Home / Berita / Internasional / Asia / Indonesia, Saudara Kami Yang Jauh Yang Selalu Memperhatikan Palestina

Indonesia, Saudara Kami Yang Jauh Yang Selalu Memperhatikan Palestina

Perwakilan Adara Relief International Latifah Hariri (kiri) bersama KNRP memberikan bingkisan cinderamata, kepada salah satu keluarga janda pengungsi Palestina Ummu Fatmah, di Zarqo Jordania (Foto: adarainternational.org)
Perwakilan Adara Relief International Latifah Hariri (kiri) bersama KNRP memberikan bingkisan cinderamata, kepada salah satu keluarga janda pengungsi Palestina Ummu Fatmah, di Zarqo Jordania (Foto: adarainternational.org)

dakwatuna.com – Amman, Jordania.  Adara Relief International adalah Lembaga Wanita Indonesia yang fokus terhadap permasalahan anak dan perempuan Palestina, saat ini mengirim utusannya bersama dengan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) mengunjungi langsung para pengungsi asal Palestina di Jordania, sejak 27 Desember sampai 3 Januari 2014.

Kedatangan Adara ini bertujuan memberikan keceriaan melalui bingkisan, bantuan dan kegiatan jelang awal tahun 2014, hal ini diungkapkan perwakilan Adara Latifah Hariri di Amman Jordania, Senin (30/12).

Perempuan yang akrab disapa Teh Ipun ini mengatakan, Adara dan dua organisasi lainnya turun langsung ke rumah-rumah para pengungsi sehingga kita dapat mengetahui bagaimana kondisi para pengungsi, selain itu kita berupaya untuk mengumpulkan anak-anak dan para janda untuk mengadakan sebuah acara.

“Acara ini sebagai hiburan untuk mereka dan Adara akan membagi keceriaan dengan memberikan sedikit bingkisan dari bantuan rakyat Indonesia yang kami kumpulkan,” tuturnya.

Ada 2 juta pengungsi Palestina di Jordania, sedangkan penduduk Jordania sendiri di perkirakan berjumlah 6 juta jiwa. Ada 10 daerah pengungsi Palestina yang ada di Jordania, salah satunya adalah Zarqo.

Saat kunjungan pertama di pengungsian yang kumuh, Adara berkesempatan ke rumah seorang janda Ummu Fatmah, Ummu Fatmah memiliki 7 anak, dan anak bungsunya berumur 4,5 tahun, sampai saat ini belum bisa berdiri dikarenakan mengalami gizi buruk. Ummu Fatmah tetap berusaha sekuat tenaga membesarkan anak-anaknya,

“Adara memberikan bingkisan kepada keluarga Ummu Fatmah dan insyaa Allah bantuan lainnya segera menyusul,” jelas pimpinan lembaga Pesantren Ummu Habibah, Tangerang Banten ini.

Kunjungan selanjutnya menuju pengungsi asal Nablus Palestina dari keluarga miskin. Ummu Layali beliau memiliki 3 orang anak.  Saat tim Adara, KNRP dan PII berkunjung ke rumah yang sangat sederhana, kecil dan memprihatinkan namun sangat bersih dan rapih. Suami ummu Layali beliau saat itu sedang sakit, namun memaksakan diri untuk menemui kita.

“Bahkan sang suami yang sakit ini sangat memuliakan tamu, sampai-sampai kita ‘ditahan’ pulang untuk hanya sekedar minum teh, padahal kehidupan mereka sangat memprihatinkan, dan sang suami mengatakan, Anda Saudara kami yang jauh, yang selalu memperhatikan kami bangsa Palestina,” tuturnya.

Latifah menambahkan, Selasa (31/12) besok (hari ini –red), Adara akan lanjutkan misi ini dengan mengunjungi beberapa daerah pengungsian yang lain, targetnya di tempat yang paling memprihatinkan dan terbelakang,

“Ke depan fokus kita dalam membantu mereka bukan hanya dari segi finansial saja tapi terpenting adalah membangun SDM yang kuat dari segi pendidikan, kesehatan dan keterampilan, supaya mereka menjadi pribadi yang berkualitas dan selalu dapat  berjuang untuk mempertahankan tanah airnya dan kembali lagi ke negaranya dalam keadaan merdeka,” tutup Latifah. (adara/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (24 votes, average: 9,42 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Bersama ASPAC, UIN Syarif Hidayatullah Gelar Seminar 69 Tahun Pembagian Palestina