Home / Narasi Islam / Wanita / Muslimah Sejati: Setia Berkontribusi, Membangun Negeri

Muslimah Sejati: Setia Berkontribusi, Membangun Negeri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (akings.deviantart.com)
Ilustrasi. (akings.deviantart.com)

dakwatuna.com Muslimah. Sapaan ini, bagi perempuan Islam amatlah berkesan. Alasannya adalah dalam secuil kata ini, seorang perempuan Islam harus bisa bersinergi dengan Islam baik dari luar dan dalam dari dirinya. Lalu bagaimana menjadi seorang muslimah yang luar biasa? Sebuah pernyataan yang mampu menjawab pertanyaan tersebut adalah salah satu hadits dari riwayat Muslim ini, “sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. Benar sekali, menjadi perempuan Islam berarti menjadi seorang muslimah dan menjadi muslimah yang luar biasa harus lah menjadi wanita yang shalihah. Wanita shalihah adalah gelar naluriah yang diberikan kepada mereka, yang selalu menetapkan langkah-langkah kakinya untuk tidak pernah berhenti memperjuangkan nilai-nilai Islam di dalam sendi-sendi kehidupannya. Mereka adalah perempuan-perempuan yang setia berkontribusi untuk Islam.

Dialah wanita shalihah, shalihah yang cerdas dan mencerdaskan. Muslimah yang cerdas adalah muslimah yang pandai mengatur waktu. 24 jam dalam sehari mampu ia bagi dengan teratur dan tidak ada waktu yang sia-sia. Menurutnya waktu adalah pedang, yang bisa saja menghunus pada dirinya sendiri setiap saat. Tidak hanya itu, muslimah yang cerdas juga muslimah yang memiliki keinginan kuat untuk menuntut ilmu. Bahkan ada kalimat motivasi yang berkaitan dengan ini dan kita sering sekali mendengarnya, yaitu: tuntutlah ilmu hingga ke negeri cina. Kalimat ini bermakna bahwa tidak ada batasan untuk kita menimba ilmu yang telah Allah sediakan di seluruh jagad raya ini. Kita lah subjek yang harus mencari dan kemudian memahaminya. Ibunda kita, Aisyah, salah satu istri dari Rasulullah SAW memiliki ilmu yang sangat luas dan juga merupakan perempuan Islam yang sungguh cerdas. Beliau, di usianya yang ke 18 tahun sudah menghafal sekitar 1000 hadits, sehingga menjadikannya termasuk al-mukatsirin (orang yang terbanyak meriwayatkan hadits). Muslimah yang cerdas juga muslimah yang memiliki mimpi besar. Mimpi besar yang dimaksudkan di sini adalah mimpi yang bisa mendongkrak keeksistensian Islam di negeri ini. Mimpi yang ditujukan untuk pembangunan peradaban Islam. Mimpi yang mampu mengepakkan sayap-sayap indah menuju Indonesia yang lebih maju di segala aspek kehidupan. Di samping hal yang sudah tersebutkan, seorang muslimah yang cerdas juga harus mencerdaskan orang lain. Seorang yang sangat mencintai saudaranya sesama muslim, akan menularkan apa yang telah dimiliki, walaupun itu hanya 1 kata, 1 kalimat atau 1 paragraf. Bentuk keluarnya bisa berupa nasihat, mungkin taujih pagi atau sore, atau bisa saja berupa motivation sentences yang terangkai rapi.

