Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bermula dari Masjid

Bermula dari Masjid

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Masjid Agung Jawa Tengah. (travel.nationalgeographic.com / Aditya Aji Nugraha)
Ilustrasi – Masjid Agung Jawa Tengah. (travel.nationalgeographic.com / Aditya Aji Nugraha)

dakwatuna.com Pekerjaan pertama yang dilakukan Rasulullah setiba di madinah adalah membangun sebuah masjid, karena masjid menjadi tempat berkumpul orang-orang muslim dan membicarakan segala urusan, mulai dari ketuhanan, kehidupan rumah tangga, sosial serta urusan jihad pun diputuskan di masjid. Semua itu menggambarkan betapa besarnya fungsi masjid bagi tumbuh kembangnya Islam.

Di masjid, Rasulullah mendidik dan membina para sahabat baik itu urusan dunia begitu juga dengan urusan akhirat. Maka dari masjidlah muncul manusia-manusia cerdas, kuat, pemberani dan shalih kepada Rabbnya. Padahal dahulunya mereka adalah budak dan orang-orang miskin.

Penggalan sejarah itu memberitahu kepada kita bahwa ada pergeseran fungsi masjid yang telah berubah. Di zaman kita sekarang masjid hanya  berfungsi untuk merayakan hari besar Islam saja, akan tetapi di hari-hari lain masjid-masjid kita temukan kosong dari jamaah, padahal begitu besar pahala yang Allah berikan kepada orang yang memakmurkan masjid, di antaranya :

Dari Abu Hurairah meridhai Allah atasnya, nabi Muhammad saw bersabda: “tujuh golongan yang Allah lindungi, pada hari itu tiada perlindungan selain lindungan-Nya…seorang laki2 yang hatinya terpaut dengan masjid…” (Muttafaqun ‘alaih)

Ketika kita ingin merubah sebuah tatanan dalam masyarakat kita, maka hendaklah di mulai dari masjid, banyak hal yang bisa di ajarkan melalui masjid. Karena fungsi masjid pada dasarnya adalah, mendidik dan membina orang-orang muslim.

Itu semua dapat kita ketahui dari awal berdirinya HAMAS dan intifadhah yang dilakukan oleh rakyat Palestina dalam menentang kezhaliman yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Syekh Ahmad Yasin mendidik anak-anak muda yang sering ke masjid untuk memahami Islam secara benar dan menentang kezhaliman.

Kisah yang sama juga kita temui dalam kisahnya syekh syahid Hasan al-Banna, bahwa tumbuh kembangnya fikrah yang dibawanya adalah melalui masjid, maka kita temukan dalam kehidupannya, bahwa dia memberikan taujih di masjid yang berbeda setiap kali shalat lima waktu, itu semua untuk menanamkan fikrah.

Pada akhirnya, harus ada rekonstruksi pemahaman kita dalam menggunakan masjid, karena di era yang begitu sulit untuk menjaga keimanan kita, mestinya ada masjid yang digunakan untuk menempa masyarakat kita, baik itu urusan akhirat begitu juga urusan dunia.

Maka semua elemen harus bersinergi dalam memakmurkan masjid.  Pemerintah harus mengambil sebuah kebijakan yang menuntun masyarakat agar memakmurkan masjid begitu juga dengan orang tua, anak tidak dibiarkan lagi asyik dengan kegiatan yang tidak bermanfaat ketika shalat lima waktu tiba. Semua harus bermuara ke masjid karena pada akhirnya kejayaan Islam ini bermula dari masjid.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Ma'had Ali An-Nuaimy Jakarta angkatan ke3. Guru bahasa Arab di Pondok Pesanteren Khalid bin Walid Rokan Hulu Riau.
  • Armadi Okan

    Allahu akbar, mudah2an kita dapat mengembalikan fungsi mesjid…

  • Akhmad Dharmawan

    Subhanallah
    terima kasih infonya
    Jazakallah

Lihat Juga

Ilustrasi. (Aki Awan)

Kelu Lidah di Lelantai Haramain