Home / Pemuda / Cerpen / Cerita Nisa di Acara Walimah

Cerita Nisa di Acara Walimah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (Inet)
Ilustrasi. (Inet)

dakwatuna.com Nisa terburu-buru memakai baju untuk segera berangkat, tiba-tiba HP-nya bunyi. Terdapat tulisan “Ukh Mia” di layar HP-nya. Nisa bingung untuk mengangkat atau tidak karena dia benar-benar sudah sangat terlambat tapi dia angkat juga karena dia juga kangen dengan saudarinya itu. Percakapan mereka lumayan lama karena memang mereka lama tidak komunikasi lagi dan ternyata Mia menelepon Nisa untuk mengundang Nisa ke pernikahannya tanggal 29 Juni nanti. Nisa merasa sangat bahagia mendengar saudarinya itu mau menggenapkan Diennya. Beberapa kali dia bertasbih atas kabar gembira tersebut. Tapi kemudian dia sadar bahwa tanggal 29 Juni itu adalah akhir bulan. Dia mulai bingung karena dia tidak bisa izin kalau akhir bulan.

Mia: Ana sangat berharap anti bisa datang sebelum hari H tapi kalau memang anti ada kesibukan tidak apa-apa tapi Ana sangat mengharap.

Nisa: Gimana ya ukh? Insya Allah ukh Ana usahakan, kalaupun Ana harus balik hari Sabtunya. Jam berapa akadnya ukh?

Mia: Jam 09.00

Kemudian Nisa berfikir dan menjawab

Nisa: Iya ukh, Insya Allah Ana bisa datang. Kemungkinan Ana berangkat hari kamis sore pulang kantor dan balik hari sabtu jam 10.00 Insya Allah. Gak apa-apa ya ukh? Soalnya Ana belum pernah izin kalau akhir bulan. Belum ada yang bisa gantikan.

Mia: iya ukh ga apa-apa yang penting anti bisa hadir.

Nisa: Sudah dulu ya ukh, Ana mau keluar.

Mia: oh iya, jazakillah ukh

Nisa segera menutup telepon setelah mengucapkan salam dan kemudian melihat jam. “Sudah jam 06.30, saya benar-benar sudah telat, sebaiknya saya sms ustadz dulu” kata Aisyah dalam hati. Kemudian dia sms ustadznya izin terlambat dan ternyata dipersilakan untuk ujian di hari berikutnya. Nisa memang ikut kursus bahasa Arab dan hari itu harusnya dia ujian lisan.

Nisa berangkat ke kantor, dia tidak henti-hentinya memikirkan acara walimah saudarinya nanti. “Kalau saya pulang jam 10.00, kemungkinan bisa sampai di kantor jam 12.00. Tapi kalau pulang jam 10.00, eman banget, trus saya juga rugi karena kepotong, mendingan cuti aja” kata Nisa dalam hati. Dia terus berfikir hingga akhirnya dapat ide…senyumnya melebar, segera dia bermaksud melakukan langkah-langkah untuk merealisasikan idenya. Tapi dia ingat bahwa ma’tsurat paginya terputus tadi, jadi dia putuskan untuk melanjutkan terlebih dahulu dan shalat Dhuha, berharap diberikan kemudahan untuk maksudnya yang terpikir tadi. Setelah itu, dia pun mengerjakan tugas kantor yang harus dilakukan terlebih dahulu di awal hari, setelah selesai, dia bermaksud menelepon orang di kantor pusat. Dia basmalah terlebih dahulu sebelum menekan nomor telepon.

CS Kantor Pusat: Assalamu’alaikum. Bank Syariah bisa dibantu?

Nisa: Wa’alaikum Salam. Minta tolong sambungkan ke pak Budi mbak.

Pak Budi: Halo (Suara pak budi di seberang terdengar serius dan agak seram seperti biasanya he…)

Nisa: Halo Pak. Hm, saya mau minta tolong pak….he he he…

Pak Budi: Opo?

Nisa: Pak, teman saya mau nikah hari sabtu, 29 juni. Nah itu kan akhir bulan Pak. Saya minta tolong bapak handle proses akhir bulannya ya karena Ririz belum pernah. Takut dia bingung karena agak ribet memang kan? Cuman handle proses akhir bulan aja kok pak, nanti jurnal akhir bulannya saya buatkan, dan untuk PPAPnya nanti saya buatkan dari sana. Jadi kalau transaksi sudah selesai, Riris akan kirim datanya ke saya dan saya akan kerjakan dari sana. Bisa ya pak?

