Home / Berita / Profil / Putra Rahmat Kurniawan, Guru Penjas yang Jadi Ustadz

Putra Rahmat Kurniawan, Guru Penjas yang Jadi Ustadz

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Putra Rahmat Kurniawan. (Dwi Kurniawan)
Putra Rahmat Kurniawan. (Dwi Kurniawan)

dakwatuna.com – Wonogiri. Tak ada yang mengira pria kurus ini adalah seorang guru olahraga yang setiap hari-harinya mengajar Pendidikan Jasmani. Ya, karena selain berperawakan kurus, pria yang bernama lengkap Putra Rahmat Kurniawan ini dari kostum yang dikenakannya sangat jauh dari guru penjas kebanyakan. Pria ini lebih sering berpenampilan ustadz, pakaian yang hampir semuanya mirip dengan pakaian (alm) Ust Jefry Al Bukhory. Berpakaian dengan model gamis dengan warna mencolok warna warni, kadang ungu, kadang hijau, bahkan tak jarang berpakaian merah ngejreng, pun dengan kepala yang selalu berpeci.

Buku-buku referensi yang dipajang di rak rumahnya, di kompleks perumahan Terminal Induk Wonogiri pun jauh dari buku-buku referensi Penjas selama ini, karena buku-buku yang dipajang di rak adalah buku tafsir Al-Quran, kitab Ihya Ulumudin, buku-buku Aa Gym, dan buku referensi keislaman lainnya.

Pria yang sehari-harinya mengampu mata pelajaran Pendidikan Jasmani di SDN Jatisrono V Wonogiri ini memang nampak sedikit berbeda dengan guru Penjas kebanyakan. Selain penampilan yang sangat mirip dengan ustadz, Putra memang seorang ustadz beneran. Tercatat, dari pengakuannya beberapa waktu lalu, pria alumni PJKR Universitas Negeri Semarang ini memiliki beberapa majelis ta’lim ibu-ibu di Wonogiri.

“Konsep yang saya pakai gaul tapi mengena. Saya padukan konsep gaul ala Ustadz Jefry dengan penyampaian ala Ustadz Maulana. Alhamdulillah dua-duanya mengena. Saya padukan juga konsep muhasabah di akhir majelis seperti ustadz favorit saya dulu saat kuliah di Unnes, Ustadz Usep Badruzzaman, para ibu itu juga banyak yang menitikkan air mata,” jelas pria yang juga instruktur senam ini.

Dikatakan Putra, bahwa untuk menjadi ustadz itu sebenarnya tidak harus menempuh kuliah di fakultas dakwah atau tarbiyah di Sekolah Islam, bahkan dari bidang ilmu manapun, dari profesi apapun, ustadz tidak mengenal profesi ataupun disiplin ilmu.

“Jadi sebenarnya ustadz itu adalah sebuah kebutuhan bagi kita, panggilan jiwa sebagai seorang muslim. Memberikan ilmu keislaman atau bisa disebut dengan mendakwahkan Islam. Dan mendakwahkan Islam itu wajib bagi seluruh umat Islam, termasuk guru penjas seperti saya,” tandas pria yang hobi bermain basket ini.

Salah satu yang sebenarnya bisa dilakukan, imbuh pria gemar memakai motor gede atau Moge ini adalah dengan mencontohkan dengan tindakan. Dikatakan Putra, jika apapun dilakukan sembari mencontohkan, maka orang akan lebih mudah untuk terpengaruh dalam hal kebaikan. “Misalnya ketika panggilan adzan di masjid atau surau terdengar, lalu kita bergegas untuk datang ke masjid dan shalat di awal waktu, dan hal tersebut dilakukan berulang-ulang, maka orang cenderung lebih mudah mengikuti ajakan kita,” ungkapnya.

Selain beraktivitas sebagai guru Penjas di SDN V Jatisrono, pria yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya ini juga aktif di berbagai pengajian keislaman di Wonogiri, baik sebagai peserta maupun sebagai ustadz. Selain itu dia juga aktif dalam komunitas One Day One Juz, komunitas membaca Quran online yang sekarang sedang naik daun.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dwi Purnawan
Jurnalis online dan pengamat socmed.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Asma Ditha)

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku