Home / Pemuda / Cerpen / Dilema Hati

Dilema Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Terduduk bengong di sebuah warung kopi, sambil melemparkan pandangan jauh ke depan. Entah melihat orang-orang yang ke sana kemari dengan kendaraannya atau melihat bangunan tua yang di belakang jalan dengan di tutupi bangunan megah. Tatapannya tajam menembus bangunan megah dan menerobos awan pagi yang cerah, tapi kebimbangan dan keraguan tersamar-samar terpancar dari matanya walaupun di bakar oleh api ambisi yang kuat.

Di pejamkan matanya, ia teguk kopi hangat pagi ini di temani 2 buah pisang goreng sebagai peneman di kala perutnya yang lapar sejak pagi tiba.

Namanya adalah Febri, seorang mahasiswa semester ketiga jurusan teknik yang sedang bingung dengan segala kerjaan, tuntutan, dan beban moral yang di pundaknya. Ia anak pertama dari dua bersaudara, yang hari-hari selalu di habiskan bersama. Ketika masa pendidikannya dekat dengan kedua orang tuanya. Kesederhanaan menjadi, sumber kebahagiaan yang tak terkira untuk keluarganya. Tertawa lepas, tangis yang haru sang adik, singkong, selimut kamar, dinginnya malam di desa, cubitan ibu, diamnya sang bapak. Sekilas bayangan tentang keluarga ia yang berada jauh dari tempat sekarang dia berada. Jangankan untuk pulang, untuk makan dan kuliah pun, dia perlu mengirit sebaik mungkin kiriman dari orang tuanya karena himpitan ekonomi.

Pagi ini, seperti biasa jika hari libur. Ia selalu nongkrong di warung kopi, yang berada dekat dengan kosannya karena pada dasarnya jika hari kuliah, sarapan pagi harus di tiadakan untuk menghemat biaya. Hari ini ia telat untuk minum kopi dan sarapan goreng pisang karena tadi malam hujan turun sangat deras. Biasanya jam 9 ia sudah selesai sarapan jika hari libur, ini jam 10 pagi ia baru keluar dari kamarnya.

Ada yang berbeda pagi ini, gejolak batin yang ia rasa membuat ia terus berpikir. Untuk apa dia hidup dan kuliah jika hanya menyusahkan kedua orang tuanya.  Teringat ia pesan mamaknya yang ada di desa, dalam lamunan panjang setelah menyantap sarapan pagi.

“Kak, kau tuh di sana kuliah! Jadi benar-benarlah kuliah tuh. Bapak capek mencari duit tuh, 1 lagi pesan mamak. Kau tuh berubahlah, jangan sampai tingkah laku yang ada di SMA dahulu, kau bawak kak, sampek kuliah nanti. Jika kelamaan akan menghancurkan hidupmu karena ibarat kayak padi kita jika hama yang menyerang sudah banyak, maka banyak padi pun gagal panen seperti tahun-tahun dulu”. Tetes air mata mamak jatuh dari pelipis matanya, ketika memberi nasihat sehari sebelum keberangkatanku. Mengingatkanku akan kenakalan diriku ketika waktu SMA dulu. Membawanya dalam kenangan masa lalunya yang lebih dalam.

Menarik rok anaknya pak kades, yang waktu itu sekelas di SMA. Mamak di panggil kepala sekolah, karena mencontek rombongan sekelas, yang bikin apes itu. Ialah ide aku untuk mencontoh sari, si juara kelas ketika ujian. Dari mencuri mangga, mengambil sandal masjid, dan di tutup dengan kegiatan rutin satu bulan sekali yaitu bolos. Hanya untuk sekadar, nongkrong bareng teman-teman di pasar, melihat wanita-wanita seksi yang sudah termakan oleh budaya westernisasi atau kebarat-baratan baik dari celana, baju, yang kurang bahan dan super ketat. Walaupun begitu, dalam hal pelajaran otakku selalu encer dan cemerlang walaupun tak secemerlang sari.

Hembusan angin pagi yang hangat, menyapa wajahnya dengan membangunkan kilas balik yang di ingat oleh pikirannya. Hangatnya kopi pagi, telah memudar di makan waktu yang terus bergulir. Di ambil uang dari kantong jaket yang dia pakai sejak tadi malam, untuk melindungi dari dinginnya malam dan sepinya perasaan.

Langkah kaki pun di ayunkan, untuk menuju kosan yang ukuran 4 x 5. Di sanalah dapur, kamar mandi, kasur, meja tugas dan semua berantakan dengan bertambahnya laporan.

Tapi ada perasaan yang mengiris hatinya, ia sadar, selama ia kuliah tingkah laku yang ada di SMA sudah ia tinggalkan. Teringat kembali ia pesan orang tuanya “Kau tuh berubahlah”. Bukankah aku sudah berubah juga, tapi kenapa setiap malam perasaan ini selalu menyakitkan, seakan-akan kesepian menggerogoti tubuh-tubuhku walaupun teman silih berganti. Tak jarang, ia menghabiskan malam dengan bermain games ataupun menelpon teman kuliah wanita berjam-jam. Dan tak lupa untuk menelpon kedua orang tuanya dalam jangka waktu satu minggu sekali. Mengobati rindu yang hanya bisa berjumpa 1 tahun sekali. Selat, laut, jarak yang memisahkan, membuat raga sulit untuk bertemu dengan kedua orang tua dan adiknya.

Apakah aku ini hidup? Kenapa sedih kesepian ini terlalu menyakiti perasaan walaupun di tengah keramaian. Kenapa aku selalu menyusahkan? Ada yang kosong dalam jiwanya. Terombang ambing antara perasaan dan pikiran. Antara tuntutan dan beban moral. Itulah segelintir pertanyaan yang sering melintas dan singgah di pikirannya ketika kesendirian mendatangi.

Di tengah perjalanan menuju kosan. Jalan yang berlapis beton dan pohon pisang di pinggir kanannya. Angin yang berhembus pun membawa udara panas, karena matahari sudah tinggi. Tak goyah walaupun begadang menjadi makanan, dalam beberapa bulan terakhir. Di raba sakunya dengan tangan. Mengambil sebuah kunci kosan, karena sudah berada di depan pintunya. Tiba-tiba, ada suara yang mencegah langkah ia untuk terus masuk ke dalam kosannya.

“Assalamu’alaikum, Feb? Kok jalanmu lesu, jawab donk salamku tuh”. Sambil menebarkan senyum pagi yang cerah dan tak lupa celana dasarnya itu loh, nggak masuk nian gayanya. Pikir ia, sembari melepas pandangannya ke indra.

“Walaikumsalam, ada apa Ndra?” balasnya.

“Gini ane mau ngajak loe, untuk datang acara tabligh akbar di masjid Ghazali di dekat kampus. Mau ikut nggak?” sembari menghentikan langkahnya.

**** Diam merebak, ia masih berpikir.

“Kalau mau ikut, ane tunggu loh”, timbalnya lagi.

Dengan pikir panjang pun ia menjawab, “aku mau tidur Ndra, ngantuk tadi malam habis begadang”.

“Oke”, balas Indra dengan mempercepat langkahnya.

Ia rebahkan badannya dengan kasur kecil seadanya. Ia lihat kondisi kosan, yang seperti tak berpenghuni. Piring dan pakaian kotor di mana-mana, di tambah buku yang berserakan. Teringat ia bahwa tiap malam jika teman-temannya bermain atau belajar bersama dia, dari sekadar main GAP sampai mengerjakan laporan, ia sering terdengar indra membaca al-Qur’an dengan nada yang berat tapi begitu tenang. Ia sadar, walau Indra kosan sendiri. Senyum bahagia selalu terpancar, tak peduli kata orang dengan penampilannya, ia tetap cuek dan melempar senyum.

“Siapa sih loh Ndra? Kok nginggep dalam pikiran gue…hihihi…” ucapnya pelan, dengan mata tetap menerawang ke plafon atas kosannya.