Pak Budi: iyo, tapi cuman proses akhir bulan lo yo???

Nisa: iya pak, maka kasih pak….pak budi memang baik hati dan tidak sombong he he he….

Nisa segera menutup telepon dan tersenyum dengan lebar. Dia segera ke depan ketemu Riris yang akan menggantikan tugasnya nanti.

Nisa: Ris, saya mau cuti hari sabtu nanti………………………….. (penjelasan panjang lebar).

Riris: hah mbak, piye mbak, aku wedih mbak. Trus gimana mbak?

Nisa: gak usah khawatir Ris, aku sudah telepon pak Budi untuk bantu kamu.

Riris tidak berhentinya mengeluh yang membuat Nisa agak mangkel.

Nisa: weslah Ris, jangan gitu lah, nek kamu gak masuk, aku gak pernah ngeluh kan? Ini juga penting banget Ris, aku lo rugi nek harus balik ke kantor cuman ngerjain jurnal. Weslah, sudah tak atur. Saya sudah ngomong ke pak budi kok.

Mau gak mau, Riris harus terima. Singkat cerita, jadilah Nisa cuti 2 hari. Jum’at dan sabtu. Nisa berangkat hari Jum’at pagi naik kereta. Ternyata Mia kebetulan ada perlu di kota jadi Nisa tidak harus naik bentor. Padahal sebelumnya dia sudah hitung-hitung harus bayar berapa untuk bentor karena rumahnya Mia lumayan jauh dari stasiun. “Wah, Allah memang sangat perhatian”. Kata Aisyah dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri. Mia datang dengan Motor Birunya. Nisa segera melambaikan tangan. Senyum mereka melebar menandakan rasa senang mereka karena telah lama tidak bertemu. Sesampainya di rumah, Nisa segera menagih penjelasan ke sahabatnya itu kemudian Mia pun bercerita.

Mia: Cuman bentar kok ukh, 2 bulan….eh, termasuk lama sih he……ini jalur keluarga ukh, jadi Ana dikenalkan sama teman dan Ana langsung koordinasikan ke MR. Alhamdulillah MR menyetujui dan diberi pilihan lewat Keluarga langsung atau MR. Dan Ana lewat keluarga langsung ukh tapi MR tetap mendampingi sampai akhir.

Nisa: Hm….tapi dia ikhwan kan ukh?

Mia: Iyalah, masa’ akhwat? Hehe

Nisa: Maksud Ana, dia tarbiyah sama seperti kita.

Mia: Sebenarnya dia sama seperti kita ukh tapi tidak aktif, karena kesibukan pekerjaan ukh jadinya orangnya tidak aktif.

Nisa: Tapi tetap kan ukh?

Mia: Alhamdulillah…

Nisa hanya menyimak sahabatnya itu bercerita sambil beberapa kali bertanya. Dan Mia memberikan pesan singkat untuk Nisa.

Mia: Ana hanya ingin pesan ukh, sebelum akad itu ukh, benar-benar banyak godaan. Keragu-raguan akan muncul walaupun sudah dikhitbah, bahkan Ana sampai sekarang masih bertanya-tanya ‘apakah ini yang terbaik?’

Nisa: Hm….gitu ya ukh? Insya Allah ukh, dia pasti sudah jadi yang terbaik untuk anti.

Nisa sama sekali tidak terpikirkan untuk melihat foto calon suami sahabatnya itu sehingga dia pun tidak tahu bagaimana wajah orang itu.

Tibalah hari pernikahan Mia. Nisa merasa deg-degan saat proses ijab walaupun bukan Nisa yang menikah. Hati Nisa ikut bergetar ketika melihat Mia menangis saat akad. “Subhanallah, semoga pernikahan anti diridhai oleh Allah SWT Aamiin”, kata Nisa dalam hati.

Nisa baru memperhatikan wajah suami temannya saat Nisa meminta mereka berfoto. “Cakep, putih, tinggi”, itu penilaian Nisa awalnya. “Bagaimana ya suamiku nanti?” kata Aisyah dalam hati. Entah kenapa Aisyah merasa tidak enak saat itu, mungkinkah karena umur Nisa yang memang sudah harus menikah? Atau gimana? Nisa membayangkan suami yang memiliki kriteria fisik seperti itu. “Astaghfirullah, kenapa saya membayangkan hal-hal seperti itu?”. Nisa segera beristighfar atas pikiran yang sempat hadir tersebut.

Ada hal yang membuat Nisa terkesan pada walimah sahabatnya itu, bagaimana ukh Mia mengatur acara walimahnya sedetail mungkin, ukh Mia sendiri yang mengatur tata letak tempat duduk antara tamu laki-laki dan perempuan, harus ada hijab dan jalur masuk antara tamu laki-laki dan perempuan berbeda. Dari kejauhan Nisa memperhatikan ukh Mia sambil bergumam dalam hati “Subhanallah akhwat satu itu, dia mengatur sendiri acara walimahnya dan berusaha untuk se”syar’i” mungkin. Bagaimana dengan saya???” kemudian Nisa memperhatikan ibunya ukh Mia di dekatnya yang hanya bisa memandang dan mendengarkan anaknya sambil beberapa kali menyanggah pendapat anaknya yang tidak sesuai dengannya tapi anaknya tetap bersi keras sehingga dengan terpaksa beliau pun manut-manut saja. Nisa kembali bergumam dalam hati “bagaimana dengan saya nantinya??? Nisa membayangkan wajah ibunya dengan watak khas kerasnya, yang ia tahu siapapun tidak akan bisa mengubah pendapat beliau kalau beliau tidak setuju, “tapi bukankah sekarang ibu sudah lebih melunak?” kata Nisa menghibur diri. Tapi kemudian dia membayangkan keluarga besarnya dan pusing sendiri. “Ah, gak usah mikirkan itu dulu. Toh, belum terjadi juga, nanti juga ada jalannya”. Kata Nisa dalam hati dan melanjutkan membantu sahabatnya yang sibuk menata ruang walimahnya besok Insya Allah.

Kembali pada acara walimah.

Nisa sangat sibuk hari itu, menunjukkan tempat duduk untuk tamu perempuan dan terkadang mengantar mereka ke tempat duduknya karena tempat yang disediakan sudah terisi semua. Kemudian ada bapak-bapak yang duduk di tempat tamu perempuan. Nisa jadi pusing sendiri, biasalah orang ammah apalagi orang di kampung. Kemudian Nisa memberi kode pada Hasan, saudara ukh Mia untuk menyuruh bapak itu ke tempat tamu laki-laki tapi Hasan memberi balasan kode bahwa bapak itu tidak mau. “Aduh….”kata Nisa…karena banyaknya tamu yang lain sehingga Nisa harus melayani tamu yang lainnya dan membiarkan bapak-bapak itu di situ sampai akhirnya beliau pun pergi ke tempatnya karena tempat duduk untuk perempuan benar-benar full.

