Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kembali Mengingat: Ghayyatu Tarbiyah

Kembali Mengingat: Ghayyatu Tarbiyah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (ummunashrullah.blogspot.com)
Ilustrasi. (ummunashrullah.blogspot.com)

dakwatuna.com Sepertinya tulisan ini adalah adaptasi dari catatan 2 tahun silam. Ketika kami melingkar bersama Ibu Sunarsih, 25 Juni. Materi pertama yang tertulis pada lembaran depan atau mungkin ini pembuka saat saya baru bergabung; Ghayyatu Tarbiyah.

Tarbiyah merupakan pendidikan. Tarbiyah bukan jalan satu-satunya menuju Allah. Tarbiyah juga bukan segalanya. Akan tetapi segalanya bisa diraih dari tarbiyah. Banyak hal yang akhirnya terpengaruh sebab tarbiyah. Di antaranya adalah fikrah, cara pandang terhadap sesuatu, pola pikir, manajemen diri bahkan manajemen kehidupan.

Ruhiyah yang baik, pasti dijaga oleh pemiliknya.

Ruh ini ibarat ponsel yang sewaktu-waktu baterainya lemah. Pemilik ponsel otomatis men-charge alat komunikasinya itu. Begitu juga ruh. Jangka waktu men-charge-nya adalah satu pekan sekali. Betul memang ketika satu kali absen dan tak diganti dengan kegiatan yang efeknya sama, ada guncangan di dalam diri. Ruh ini seperti alat komunikasi kita dengan Allah. Khusyuk ketika shalat atau tidak, itu bagian dari ruh yang dibina. Pertemuan dengan satu lingkar teman-teman ngaji amat berpengaruh. Memotivasi untuk tilawah dan hafalan, ibadah sunnah lainnya juga. Di sana kita berlomba dalam kebaikan yang hasilnya itu kembali pada kita masing-masing.

Mengapa Tarbiyah?

Semua tahu kedudukan tabligh?

Kedudukan tabligh secara syi’ar seperti ceramah. Ia tak berfungsi membentuk karakter.

Bagaimana dengan ta’lim?

Kedudukan ta’lim yang biasa kita lihat adalah pengajian ibu-ibu komplek atau kelompok masjid. Tak ada ikatan batiniah.

Dan tarbiyah

Kedudukan tarbiyah ini benar-benar berkesan. Sebab ia menghimpun untuk membentuk karakter seorang keturunan anak cucu Adam. Di mana kita dipantau oleh guru ngaji–ya shalatnya, tilawahnya, ibadah sunnahnya dan hafalan Qur’an. Seorang murabbiyah bertanggung jawab atas anak didiknya. Oleh sebab itu, tarbiyah adalah keluarga. Ia mendekatkan orang asing, memperkenalkan–kemudian mengeluargakan dalam dekap ukhuwah islamiyah.

Untuk apa tarbiyah itu sebenarnya?

Pertama, guna membentuk pribadi Islami. Kupas habis tentang aurat, ruhiyah, keluarga. Peran murabbiyah sebagai wasilah.

Kedua, guna membentuk atau menjadikan keluarga islami.

Yang Allah jaga bukan umatnya, tapi agama-Nya…

Jadi benar jika barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan meneguhkan kedudukannya.

Kita melihat dunia pada masyarakat, sangat nyata. Tarbiyah memiliki cara pandang ke depan atau visioner. Sebagai tugas abadi, menyebarluaskan Islam yang sudah tentu sebagai solusi. Di sini ada peran mujahid. Dialah hamba Allah yang paling baik. Sebab dia memperbaiki dirinya dan memperbaiki orang lain. Tempat surganya berbeda. Siapakah kira-kira sosok mujahid itu?

Ketiga, membentuk masyarakat yang islami. Tentu mengislamkan orang Islam jauh lebih penting. Memberikan pemahaman tentang apa saja yang berkaitan dengan Islam. Setelah terbina dan membina, insya Allah akan ada pernikahan yang mana setelah menikah itu dua sejoli yang bersatu karena Allah akan hidup dengan masyarakat. Peran pun berganti. Sesungguhnya hanya berperan dengan dasar ini;

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya…

Dan Mis Asih, begitu kami akrab menyapanya, beliau juga menyampaikan agar kami tak bosan untuk melakukan tarbiyah sepanjang hidup. Ibuku bilang; tarbiyah madal hayyah. Selanjutnya, shalih itu tak bisa sendiri. Kita butuh orang shalih yang lain untuk membimbing kita menjadi shalih. Kita harus bersama-sama, amal jama’i. Harus berbaur juga dengan siapa saja dengan syarat tidak melebur.

Pertemuan sepekan sekali itu sebuah kewajiban yang tak bisa ditinggalkan. Siapapun bisa menanamkan itu di hatinya. Kalau pun berhalangan, ada 3 alasan yang biasanya di Palestina dan negara muslim lainnya dipakai. Yaitu meninggal, sakit dan tersasar. Bukan agenda lain. Sebab halaqah adalah kebutuhan. Namun kita hidup di Indonesia. Maka kita harus memahami kekurangan orang lain, sisi buruk baiknya dan tetap ingat bahwa tarbiyah itu penting.

Semoga manfaat.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Shofiyah Qonitat
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Teknik Grafika Penerbitan. Sulung dari 5 bersaudara ini memiliki motivasi yang tinggi dalam menulis. Modal utama menulisnya adalah rasa. Pernah bercita-cita menjadi dokter. Sedang berusaha membersihkan partikel tidak penting di hidupnya dan ingin sekali membahagiakan orang tua.

Lihat Juga

Rindu Sang Murabbi (spesial)

Rindu Sang Murabbi: Film Biopic Dokumenter 1 Dasawarsa Berpulangnya Syaikh Tarbiyah, Ustadz Rahmat Abdullah (1953-2005)