Home / Berita / Perjalanan / Melewatkan Malam Tahun Baru Bersama Kang Aher

Melewatkan Malam Tahun Baru Bersama Kang Aher

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Kang Aher dan bu Netty didalam masjid gedung sate (1/1/14) (Foto: aki awan)
Kang Aher dan bu Netty didalam masjid gedung sate (1/1/14) (Foto: aki awan)

dakwatuna.com – Bandung.  Berkesempatan menemani kang Aher mengisi agenda malam pergantian tahun 2013/2014 menciptakan kesan dan keharuan sendiri bagi kami. Maghrib belum tiba, kami sudah berkumpul di Gedung Pakuan, menghindari macet tentunya, dan bersiap lebih awal.

Maghrib dan Isya itu kita shalat berjamaah di Masjid Pakuan diimami langsung oleh kang Aher. Ba’da Shalat, seperti biasanya kang Aher menyapa kami satu per satu, bersalam-salaman.

Bahkan ba’da Maghrib itu kami sempat berbincang ringan tentang tanaman-tanaman di sekitar masjid, yang beberapa ditanam langsung oleh beliau. Berpindah dari satu pohon ke pohon lain, kelengkeng, petai,  jambu Kristal. Beliau malah sempat membersihkan daun-daun kering di antara beberapa tanaman tersebut.

Lepas Isya kami menuju lokasi pertama, yaitu Pusdai Bandung. Dalam acara Muhasabah akhir tahun, di sana kami bertemu dengan kang Deddy Mizwar, yang sudah tiba terlebih dahulu. Tak berapa lama kang Aher langsung diminta naik untuk menyampaikan taushiyah.

“Dalam Islam baik qamariyah maupun Syamsiah memiliki makna tersendiri, ia merupakan tanda kebesaran Allah yang juga berhubungan dengan peribadahan” jelas kang Aher membuka Taushiyah.

Di akhir taushiyah kang Aher mengutip kisah penaklukan Konstantinopel oleh Al Fatih:  “menang itu, bisa berarti kita hebat menghantam lawan! Bisa juga berarti kita hebat bertahan dari hantaman lawan, hingga mereka capek”.

“Tidak sempatnya Al Fatih menaklukkan Roma juga mengajari kita bahwa Allah membagi bagi pahala besar itu, Ia tidak mengumpulkannya pada satu orang saja” jelas kang Aher menutup Taushyiahnya.

Di pintu keluar Pusdai, kang Aher dicegat oleh beberapa adik jurnalis dari Rohis Indonesia. Dan kang Aher menyempatkan waktu untuk menjawab wawancara mereka.

Dari Pusdai kita ke Gedung Sate untuk memberikan anugerah pada tim Pekan Olahraga Nasional (Pornas) Korpri Jawa Barat yang berhasil menjadi Juara Umum. Di sana kang Aher diminta lagi memberi sambutan: “semua yang dikelola dengan baik ini, juga akan menghasilkan prestasi yang baik juga” ujar kang aher.

“ya ini contohnya, Pornas Korpri, ketika kita kelola dengan baik, jadi juara umum kita!” pungkas kang Aher.

Di Gedung sate, kang Aher dan Bu Netty  menyapa warga yang ikut menikmati hidangan khas Sunda  dan menikmati lagu-lagu dari KPJ (Komunitas Penyanyi Jalanan), juga sempat ikut membakarkan jagung untuk masyarakat.

dan membacakan puisi:
Asa Yang Selalu Membara


Mari hamparkan asaku, asamu, asa Indonesia kita
Pada lembaran baru yang pasti berwarna
Curahkan segenap rasa dan cinta
Wujudkan mimpi lewat kerja

Sebelum pulang ke Rumah dinas, kang Aher masih memiliki agenda terakhir, yaitu mengunjungi rekan-rekan kerjanya yang sedang lembur di gedung sate, menyelesaikan pekerjaan yang harus selesai per  1 Januari 2014.

Ternyata makan waktu cukup lama, kami melihat ini bukan sekedar formalitas. Di beberapa ruang kerja itu kang Aher benar-benar berbincang dengan pegawai gedung sate, menanyakan kesulitan, melihat sampai sejauh mana pekerjaannya. Dari ruang ke ruang kang Aher mengunjungi pegawai yang masih lembur.

Setelah itu kita pulang ke Pakuan, tapi ternyata pukul 00.15 itu jalanan macet total, patwal dan tim kang Aher meminta untuk menunggu agar kemacetan terurai dahulu. Kang Aher, kang Deddy Mizwar dan Bu Netty menunggu di masjid Gedung Sate.

Di dalam masjid kang Aher berbincang bincang dengan beberapa pegawai rumah tangga Gedung Sate, membahas ruangan masjid, pintu, sampai sajadah. Ada beberapa detil yang menarik bagi kang Aher, tentang sajadah misalnya, kang Aher mengusulkan karpet sajadahnya jangan memakai karpet yang ada motif pembatas antara jamaah, itu akan menyebabkan renggangnya shaf, karena beberapa jamaah cenderung akan mengambil tempat satu batas per orang, alih – alih merapatkan shaf.

Perbincangan di dalam masjid melebar ke tema-tema lainnya, salah satunya kang Aher berujar “Pemimpin Indonesia kedepannya harus turun ke lapangan, jangan Elitis, sehingga tau permasalahan sebenarnya di masyarakat”

Bu Netty masih di luar, yang kemudian masuk, di sini kita disuguhkan  romantisnya kang Aher dan Bu Netty.
“bapak ke mana aja” Tanya Bu Netty becanda.
“Lah orang dari tadi di dalam, makanya kalau ilang cari dong” jawab kang Aher.
“ini minum” sambung kang Aher memberikan Air kemasan pada Bu Netty
“diapain pak?”, “ya diabisin lah” jawab kang Aher..

Akhirnya tim Patwal menginformasikan kalau jalanan sudah mulai terurai dan kita sudah bisa pulang..

Malam ini kami berkesempatan mengenal kang Aher lebih dekat, kepemimpinannya, sisi motivatornya, Romantismenya, keluwesannya dalam berinteraksi dengan pegawai. (aki awan/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 8,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Tahun Baru Islam, Umar, dan Momen Berhijrah