Home / Narasi Islam / Politik / Ulama dan Kekuasaan

Ulama dan Kekuasaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Seisi pasar tampak terperangah, menyaksikan sosok ulama penuh wibawa itu memikul sekerat daging jualannya. Betapa tidak, seantero negeri pun mengenal Ia sebagai Muhadits (ulama ahli hadits) sekaligus Mufti pilih tanding yang amat disegani. Seseorang menghampiri seraya memberanikan diri bertanya; “Ya Syaikh, mengapa engkau masih berjualan?”. Ulama itupun menjawab, “Aku ingin tak ada lagi ulama yang bisa dibeli oleh penguasa.” Ya, Ulama itu adalah Abdullah Ibnu Mubarak Rahimahullah.

Saat membaca untuk pertama kali, kisah itu tak begitu memberi kesan yang dalam pada diri Penulis. Tetapi saat negeri Mesir yang saat ini bergolak, di mana Rezim hasil kudeta telah menyeret para ulama ke kancah konflik untuk memberi legitimasi syariah atas laku tiran yang mereka lakukan, betapa kisah tadi membekas begitu dalam dan menemukan relevansinya. Bahkan yang teranyar adalah dikeluarkannya Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dari keanggotaan Akademi Riset Al-Azhar karena konsistensinya dalam membela perjuangan rakyat Mesir melawan diktatorisme rezim junta militer.

Ya, relevansi tentang makna Independensi bagi seorang ulama. Dahulu ulama berperan melakukan otokritik terhadap penguasa. Dan tradisi agung yang mereka pertahankan dari zaman ke zaman adalah menjauh dari pintu-pintu penguasa. Mereka memahami betul bahwa “kedekatan” akan menyandera mereka dalam memberi fatwa. Instrumennya tak lain: harta, kekuasaan dan fasilitas.

Tapi tak asing rasanya, mengingat peristiwa itu punya padanan historis dalam tikungan-tikungan sejarah relasi ulama dan penguasa. Tak ada kebaruan padanya, hanya sekuel baru dengan aransemen kontemporer. Ghiyats bin Ibrahim satu di antaranya. Ulama yang “dipelihara” di lingkungan istana di masa Khalifah Al-Mahdi ini, satu saat memergoki Sang Khalifah tengah menyabung ayam. Perang batin pun berkecamuk dalam hatinya, antara integritas dan “kepentingan domestik”. Namun apa lacur, alih-alih mengingatkan Sang Khalifah tentang dosa, ia justru membacakan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi “Tidak dihalalkan melakukan pertandingan kecuali adu memanah, adu naik kuda, dan menyabung ayam”.

Betulkah itu hadits? Ya, itu benar hadits Kanjeng Nabi, tapi dengan sedikit tambahan; “… dan menyabung ayam”.

Andai saja Az-Zamakhsyari (467-538 H) sudi berbagi cerita pada kita tentang pertarungan integratis versus “fasilitas”. Kecamuk jiwa antara idealisme yang tak realistis di satu sisi dan realitas yang tak ideal di sisi yang lain. Petualangannya dalam upaya mengemis simpati para sultan, penguasa dan wazir di zaman Nizham Al-Mulk berkuasa, menghantarkan dirinya pada kesadaran baru. Banyak sudah syair dan qashidah ia buat untuk menyanjung penguasa demi mengais simpatinya, hingga ia sendiri merasa muak dengannya. Rupanya tubuh yang mulai rapuh karena kronis penyakit yang memaparnya, menyentuh sisi psiko-spiritualnya dalam kontemplasi yang dalam. Maka akhirnya idealisme memenangkan pertempuran itu, di pelataran hati sang Imam. Dan di masa-masa kontemplasi itulah lahir Magnum opus-nya; Al-Kasyaf An Haqaiq At-Tanzil. Kitab tafsir bergenre birro’yi yang monumental meski diselubungi kontroversi mazhab Muktazili.

Relevan juga rasanya menyelami wejangan Ibnu Mas’ud pada para ulama, “Siapa saja yang menginginkan kemuliaan diennya, maka dia seharusnya tidak datang pada penguasa!” Maka mengertilah kita mengapa Imam Abu Hanifah begitu dermawan pada harta namun pelit pada orang yang meminjam penanya saat ia belajar. “Aku khawatir para penguasa menuliskan kezhalimannya dengan penaku”, tegasnya.

Wallahu a’lam bii shawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Rusdy Haryadi, S,Pd.I
Mahasisiwa Pascasarjana Universitas Az-Zahra, Jurusan Ekonomi Islam, Pegiat Politik Islam, Bidang Dakwah dan Keumatan Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kab. Bekasi.
  • dasli

    Bagaimana kondisi sekarang ???, amat banyak ulama & Dai berlomba-lomba mau jadi PENGUASA ( AMIR ) ????, Siapa yang berfungsi menjadi Ulama yg Independen & Hanya takut kepada Allah Azza Wa Jalla….????

Lihat Juga

Ulama Internasional Bicara Tentang Percobaan Kudeta di Turki