Setelah ceramah walimah selesai dan tamu-tamu sudah mulai pulang, barulah Nisa bisa memperhatikan sahabatnya itu di pelaminan. Nisa memperhatikan pasangan suami istri baru itu di pelaminan. Dan Nisa memperhatikan suami sahabatnya itu, bukan karena dia tampan tapi ternyata dia salaman dengan perempuan. Selain itu, dilihat dari dia berbicara yang begitu “lepas”, Nisa mengambil kesimpulan bahwa dia bukan seorang ikhwan yang tertarbiyah atau seperti yang dikatakan ukh Mia bahwa dia ikhwan tapi sudah tidak aktif. Ataukah ikhwan yang ada di pikiran Nisa tidak seperti itu. Entahlah, Nisa pun bingung sendiri dengan pikirannya dan Nisa tidak mau menjudge orang lain. Seseorang tidak bisa dinilai dari apa yang terlihat. Itu adalah pegangan Nisa selama ini agar dia tidak gampang menilai orang. “Hanif”, seperti itukah kriteria hanif itu yang biasanya Nisa dengar??? “Tidak harus tertarbiyah, tapi hanif”. Seperti itukah hanif itu? Kemudian Nisa berfikir sendiri, andai aku di posisi itu, kuatkah aku bertahan??? Karena ketika ‘jodoh’ku nantinya seperti itu, otomatis akulah yang harus kuat mendakwahi dia, akulah yang senantiasa aktif mengisi dia dengan pemahaman-pemahaman, akulah yang harus lebih kuat untuk mendampingi dia di jalan dakwah ini. Sanggupkah aku untuk melakukan itu??? Ataukah aku malah yang melemah dan terwarnai dengan “kehidupannya”? Tetapi, predikat “ikhwan” tidak selamanya menjamin seperti yang kita inginkan. Teringat perbincangan santai Nisa dengan teman Liqanya yang sudah menikah. Nisa sangat ingat kata-kata beliau. Kurang lebih seperti inilah kata-kata beliau “ukhty, jangan menganggap bahwa “ikhwan” itu pasti shalatnya tepat waktu, ngajinya bagus, selalu shalat lail, shalat jamaah di masjid dan bla bla bla…walaupun seyogianya seperti itu tapi….. “ikhwan” tidak sesempurna itu ukhty, ikhwan juga manusia biasa yang tidak luput dari salah. Terkadang dia melakukan kekhilafan yang tidak seharusnya dan kita harus bisa memahami itu. layaknya kita yang nota bene sudah menyandang gelar “akhwat”, yang kebanyakan orang berpendapat bahwa “akhwat” itu berkerudung besar, lemah lembut, shalihah, shalatnya bagus, ngajinya bagus. Pokoknya bagus-bagus deh. Tapi tidak seperti itu kan? Walaupun harusnya seperti itu. Tapi??? Tidak selamanya kan seperti itu??? Bukankah shalat kita pun terkadang tidak tepat waktu? Terkadang shalat subuh pun bukan shalat subuh lagi karena kesiangan dan lain sebagainya….begitu pun ikhwan seperti itu. Jadi, buang pikiran ‘sempurna’ nya ikhwan di pikiran anti agar anti tidak terlalu kecewa nantinya walaupun kita pastinya mengharap yang terbaik”. Itu adalah pesan dari teman Liqanya Nisa saat itu. Cukup lama Nisa sibuk dengan dirinya sendiri seakan-akan dia hanya sendiri di keramaian acara walimah itu. Nisa pun tersenyum simpul sendiri dan memutuskan untuk tidak terlalu mengkhawatirkan itu. Nisa yakin bahwa yang terpenting adalah menyiapkan diri untuk “momen” itu dan salah satu persiapannya adalah memperbaiki diri sendiri karena Nisa percaya bahwa seperti yang pernah Nisa baca di sebuah artikel yang menyatakan bahwa salah satu ikhtiar kita adalah memperbaiki diri karena yakinlah ketika kita memperbaiki diri maka “dia” pun sekarang berusaha untuk memperbaiki dirinya sendiri untuk menahkodai kehidupan kelak. Dan selalu ingat dalam firman Allah SWT dalam QS An-Nur: 26:

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”.

Dan satu hal lagi, bukankah jodoh sudah ditentukan? Jadi kenapa harus bingung??? “jangan dibingungkan pada sesuatu yang sudah pasti, cukup ikhtiar dan tawakkal, dan yang paling penting adalah NIAT, lebih baik mengerjakan kebaikan lain dari pada disibukkan dengan pikiran-pikiran seperti itu” itu adalah kalimat yang menjadi penutup dan obat untuk Nisa ketika dia terkena penyakit “Galau” memikirkan hal-hal seperti itu he….sekali lagi Nisa tersenyum sendiri memikirkan apa yang telah ia pikirkan dengan serunya sendirian. Ketika ada orang yang memperhatikan, mungkin orang itu akan terheran-heran melihat tingkah lakunya. Kembali lagi, Nisa sibuk melayani tamu sampai ia sadar kalau dia belum makan siang. Dia pun mengambil makan, belum separuh dia makan makanan yang diambilnya, Riris menelpon dari kantor bahwa transaksinya sudah selesai dan saatnya buat jurnal akhir bulan. Dengan sangat terpaksa Nisa harus menghentikan dahulu makan siangnya dan menyimpan sisa makanannya yang belum habis. Rencananya akan dilanjutkan setelah selesai membuat jurnal. Dia pun segera mencari Hasan karena sebelumnya dia sudah berpesan untuk dipinjamkan motor. Nisa pun mencari warnet terdekat tapi karena terburu-burunya Nisa lupa membawa uang sehingga dia harus pulang dulu untuk mengambil uang, untung yang punya warnet mau percaya dengan penjelasan Nisa dan membiarkan Nisa pulang terlebih dahulu. Jadilah Nisa mondar-mandir dengan pakaian kebayanya. Hari yang penuh kesibukan untuk Nisa saat itu tapi sekali lagi, semua kejadian pasti ada hikmahnya. Hari ini Nisa memiliki banyak cerita dan hikmah yang bisa dia ambil. Dan yang tidak kalah penting adalah Bahagianya dia melihat saudarinya menggenapkan Diennya hari ini walaupun dia sadar bahwa mungkin akan ada yang hilang karena dia sudah jadi milik orang lain. Tapi Nisa tetap bahagia dengan Kebahagiaan saudarinya itu di hari itu….” Indahnya Ukhuwah….ukhuwah karena Allah SWT, Subhanallah” kata Nisa dalam hati.

