Sayan, yaitu bekerja bersama-sama untuk tetangga yang minta bantuan dan itu tidak dibayar. Misalnya ketika menaikkan genteng untuk rumahnya. Karena membutuhkan tenaga banyak maka minta bantuan ke para tetangga. Atau contoh lain ketika kerja bakti membangun masjid, mushalla, dan sekolah. Siapakah yang akan dilibatkan dalam kerja-kerja sosial itu? Umumnya adalah bapak-bapak. Dan sebagian kecil pemuda. Remaja? Hampir tidak ada. Karena memang mereka belum waktunya untuk ikut itu. Inilah sedikit penjelasan mengenai terlibat secara sosial.

Dalam Delapan Mata Air Kecemerlangan-nya, Anis Matta menjelaskan bahwa untuk merekonstruksi ulang manusia Muslim dapat melalui tiga tangga kehidupan: Afiliasi, partisipasi, dan kontribusi. Afiliasi adalah tangga awal di mana seorang bergabung dan memperbarui kembali komitmennya kepada Islam; menjadikan Islam sebagai basis identitas yang membentuk paradigma, mentalitas dan karakternya.

Partisipasi adalah tangga kedua di mana seorang Muslim telah mencapai kesempurnaan pribadinya, dari mana kemudian ia melebur ke masyarakat, menyatu dan bersinergi dengan mereka, guna mendistribusikan keshalihannya.

Tangga terakhir adalah kontribusi, di mana seorang Muslim yang telah terintegrasi dengan komunitas dan lingkungannya berusaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas hidupnya. Bahwa setiap orang yang berpartisipasi itu benar-benar dapat mencapai tingkat paling optimal dalam memberikan kontribusi kepada Islam.

Kalau boleh mengkiaskan, maka bagi saya masa remaja adalah masa untuk melakukan afiliasi, dan ketika mulai memasuki masa muda — selain berafiliasi — adalah saatnya untuk berpartisipasi untuk kemudian berkontribusi.

Akhirnya, pemuda bukanlah orang yang sibuk dengan dirinya sendiri. Sebab, yang demikian itu adalah apa yang dilakukan oleh para remaja. Pemuda adalah mereka yang mulai berpartisipasi untuk kemudian berkontribusi. Ia adalah orang yang berusaha membangun kemandirian dan keunggulan dirinya. Dengan apa yang dimilikinya itulah ia kemudian berperan aktif dalam lingkungan sosialnya, dan berkontribusi terhadap umat. Maka ia pun menjadi sosok yang dirindu umat.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sirot Fajar
Mahasiswa. Sang Pembelajar di Psikologi Universitas Negeri Surabaya; penulis buku Psikologi Pemuda & 30 Renungan Agar Sukses Menjalani Hidup; pernah jadi ketua Klub Dakwah Kampus Unesa.

Lihat Juga

Sarasehan Remaja Berbicara” yang gelar oleh Garuda Keadilan bertempat di Balong Dalem, Kuningan. Ahad (28/8/2016). (Azhar Fakhru Rijal/Garuda Keadilan)

Garuda Keadilan Kuningan Gelar “Sarasehan Remaja Berbicara”