2 jam sudah ia tertidur, dan terbangun karena ada semut yang menggigit matannya. Bekas minum kopi tadi malam. Lantas ia berpikir, mungkin Indra sering shalat dan mengaji kali jadi hatinya tenang. Sedangkan ia shalat hanya ketika keadaan membutuhkan, seperti ujian akhir semester, SNMPTN, dan ujian nasional, intinya keadaan memaksa. Walaupun surah yang di baca itu-itu lah, terpenting hafal baginya. Sedangkan untuk mengaji waktu SD, kalau di suruh mengaji sama kedua orang tuannya malah hinggap di rental Play Station lah, tidur tempat temanlah. Sejak itu, orang tuanya tidak membayar uang mengaji, karena mereka sadar bahwa nanti malah memaksa si anak. Jika pun membaca ia mungkin terbata-bata membacanya. Lantas di mana waktu SMP dan SMA ia habiskan. Tak lebih dari pasaran, nongkrong dan bolos.

Lantas ia ingat, bahwa ada tabligh akbar di kampus. Karena ia tahu spanduk yang di pajang di kampus telah memberitahukan ia di tambah dengan ajakan Indra tadi. Yang ia ketahui, bahwa tabligh akbar ini yang mengisinya ustadz taraf nasional semua, bahkan ada gelar yang ia dapat dari luar negeri. Begitu ketika ia mengingat tentang spanduk dan brosur di kampusnya. Ia lalu mandi, untuk melaksanakan shalat Zhuhur di masjid Ghazali. Rasa penasarannya lebih kuat, untuk menggerakkan tangannya lebih cepat dan terkesan terburu-buru dalam mandi dan berpakaian lantas menuju ke masjid Ghazali.

Setelah pulang dari tabligh akbar, dengan perasaan dan pikiran yang campur aduk dalam benak dan otaknya. Seperti ada yang berbeda dalam dirinya setelah mendengar nasihat dari salah satu nasihat dari ustadz tadi, sehingga malamnya membuat tidurnya tak tenang walaupun ia usahakan untuk tidur.

Jam 4 pagi ia terbangun, tidak seperti biasa ia bangun jam.4 pagi buta. Mungkin karena tidur malamnya terlalu cepat, jadi ia bangun pagi buta begini. Lantas ia coba pejamkan kembali matanya, namun yang ia dapati malah kebingungan dari posisi tidur, sampai nasihat dari ustadz kemarin siang. Lalu ia ingat kembali

……………..Sebagai umat Islam, kalian adalah bibit unggul yang akan di panen pada saat nanti. Tentu kalian sebagai mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang berat, dari yang terkecil sampai yang besar. Apa yang sudah kalian lakukan dari “diri kalian sampai ke bangsa ini”. Dan di terangkan dalam hadits bahwa, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”. Lantas apa yang kalian lakukan setelah mendengar hadits itu, masihkah bermalas-malasan, nge-game, berbuat dusta, membebani negara dan mengecewakan orang tua kalian yang di kampung? Sungguh sedih jika melihat mahasiswa waktunya di habiskan dari browsing berjam-jam. “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Buya Hamka’. Sudah menjadi keharusan sebagai umat muslim, kita harus bisa memberi manfaat kepada manusia-manusia lainnya……………………

Sudah ia bulatkan tekadnya untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik, seperti apa yang di pesankan oleh ibunya. Lantas ia mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat malam. Tetes air mata membanjiri dalam untaian doanya. Kata-kata begitu berat untuk terucap, karena wajah yang telah berlumur dosa. Waktu yang ia buang bagai perhiasan yang di sia-siakan. Hingga kesepian menjadi teman sejati dalam jauhnya dilema hati. Tentu menjadi baja bukanlah, yang ia butuhkan. Jika pada akhirnya akan menjadi besi tua. Hatinya berkecamuk, sesal, sedih, haru, dan bahagia melebur menjadi satu. Menjaga hatinya untuk senantiasa bisa berjalan di jalan sang ilahi. Rasa syukur tak lupa menjadi bingkai, dalam untaian doa. Karena dilema hatinya telah merubah ia untuk bisa dapat ketenangan dan kenyamanan. Malam ini pun, menjadi awal baginya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Agung Pratama
Mahasiswa aktif di Fakultas Hukum Unsri, aktif di KAMMI al-aqsho Unsri di department Kebijakan Publik. Menjadi manusia pembelajar dalam mengarungi dunia kampus, untuk menuai hasil besar.

Lihat Juga

Ilustrasi. (plus.google.com)

Surat dari Seseorang yang Salah Meletakkan Cinta pada Sebuah Hati