07:47 - Kamis, 23 Oktober 2014
Raji Luqya Maulah

Tahun Baru, Antara Masehi dan Hijriah

Rubrik: Pengetahuan | Oleh: Raji Luqya Maulah - 30/12/13 | 18:28 | 26 Safar 1435 H

Ilustrasi. (newsroom.unl.edu)

Ilustrasi. (newsroom.unl.edu)

dakwatuna.com - Penghujung tahun senantiasa menjadi momentum yang begitu semarak. Hampir setiap orang tak ingin terlewatkan untuk merasakan detik-detik pergantian tahun. Seakan berpindah dari suatu masa ke masa lain, momen ini selalu terasa begitu menarik. Namun sudahkah kita mengetahui sejarah penetapan tahun-tahun tersebut?

Sebagai muslim, ada baiknya kita mengetahui landasan suatu perbuatan sebelum mengerjakannya. Imam Bukhari rahimahullah sendiri menulis bab khusus dalam kitab shahihnya “al ‘ilmu qablal qaul wal ‘amal”, ilmu sebelum perkataan dan pekerjaan. Rasanya momentum pergantian tahun ini tepat bagi kita untuk kembali mengkaji dan mencari tahu sejarah dibalik penetapan tahun Masehi maupun Hijriyah.

Sejarah Penanggalan Masehi

Kalender Masehi merupakan sistem penanggalan yang merujuk pada peredaran bumi mengelilingi matahari. Itulah mengapa penanggalan ini sering disebut kalender syamsyiah. Seperti yang banyak diketahui orang, penamaan dua belas bulan pada tahun Masehi dimulai dari Januari sampai Desember. Awal mula penanggalannya sendiri diambil dari peristiwa kelahiran nabi Isa Almasih as, sehingga disebut ‘Masehi’ atau dengan nama lain ‘Miladiyah’ yang berarti kelahiran.

Sistem kalender Masehi sangat berhubungan erat dengan sejarah bangsa Romawi. Begitu pula dengan nama-nama bulan pada kalender masehi diambil dari nama-nama dewa bangsa Romawi. Berikut makna dari nama-nama bulan pada kalender Masehi:

Januari, diambil dari Januarius, berasal dari kata Janus yaitu malaikat bermuka dua penjaga gerbang Roma; Februari, dahulu namanya adalah Februarius, berasal dari kata Februa (hari pembersihan bagi bangsa romawi); Maret, dahulu bernama Martius, berasal dari kata Mars, yaitu dewa perang; April, dahulu namanya adalah Aprili, berasal dari kata Apru yang merupakan dewa asmara bangsa Etruscan; Mei, dahulu namanya adalah Maiusl yang berasal dari kata Maia, Maia adalah saudara tertua Atlas, sosok Titan (penguasa bumi) yang memanggul bola langit menurut kepercayaan bangsa Romawi; Juni, dahulu namanya adalah Junius, diambil dari kata Juno, istri Jupiter, jupiter atau jove sendiri menurut kepercayaan orang-orang romawi merupakan rajanya Tuhan sekaligus dewa langit dan petir; Juli, dahulu namanya adalah Quintilis; kemudian diganti menjadi Julius setelah raja Julius Caesar (100-44 BCE (Before Common Era (sebelum Masehi)); Agustus, dahulu namanya adalah Sextilis (bulan ke-6), kemudian diganti menjadi Augustus setelah raja Augustus memerintah (63 BCE); September, yang artinya bulan ke tujuh; Oktober, berasal dari kata yang sama, Oktober (bulan ke-8); November, berasal dari kata yang sama, November yang artinya bulan ke-9; Desember, berasal dari kata yang sama, Desember (bulanke-10)

Pada saat itu kalender masehi berjumlah sepuluh bulan, dimulai dari bulan Maret dan berakhir pada Desember. Kemudian Raja Numa Pompilius menambahkan dua bulan yaitu Januari dan Februari.

Sejarah Penanggalan Hijriyah

Nama-nama bulan pada kalender hijriyah seperti Muharram, rabi’ulawwal, dan lain-lain sudah ada sejak zaman sebelum datangnya Islam. Hanya saja mereka belum menetapkan ini tahun berapa, melainkan ini tahun apa, seperti peristiwa kelahiran nabi Muhammad SAW dikenal sebagai tahun gajah. Peristiwa yang melatarbelakangi penetapan kalender hijriyah sendiri terjadi di zaman khalifah Umar bin Khattab RA. Ketika itu Abu Musa Al-Asy’ari sebagai salah satu gubernur di zaman Khalifah Umar RA menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Dari situlah khalifah Umar RA mengumpulkan beberapa sahabat untuk merumuskan pembuatan tahun Islam (taqwiim Islami). Ketika itu beberapa sahabat mengusulkan penanggalan Islam berdasarkan kelahiran Rasul SAW, ada juga yang mengusulkan berdasarkan wafatnya Rasul SAW, namun mereka menyepakati pendapat Ali bin Abi Thalib, yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasul SAW dari Mekah ke Yatsrib (Madinah). Itulah sebabnya disebut kalender Hijriyah (taqwiim Hijriy). Sedangkan nama-nama bulan diambil dari nama-nama bulan yang telah ada pada masa itu di wilayah Arab.