Dialah wanita shalihah, shalihah yang kreatif. Muslimah yang kreatif tidak pernah mengenal kata malas dalam otaknya. Walaupun terkadang tubuhnya merasa lelah yang tak tertahankan, tetapi otaknya tetap saja berfikir mencari inovasi-inovasi yang nantinya akan diimplementasikan untuk proyek-proyek yang sedang dikerjakannya. Muslimah kreatif senantiasa ikut berbagai kegiatan positif yang akan mengasah kemampuan otaknya menjadi lebih peka terhadap problematika yang kini dihadapi oleh masyarakat negeri ini, baik yang dekat dengannya maupun yang jauh dari pandangan matanya. Muslimah yang kreatif adalah tipikal muslimah yang mengadakan sesuatu, bukan menduplikasi atau memplagiat karya. Tentunya, karya-karya yang Ia coba hasilkan adalah karya yang akan bermanfaat bagi khalayak ramai. Kita kutip kisah dari Fatimah Az Zahra, putri kesayangan Rasulullah SAW. Ketika perang Uhud, wajah Rasulullah terluka, gigi gerahamnya patah dan kepalanya tertusuk helm perang. Ketika itu, Fatimah dengan sigapnya membersihkan darah yang mengucur dari kepala Rasulullah dan di saat beliau mengetahui bahwa air tak mampu menahan keluarnya darah, bahkan semakin deras, beliau mengambil sobekan tikar dan dibakar hingga menjadi abu lalu ditempelkan ke luka sehingga darah pun berhenti mengucur. Begitulah Fatimah mengadakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sesuatu yang sederhana, tapi lihat hasilnya begitu luar biasa. Kreatif itu tidak perlu dimulai dari karya yang begitu rumit, cukup sederhana dan tepat pada tujuan yang akan dicapai.

Dialah wanita shalihah, shalihah yang mandiri. Muslimah yang mandiri adalah muslimah yang melatih dirinya untuk hidup secara mandiri. Dalam hal ini lebih ditekankan pada hal financial. Melalui financial lah, usaha-usaha untuk mewujudkan karya yang kita rencanakan menjadi mudah karena ada penopangnya. Muslimah yang mandiri adalah muslimah yang mencoba bekerja sendiri. Bekerja secara independen atau ikut sebuah institusi yang Ia percayai. Sembari menuntut ilmu, tak menghalangi seorang muslimah untuk memenuhi kemandirian ini. Walaupun materi sudah didapat dari orang tua pun, tak bisa menutup mata muslimah mandiri untuk mencari financial, barang hanya sekelumit saja. Seorang saudagar muslimah yang bukan hanya teragung sejagat raya, tapi juga merupakan pedagang unggul kala itu yang patut kita teladani adalah Khadijah binti Khuwailid RA. Ibunda kita satu ini adalah seorang saudagar wanita yang sangat terhormat dan kaya raya. Ia biasa mempekerjakan beberapa laki-laki untuk menjalankan perniagaannya dan memberi upah kepada mereka dalam bentuk bagi hasil. Kepiawaian Ibunda ini dalam mengatur dagangannya menjadikan beliau disegani oleh orang-orang Quraisy. Atas karunia Allah, beliau sangat sukses dalam bidang perniagaan. Satu kafilah dagang Khadijah yang dikirim ke Syam setara dengan konsorsium beberapa kafilah dagang Quraisy. Sungguh, bukan sebagai sebuah mimpi seorang muslimah menjadi seperti beliau, tapi sebuah cita-cita. Meskipun muslimah ketika sudah menikah mendapat financial juga dari suami tercinta, tapi tidak ada salahnya kalau Ia juga menjalankan bisnis, yang bisa membantu perekonomian keluarga nantinya. Apakah ini bukan merupakan tujuan yang mulia?

Menjadi muslimah adalah sebuah kodrat bagi perempuan Islam. Tetapi menjadi muslimah yang shalihah perlu yang namanya perjuangan untuk memperolehnya. Karena shalihah itu “given” bukan “gotten”. Oleh siapa? Allah pastinya. Hanya Allah yang bisa mengukur ketakwaan seluruh hamba-Nya di mayapada ini, pun juga keshalihan muslimah orang per orang. Kita, sebagai perempuan Islam harus berusaha untuk mencapai derajat itu.

Muslimah sejati adalah mereka yang bisa mencerdaskan orang lain lewat kecerdasannya, memiliki pemikiran kreatif dalam setiap derap langkahnya dan senantiasa melatih keterampilan dirinya dalam berniaga. Apakah ini mimpi yang terlalu tinggi? Bukan. Ini adalah cita-cita yang harus kita usahakan untuk bisa direalisasikan. Semoga kita termasuk muslimah sejati yang setia berkontribusi untuk peradaban madani di negeri tercinta ini.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lutfiyah F
Mahasiswi Sastra Inggris di Universitas Negeri Malang. Berkecimpung dalam Dewan Mahasiswa Fakultas Sastra dan Sentral Kegiatan Islam Fakultas Sastra.

Lihat Juga

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Tiga Pilar Utama Membangun Peradaban Islam yang Agung