Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Mahasiswa dan KAMMI

Mahasiswa dan KAMMI

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Logo Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
Logo Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

dakwatuna.com KAMMI tidak sekadar menjadi wadah di tengah berbagai penyakit yang menggerogoti negeri ini. Tapi menjadi salah satu obat untuk memperbaiki negeri ini dari keterpurukan yang memecah belah untuk menjadi satu kesatuan.

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (As-Shaff: 61)

Tak peduli organisasi apa yang akan Anda ikuti, asal dia tidak bertentangan dengan hati nurani tidak masalah. Dari observasi yang di dapat, bahwasanya nurani adalah sesuatu yang bisa menilai baik atau buruknya suatu aktivitas. Jika pun sederhana, itu tak sekadar sederhana yang mudah di ucapkan. Segala aktivitas itu akan di filter, dari hati, pikiran terus tingkah laku. Menjadi keindahan tersendiri jika bisa mengatur hati, pikiran, dan tingkah laku.

Menjalani dunia kampus maka sudah tidak asing lagi dengan namanya organisasi. Apalagi kalau sudah lama, tak mengenal dunia organisasi maka “sungguh terlalu” ungkap tokoh musik dangdut. Border yang membuat mahasiswa menjadi apatis dengan lingkungan sekitar ialah tak lain dari pikiran mereka sendiri. Maka tak heran jika mahasiswa hari ini, lebih optimal mengejar akademik dari hal yang lain. Karena sudah terprogram dalam pikirannya, kuliah 4 tahun, dengan IPK cumlaude, dan di terima perusahaan ternama. Kasihan hal yang lain, yang seharusnya bisa menjadi catatan manis dalam hidup. Menjadi hal yang harus di hapus dan di lupakan dengan border yang berseberangan. Hal yang lain di sini, ialah organisasi.

Berbagai macam wajah organisasi di dalam dunia kampus, dari yang kiri, kanan, kekirian, kekananan dan tengah. Tak banyak yang tahu wajahnya, karena sistem pendidikan yang semakin lama semakin rapat di tutup dengan selembar kertas yang menjadi tujuan teratas. Di tambah dengan segala aktivitas kenyamanan. Lengkap lah sudah untuk membuat tidur bangun, tidur bangun, dalam waktu yang lama. Dari sinilah, sebagai mahasiswa kita harus tahu arah dan jalan mana yang akan membuat kita bisa berkontribusi besar. Tentu organisasi menjadi jalan satu-satunya ketika berada di dalam kampus.

Kenapa harus Organisasi

Awal kuliah menjadi catatan pahit jika di habiskan dengan kuliah pulang dan begitu seterusnya. Menjadi manis jika bisa melihat organisasi itu bermanfaat bagi kita sendiri dalam tahap awalnya. Tentu saja itu menjadi awal, apalagi sudah bergabung dan bisa merasakan manis yang paling manis ketika melihat apa yang di jalani bermanfaat untuk masyarakat banyak. Tentu menjadi hal yang bisa di rasakan sendiri, karena kebahagiaan itu tidak melihat dari sisi mana memandang, tapi melihat dari dalam hati. Artinya kebahagiaan itu bisa di rasakan sendiri.

Kita harus sepakat dulu, bahwa kerja kolektif tentu lebih besar hasilnya dari pada kerja individu. Begitu pun sebaliknya, jika ingin mendapatkan hasil yang besar maka resiko yang di ambil harus besar juga. Seperti itulah siklusnya, dalam kehidupan ini. Secara luas kenapa kita harus organisasi, pada dasarnya karena hidup kita ini organisasi dalam konteks luas. Tentu itu terlalu lebar dalam pembahasan, secara sederhana kampus merupakan tempat di didiknya para pemimpin bangsa dari hal yang kecil ke besar, dari lurah sampai ke presiden. Mencetak untuk menjadikan sumber daya spesifikasi berkualitas, ialah suatu keharusan institusi lembaga pendidikan tertinggi. Berkualitas belum tertentu berakhlak dan bermoral, jika di lihat dari institusi perguruan tinggi. Minimnya pelajaran tentang akhlak dan moral, dari segi keagamaan menjadi kegamangan mahasiswa tersendiri dalam menentukan mana benar dan mana salah. Tentu menjadi penyakit komplikasi bangsa dalam hal dampak ke depannya, jika hanya itu yang terjadi dalam jangka panjang.

Kesadaran untuk mengikuti organisasi di dalam dunia kampus ialah suatu keharusan dalam menjalani dunia kampus. Menjadi beban untuk negara tentu hal yang tak menyenangkan, jauh dari harapan apalagi sampai merusaknya. Tak jarang negara menanggung beban yang tak harus di tanggung dari setiap hisapan para koruptor yang berpikir kotor. Jadi sebagai mahasiswa sudah tahu kenapa kita harus organisasi dalam lingkup kampus. Sekarang masalah yang tak cukup rumit ialah organisasi mana untuk bisa menjaga tangan dan darah tetap bersih.

Kenapa harus KAMMI

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia atau lebih di kenal KAMMI, sudah tak asing lagi bagi aktivis pasca dan di era reformasi. Salah satu organisasi terbesar Indonesia yang menjalar di setiap daerah. Memiliki cabang di luar Indonesia menjadi daya tarik lebih, untuk mendapatkan jaringan. Tentu wajah yang terpampang dari KAMMI ialah Islam karena sudah terpampang dengan muslimnya yang lebih spesifik.

Menjaga darah dan tangan tetap bersih tentu bukan perkara mudah, dalam hidup ini. Karena sebagai muslim tentu kita sudah tahu konsekuensi apa jika darah ini kotor dan tangan berlumpur kotor. Tentu yang di mainkan ialah kausalitas yaitu sebab akibat maupun sebaliknya akibat sebab. Organisasi Islam kampus menjadi solusi dalam menanamkan dan mendidik moral, agar senantiasa terjaga. Bukan perkara mudah dengan sistem pendidikan yang berlubang di sana sini. Peran pemuda selalu diumbar untuk terus menanam jiwa nasionalisme yang sebatas lapangan. Dan di butakan dengan indahnya dunia semata, tanpa melihat lingkungan sekitar. Maka tak jarang virus hedonis dan pragmatis menjangkit para pemuda. Di lahan yang subur, tak terlepas mahasiswa karena rentan waktu membuat label bahwa mahasiswa termasuk pemuda.

Dididik dengan filosofi KAMMI membuat kita selalu berpikir untuk kondisi bangsa yang mengalami krisis multi dimensi. Dilihatkan dengan perilaku pejabat yang berotak pasir, berotak uang dan berotak mahkota, menjadi fenomena dalam sehari-hari. Sedangkan akhlak dimiskinkan, sampai ke batas paling minimum. Tentu menjadi hal yang menyedihkan jika sebagai mahasiswa kita duduk manis, melihat kondisi seperti ini dan memberikan komentar yang menjatuhkan. Tak salah jika dari observasi, bahwa KAMMI bukanlah sekadar doktrin atau pun paksaan untuk tetap bertahan. Jika berkaca dari itu maka akan menjadi bom waktu untuk KAMMI tersendiri. Karena pada hakikatnya KAMMI mendidik dengan visi, misi, asas, kredo gerakan, prinsip gerakan dan di kerangka dengan paradigma gerakan. Tentu menjadikannya lebih besar dari ucapan mulut maupun genggaman tangan atau pukulan besi. Memilih atau bersikap apapun untuk menjadi kehendak sendiri, menambah indahnya gagasan yang tersebar dalam keanekaragaman cara berperilaku mahasiswa. #Salam hangat, dari diri perindu muslim negarawan di dalam hati.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,15 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Agung Pratama
Mahasiswa aktif di Fakultas Hukum Unsri, aktif di KAMMI al-aqsho Unsri di department Kebijakan Publik. Menjadi manusia pembelajar dalam mengarungi dunia kampus, untuk menuai hasil besar.
  • Fetry Arista D.

    mantap kak
    :D

    hanya ingin membenarkan, surah As Shaff (61) : 4

  • Anaya AyatUllah

    Mantap…

Lihat Juga

Peta Papua (papuaweb.org)

KAMMI Tuding Jokowi Tidak Serius Urus Papua