Penanggalan kalender Hijriyah mengacu pada rotasi bulan mengelilingi matahari, sehingga disebut juga kalender qamariyyah yang berasal dari kata qamar yang berarti bulan. Adapun makna dari nama-nama bulan pada tahun qamariyah atau hijriyah sebagai berikut:

Muharram artinya yang diharamkan yaitu bulan yang padanya diharamkan menumpahkan darah atau berperang; Safar, artinya perjalanan atau berasal dari kata lain shifr yang artinya kosong karena pada bulan itu orang-orang masa lampau biasa meninggalkan rumah mereka untuk berperang, berdagang, berburu, dan sebagainya, sehingga rumah-rumah mereka kosong;  Rabiul awal, artinya menetap yang pertama, karena para lelaki Arab dahulu yang tadinya meninggalkan rumah mereka kembali pulang dan menetap pada bulan ini; Rabiul akhir, artinya menetap yang terakhir, yaitu bulan akhir bagi mereka untuk menetap; Jumadil awal, artinya kering/beku/padat yang pertama, pada waktu itu air menjadi beku / padat; Jumadil akhir, artinya kering/beku/padat yang terakhir; Rajab, artinya mulia, bangsa Arab ketika itu memuliakan bulan ini terutama tanggal 10 (untuk berkurban anak unta) dan tanggal 1 (untuk membuka pintu Ka’bah terus-menerus);  Sya’ban, artinya berpencar, karena orang-orang Arab dahulu berpencar ke mana saja mencari air dan sumber penghidupan; Ramadhan, artinya panas terik atau terbakar, karena pada bulan ini jazirah Arab sangat panas sehingga terik matahari dapat membakar kulit yang juga berarti pembakaran bagi dosa-dosa sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW;  Syawal, artinya naik, karena pada bulan itu bila orang Arab hendak menaiki unta dengan memukul ekornya, maka ekornya naik, Syawal dapat pula berarti bulan peningkatan amal; Dzulqaidah, artinya yang duduk, karena kaum lelaki Arab dahulu pada bulan ini hanya duduk saja di rumah tidak bepergian ke manapun; Dzulhijjah, artinya yang memiliki haji, karena pada bulan ini sejak zaman Nabi Ibrahim AS orang-orang biasa melakukan ibadah Haji atau ziarah ke Baitullah, Mekah.

Islam Memandang Tahun

Dalam surat At Taubah Allah menjelaskan tentang penetapan tahun dan bulan.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah itu ada dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Sebagai agama yang syaamil, Islam tak membiarkan suatu masalah pun melainkan ada aturan Islam di dalamnya. Termasuk juga tentang penetapan tahun dan bulan. Sehingga melalui ijtihad Umar dan para sahabat radiyallahu’anhum, ketika itu menentukan penanggalan bagi umat Islam. Bahkan Al-Quran sendiri banyak menjelaskan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan ibadah, seperti halnya haji, puasa Ramadhan, dan turunnya Al-Quran. Seperti dalam firman-Nya dalam surah Al Baqarah ayat 197, “Haji merupakan beberapa bulan yang diketahui…” dan pada ayat 185, “bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…”

Akan tetapi sangat disayangkan, sebagian besar umat Islam justru lebih hafal hari dan bulan-bulan masehi dibanding hari dan bulan hijriyah. Fenomena yang terjadi pun sama ketika pergantian tahun. Begitu sesak orang-orang memperingati pergantian tahun Masehi ketimbang yang peduli dengan pergantian tahun Islam dan peristiwa hijrah. Padahal dari sejarah dan makna bulan-bulan itu sendiri sudah jelas, bahwa penanggalan Hijriyah dibangun atas landasan syariat ibadah, yaitu peristiwa hijrah. Sedangkan tahun dan nama-nama bulan Masehi jelas berkiblat pada peradaban jahiliyah bangsa Romawi.

Umat Islam saat ini lebih mengenal bulan-bulan yang diambil dari nama dewa-dewa bangsa Romawi. Sementara nama-nama bulan Islam yang erat kaitannya dengan ibadah dan peristiwa sejarah Islam justru banyak dilupakan. Inilah mengapa pergantian tahun Masehi senantiasa lebih marak.

Sungguh sayang bagi umat Islam kalau begitu bangga dengan tahun yang bukan milik orang Islam dan lupa akan tahun Islam milik sendiri. Letak persoalannya bukan tanggal dan tahun mana yang kita gunakan, tetapi mana yang lebih kita banggakan. Sudah saatnya kita sadar dan bangkit sehingga Islam itu kembali tinggi di muka bumi. Wallahua’lam.

Raji Luqya Maulah

Tentang Raji Luqya Maulah

Mahasiswa Takmily LIPIA Jakarta. Lahir di Makassar tahun 1994, menyelesaikan pendidikan jenjang SMP dan SMA di Pesantren terpadu Alkahfi Bogor dan melanjutkan studinya di Kampus LIPIA Jakarta. Anak ketiga dari… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (18 orang menilai, rata-rata: 8,67 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • atonk ondong

    subhanallah
    izin share. :)

  • Mursyidah Saleh

    Subhanallah… tulisan yg sangat bermanfaat. Ijin share ya :)

  • rofi

    btapa meruginya kaum islam yang berbangga dengan tahun baru yang begitu buruk artinya…

Iklan negatif? Laporkan!
85 queries in 1,861 seconds.