Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Benarkah Momentum Tahun Baru Kita?

Benarkah Momentum Tahun Baru Kita?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Euphoria berakhirnya tahun 2013 sudah terlihat di mana-mana sejak satu minggu ini. Mulai dari penjual terompet, penjual petasan dan segala asesoris yang bernuansa tahun baru. Belum lagi acara-acara di televisi yang terlihat sangat wah dengan persiapan yang wow, menampilkan acara yang mewah dengan panggung yang megah dan dana berlimpah.   Pergantian tahun baru juga sudah sangat jelas terlihat. Bahkan sebelum malam tahun barupun. Suara petasan sudah terdengar di mana-mana. Kadang bingung sendiri, mengapa kita begitu heboh dengan persiapan-persiapan tahun baru masehi? Bukankah itu perayaan besar buat mereka yang  non muslim? Ah entahlah, coba kita bandingkan dengan perayaan tahun baru hijriah kemarin. Sangat sedikit sekali yang merayakan. Bahkan beberapa orang ketika ditanya, malah tidak tahu.

Bukan hal yang aneh lagi. Ketika malam pergantian tahun baru masehi, di mana-mana bisa macet. Hampir semua orang sepertinya turun ke jalan untuk menikmati pergantian tahun. Bahkan suatu hal yang biasa ketika muda mudi hingga larut malam masih berada di luar rumah dengan orang yang bukan mahramnya, duduk atau sekadar ngobrol di tengah keramaian dengan tujuan menikmati malam pergantian tahun. Malah sebaliknya, sangat aneh bagi mereka yang hanya duduk di rumah.

Yuk kita lihat sejarahnya

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga Dunia.

Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut.

Sahabat Abdullah bin ’Amr RA memperingatkan dalam Sunan Al-Baihaqi IX/234:

”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya Nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”

Masih ingat dengan hadits ini?

“Dan barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”

Jelaslah ketika kita ikut serta merayakan tahun baru masehi, sama artinya kita termasuk ke dalam golongan mereka, na’udzubillah tsumma na’udzubillah

Oleh karena itu, mari kita isi pergantian tahun baru ini (walaupun bukan tahun baru hijriah) dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Misalnya, muhasabah diri. Menghisab diri, sebelum datang masa kita dihisab yang sebenarnya. Mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan di tahun-tahun yang telah lalu. Kemudian membuat perencanaan yang lebih baik di tahun yang akan datang. Semoga tahun depan lebih baik dari tahun ini, agar kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung.

So, teman. Sudah benarkah momentum tahun baru kita?

Wallahu’alam.

Referensi: eramuslim.com

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zahratul Afifa
Lahir di Bengkalis Provinsi Riau pada bulan Desember 1990. Mahasiswi semester 1 pada sekolah Pasca sarjana program studi pendidikan dasar di UPI. Memulai belajar menulis, dan menjadi anggota FLP kota Pekanbaru angkatan VIII pada awal tahun 2013.

Lihat Juga

Pintar vs Benar