Nisa sudah beli tiket pulang saat tiba di sana untuk sabtu malam itu, sebenarnya dia ingin pulang di hari Ahadnya tapi kebetulan tiket hari ahad sudah habis, bahkan tiket untuk berdiri pun sudah tidak ada. Jadi dia pun beli untuk sabtu malam, Dia pun berpamitan kepada sahabatnya dan kepada ibu dan mbah. Nisa minta maaf karena tidak bisa membantu sampai akhir. Mereka memberikan banyak oleh-oleh untuk Nisa, walaupun Nisa sudah menolak tapi ibu tetap ngotot untuk memberikan. Nisa pun pamit dan melambaikan tangan kepada mereka. Nisa diantar oleh sebagian besar keluarga Mia malam itu, ada Mia, suaminya, ibu, bapak, mbah, tante dan keponakan-keponakan Mia. Nisa sangat bahagia karena merasa memiliki mereka semua sebagai keluarga di tanah rantau ini…..Hari yang sangat Membahagiakan untuk Nisa sekaligus melelahkan…..Tapi seperti biasa, Nisa akan selalu tersenyum untuk dunianya yang begitu indah untuknya dan tidak pernah berhenti untuk bersyukur untuk itu…. Dia pun menikmati perjalanan pulangnya dengan belaian angin malam di malam itu….

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 8,69 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Bekerja di Bank Syariah. Aktif di Iqro' Club di salah satu kota Jawa Timur.
  • Bagus Ibnu J A

    apakah harus dengan sesama tarbiyah?

    • Aisyah

      Tidak harus sebenarnya pak Bagus, bahkan menurut penulispun “kebaikan” seseorang tidak bisa dinilai dari dia tarbiyah atau tidak. dan penulis yakin bahwa semua ikhwah (yang tertarbiyah) tidak pernah merasa merekalah (orang tarbiyah) yang paling baik dan yang paling layak untuk dijadikan pendamping. Hanya saja, kenapa seorang yang tertarbiyah sangat mengharapkan orang yang tertarbiyah juga karena itu berhubungan dengan Fikroh Keluarga khususnya untuk dakwahnya ke depan, dalam keluarga butuh komitmen antara suami dan istri. ketika sudah memiliki fikroh yang sama maka Insya Allah akan lebih mudah dan bisa saling mendukung dalam kehidupan kelak. Bukankah kita berkelurga karena untuk beribadah kepada Allah SWT. iya kan? jadi intinya adalah, semua orang mencari pasangan yang dapat mendekatkan dia lebih dekat kepada Allah SWT . Enyah itu saat ini dia tarbiyah atau belum. Wallhu’alam.
      Penulis hanya berharap bahwa Pak Bagus tidak merasa bahwa umat islam di”peta-peta”kan dengan menyebutnya seperti itu (orang tarbiyah dan tidak), pada dasarnya manusia adalah makhluk yang senantiasa belajar dan selalu ingin menjadi lebih baik dari hari ke hari dan kami yang tertarbiyah berfikir bahwa “Tarbiyah” adalah salah satu caranya dan tidak menutup kemungkinan orang lain punya cara yang berbeda. Sekali lagi bahwa semua yang kita lakukan tergantung dari NIAT kita….. Wallahu’alam

  • Bagus Ibnu J A

    nisa : dia tarbiyah sama seperti kita. <== apakah harus?

  • muh.insan sentosa

    Bagus,,,,,,

Lihat Juga

Ilustrasi. (plus.google.com)

Antara Menanti Jodoh dan Menunggu Bus