Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berguru Pada Masalah

Berguru Pada Masalah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” (Al-Huud: 9)

Bismillah ar Rahman ar rahim

Mari sejenak kita merefleksikan diri…

Coba renungkan, apa yang kita lakukan jika muncul masalah dalam hidup ini? Katakan saja kita sedang sakit, kita langsung berusaha beribu cara agar penyakit itu segera hilang. Sedang didera tekanan orang lain, langsung “tembak”. Sedang ada hama di rumah, semprot insektisida. Sedang stress, telan obat kimia. Pokoknya segera tuntaskan dari penderitaan deh. Hehe.

Ketika melihat cara seperti ini, gagasan menyingkirkan hal-hal yang tidak kita sukai ‘hal yang tidak menyamankan’ bukanlah jalan kedamaian, ketenangan, dan pandangan cerah. Bagaimana jalan yang tenang tersebut? Sebuah pesan yang saya pegang, “Ketenangan erat dengan kebijaksanaan, dan kebijaksanaan adalah bersikap dan berpikir tenang, positif dan waspada.” Hadapilah dengan kebijaksanaan. Seorang biksu mengatakan, “Apa pun yang mengganggumu, jangan coba memusnahkan, tapi belajarlah darinya.”

Lantas apa saya harus berdiam diri “menikmati” derita yang saya alami Tadz?

“Tidak!”, berdiam diri bukanlah solusi segala masalah, berdiam diri menurut saya adalah solusi sementara, solusi sementara bagi “solusi utama” untuk menyelesaikan masalah kita. Namun dengan berdiam diri setidaknya ada yang berubah saat itu, yaitu penderitaan batin lenyap. Lenyap karena kita berusaha untuk menerimanya.

Jangan menjadikan masalah sebagai penghalang berjalannya kehidupan indah kita, “masalah datang untuk menjadi guru bagi kita.” Menjadi bijak terhadap masalah bukanlah hal yang sulit dan bukanlah hal yang mudah semudah kita menghitung 1+1=2. Trus bagaimana? Kebijaksanaan erat kaitannya dengan akal dan hati, moral dan rasional. Sehingga dibutuhkan jiwa yang besar dan hati yang lapang, semua perlu latihan, dan saya yakin semua orang dapat menjadikan dan membawa dirinya menjadi pribadi yang bijak termasuk Anda, percayalah!!

Berikut saya tuliskan beberapa langkah yang dapat melatih kita menjadi bijak, barangkali hasil perenungan dan pengalaman saya ini dapat menjadi manfaat bagi Anda semua.

Senyum!

Senyum akan membuat semua lebih baik, senyum menghadirkan pikiran positif yang merupakan tenaga terbesar ketika kita terpuruk. Ketika Anda sedang dihadapkan pada hal yang menyulitkan, tenangkan diri, sabar, dan tersenyumlah. Bahkan menurut saya, senyum adalah bentuk dari sabar yang baik.

“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (Al-Ma’arij: 5)

Kata seorang bijak, “Jika hidupmu sulit, jangan pernah kamu tinggalkan untuk memberikan sukacita dan kesenangan dalam hidup Anda. Jika Anda bisa menaruh senyum di dalamnya, hidup akan lebih baik.”

Selami Masalah!

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan (pelajaran), maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qomar: 35, 22, 32, 40)

Allah telah memberikan solusi terhadap segala hal dalam dunia ini, BERPIKIR, ya dengan berpikir, merenung Kita akan mengetahui segala pertanyaan ‘masalah’ dalam hidup kita. Jika Anda jeli, Allah telah mengulang-ulang firman-Nya pada surat Al Qomar di atas.

Menyelami masalah adalah dengan membawa diri kita ke arah pusat masalah. Kita temui pusatnya kita cari penyebabnya, kita cari tahu apa sebenarnya masalah itu. Inilah pentingnya menyelami masalah karena masalah adalah bagian dari hidup kita, kita tidak menginginkan masalah namun masalah datang juga. Ini menunjukkan kepada kita bagaimana kita menjadi rendah hati, dan bekerja sama dengan kehidupan ketimbang selalu berupaya mengendalikan kehidupan.

Orang-orang menderita terhadap rasa sakit, masalah, karena mereka tidak paham bahwa mereka tidak selalu bisa pegang kendali terhadap segala akibat dan ketentuan. Semakin cepat kita memahami ini, semakin cepat kita berdamai, berdamai dengan masalah kita.

Kita sering menghadapi kenyataan masalah pelik dalam hidup kita. Kenyataan yang sudah terjadi ataupun berlangsung dan tidak mungkin untuk merubah kembali menjadi nyaman kembali. Tak patut kita sebagai manusia yang percaya dengan ke-Maha Dahsyatan kekuatan Allah lantas meratapi dan menghinakan diri sejadi-jadinya. Kita masih mampu melakukan sesuatu terhadap reaksi kita, batin kita, bagaimana kita menanggapinya secara emosional dan spiritual. Di bagian inilah kita memiliki kendali penuh, kendali untuk melepasnya, membiarkan pergi dan berada dalam kedamaian bahkan meski dalam duka yang luar biasa, kekecewaan besar, atau apapun. Dan inilah menurut saya kepiawaian seorang bijak yang bisa kita praktikkan.

Banyak momen kehidupan kita yang menyakitkan entah itu akibat dari diri kita ataupun memang takdir yang harus kita lewati, yang dapat menjadi “pembelajar” bagi diri kita, belajar bagaimana kita menanggung kesukaran dan derita dalam hidup. Dan percayalah, semua akan menjadikan indah diri Anda sahabatku.

Sahabat muslim, kontrol emosi Antum ketika dalam kondisi yang sempit dan sulit. Percayalah pertolongan Allah ada di mana-mana. Hadirkanlah pertolongan itu. Bagaimana caranya? Caranya dengan membersihkan jiwa kita dan bawalah simpati Allah ke setiap tindakan Anda, tindakan baik. Ingatlah, bahwa semakin kita cemas dan tegang dalam menghadapi kesulitan dan derita hidup, makin bertambah hebat pula deritanya. Ketika kita benar-benar rileks dan melepas, masalah pun akan sirna. Insya Allah, bi idznillah.

Dengan dua langkah tadi semoga menambah khazanah Antum bagaimana membijakkan diri dalam hidup. Ingatlah, Ibu saya sering berpesan, “Nak, kedewasaan seseorang tidak diukur dari fisik dan usia. Namun dari bagaimana dia menguasai ilmu, emosi dan kepribadiannya. Bahkan seorang anak bisa saja lebih dewasa dari orang tuanya.”

Siap Membijakkan Diri?

Siapkan Diri Anda!!

Mari bijakkan diri, sukseskan gerakan menjadi bijak usia muda.

Jadikan diri Anda saudaraku sebagai pribadi muslim yang tangguh, bergaullah dan contohlah orang-orang yang baik. Bawa dirimu kearah kebaikan, karena semua tindakan ada akibatnya…

Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,09 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Teguh Setyawan
Taruna di Sekolah Tinggi Teknologi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Jakarta. Bekerja di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Lihat Juga

MA (kanan) dan ayahnya, Adnan Achmad (kiri). (Foto: tribunnews)

Siswa dan Orangtua yang Terlibat Pemukulan Guru di Makassar Jadi Tersangka