Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memaknai Cinta

Memaknai Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Yang harus kita sadari bahwa saya, Anda dan kita semua berubah, tidak ada yang dari dulu sampai sekarang dan keadaan masa yang akan datang seperti itu saja. Fisik berubah, yang dipikirin berubah, prestasi juga berubah termasuk karakter yang ada pada diri kita.

Dalam istilah fiqih, perubahan kondisi dikenal dengan istilah baligh, baligh ini adalah masa di mana seseorang mulai terkena taklif atau kewajiban.

Itu sebabnya, sasaran cinta yang begitu hingar bingar adalah pada masa remaja. Sebab, Pada masa inilah, pintu gerbang awal dinamika kehidupan terjadi. Seiring perubahan fisik atau fisiologis demikian pula psikologis. Secara fisik; tumbuh bebuluan di daerah tertentu, suara berubah, jerawat, dan lain sebagainya. Secara psikologis mulai muncul rasa suka terhadap lawan jenis. Ini semua sunnatullah, setiap manusia mengalaminya.

Faktanya, kondisi baligh pada saat ini lebih cepat dari masa-masa sebelumnya. Zamannya kita dengan zamannya Bapak atau kakek kita itu beda. Sekarang faktanya, banyak anak SD kelas 6 yang sudah pada baligh; baik laki-laki maupun perempuan. Apa-apa yang mereka tonton, apa-apa yang mereka makan/minum, apa-apa yang mereka bicarakan dan apa apa yang mereka pikirkan mendorong percepatan proses balighisasi ditambah media begitu masif menampilkan gejolak masa remaja.  Perhatikan sebagai contoh misalnya film. Tema tentang Cinta adalah tema yang paling menarik; Ada Apa Dengan Cinta, Cinta SMA, Cinta Fitri, Cinta Pertama, Love is Cinta dan lain sebagainya.

Sekarang, apa sih Cinta itu?

Katanya sih cinta itu perasaan mendalam yang tak dapat diukur, luasnya saja seluas samudera, meski pun jaraknya harus melintasi hutan belantara pasti kan ditempuhi. Dan celakanya cinta itu buta alias love is blind, apa iya?

Sejatinya cinta itu adalah pengorbanan. Cinta adalah kerelaan; kerelaan untuk mencintai dan dicintai. Cinta membuat pengecut menjadi pahlawan dan membuat pahlawan seperti pengecut. Cinta itu jalan menuju perubahan, Syeikh Jasm Badr al Mutawwi’ mengatakan, “CINTA adalah salah satu jalan menuju PERUBAHAN. Betapa banyak jiwa yang berubah menjadi baik disebabkan oleh cinta. Berapa banyak akal yang terhenti dikarenakan cinta”. Cinta itu fithrah, suci dan murni tapi sayangnya banyak yang menodai cinta; ungkapan kasih sayang yang diperingati setiap tanggal 14 Februari, berbagai bentuk pergaulan bebas atau free sex, termasuk penyimpangan orientasi sexual yang dilakukan oleh sebagian manusia yang kebablasan seperti halnya homosexual dan lesbian. Waiyyadzu billahi min dzalik.

Dalam perspektif al-Quran dan al-Hadits, sesungguhnya penodaan cinta yang fithrah merupakan bentuk konspirasi yang dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani. Sahabatku, perhatikan dengan iman Firman Allah dan Sabda Rasulullah Saw berikut ini:

”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (Al-Baqarah: 120).

“Kamu akan mengikuti sunnah-sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta dan ketika mereka masuk ke, lubang biawak pun kalian tetap mengikutinya. Kami bertanya “apakah mereka itu orang Yahudi dan orang nasrani?” Rasul menjawab: “kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR Bukhari).

So, periksa deh diri kita apakah pernah atau sedang terperangkap dalam konspirasi jahat yang dilakukan oleh Yahudi dan Nasrani tersebut? Cara makan dan minum kita, cara pakaian kita hingga cara bergaul di antara sesama kita apakah sudah sesuai dengan syariat?

So, cara ter-aman melindungi diri kita adalah dengan memaknai cinta dengan pemaknaan yang benar. Maknailah cinta dengan kejujuran dan ketulusan. Dan pernikahan adalah sarana terbaik untuk membuktikan kejujuran dan ketulusan di antara dua insan. Ustadz Salim A. Fillah mengatakan, “Bukan ‘PERASAAN CINTA’ yang dituntut di sini!!! Melainkan ‘KERJA CINTA’. Biarlah perasaan hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan amal shalih kita”.

Ya, Amal Shalih. Sejatinya amal shalih akan menjadi pondasi yang menguatkan seluruh bangunan cinta kita. Banyak orang yang gundah gulana, bermuram durja, takut nggak dapat jodoh karena lemahnya keimanan. Para aktivis dakwah juga akan mudah tergoda oleh virus merah jambu manakala ruhiyahnya ringkih dan mengedepankan hawa nafsu.
Sebagai penutup, perhatikan dengan hati, taujih Rabbani sebagai pengingat teruntuk kita semua generasi muda harapan Rasulullah Saw, Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah:24)

Wallahu’alam bi ash-Showab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Arif Apriansyah
Tinggal di Cibogor Bogor Tengah. Latar belakang pendidikan S1 Syariah UIKA Bogor. Saat ini merupakan seorang Motivator pada ABCo Training Center.

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang