Home / Narasi Islam / Politik / (Tak) Seindah Kanker Bangsa

(Tak) Seindah Kanker Bangsa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Peta Indonesia. (inet)
Ilustrasi – Peta Indonesia. (inet)

dakwatuna.com Bangsa ini dan korupsi, telah menyatu dalam kepedihan. Semua yang telah kita rasakan semestinya membuat kita berbuat sesuatu, sekecil apapun, dari yang kita mampu, mulai dari diri kita sendiri. Bukan sikap acuh, putus asa, hingga tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, tetapi dibutuhkan partisipasi kita untuk menyembuhkannya.

“Mengapa ya, di sini perawatnya ramah-ramah, nggak ada yang bentak-bentak seperti di ruangan?”

“Pantes saja, kita ini kan orang-orang yang mau mati.”

Di ruang Radioterapi ini semua pasien berbaur, yang berasal dari ruang VIP hingga ruang kelas III semua menyatu. Di sini seperti tak ada kelas, semua dilayani dengan telaten, ramah, penuh dengan kesabaran. Pasien-pasien saling berbincang akrab, sharing dengan sesama, tampak guyub, semua sudah seperti keluarga sendiri. Di tempat ini sangat terasa berbeda bagi pasien yang berasal dari ruang kelas III, yang berobat dengan bekal jaminan sosial, yang masih sering mengalami perlakuan kurang mengenakkan.

Apakah karena kanker itu mematikan? Mengapa ia mengubah orang-orang yang bersentuhan langsung dengan para pengidapnya menjadi pribadi-pribadi yang berperasaan? Bukankah penyakit lain juga sama-sama bisa mematikan? Apa yang membedakan? Mengapa ia membuat kematian itu menjadi terasa dekat, hingga perpisahan seolah bergegas dipersiapkan?

Hanya orang-orang yang mengidapnya dan orang dekat yang bersentuhan langsung dengan mereka yang mengetahui jawabannya, meski cukup sulit untuk menjelaskannya. Yang membuat para survivor kanker merasa perlu memiliki perhatian lebih terhadap mereka yang senasib, memberi motivasi, membangkitkan semangat mereka, hingga terbentuklah perkumpulan-perkumpulan, untuk bisa saling berbagi dan memberi support atas apa yang sama-sama mereka alami.

Keluarga dekat dan mereka yang pernah bersentuhan langsung dengan kanker menjadi memiliki atensi lebih bila mendengar kata kanker disebut,  menjumpai orang-orang yang bernasib sama, melebihi mereka yang mendengar kanker melalui pelajaran-pelajaran ilmiah, novel, film, atau cerita dari mulut ke mulut.

Dalam sebuah acara talk show di TV, seorang ibu bercerita kepada anaknya, “Dulu ketika mengandung kamu, mama ketahuan mengidap kanker. Kata dokter mama harus sesegera mungkin dioperasi. Tapi mama tak mau mengorbankan kamu, untuk operasi mama nunggu beberapa bulan, nunggu kamu lahir.” Mendapat cerita itu si anak ekspresinya biasa saja, “O, gitu ya.” Hingga ketika ia dewasa, menjadi seorang dokter dan bersentuhan langsung dengan para penderita kanker, baru ia merasakan nilai pengorbanan sang ibu kepadanya, ibu yang mempertaruhkan nyawa untuknya.

Kanker itu hidup bersama kehidupan pengidapnya, mereka merasakannya betul. Kadang untuk menghibur mereka, kita katakan agar mereka bersahabat dengan kanker, entah itu sebenarnya menipu, kita hanya ingin membangkitkan motivasi mereka, hingga mereka memiliki kekuatan jiwa. Agar dengan itu mereka bisa tersenyum, sebagaimana yang biasa dikatakan orang, “Belum ada obat kanker yang bisa menjamin kesembuhannya, obat yang terbaik adalah mendekatkan diri pada Tuhan dan usahakan untuk bisa tersenyum tiap hari.”

Kanker itu hidup, pengobatannya mungkin sepanjang kehidupan para sahabat kanker itu. Pengobatannya membutuhkan waktu yang lama, menata satu demi satu sel-sel dalam tubuhnya agar kembali normal, berpacu dengan sel-sel ganas yang terus menyebar. Tahap demi tahap pengobatannya amat panjang, melelahkan, bahkan menyakitkan. Untuk menghiburnya agar mereka tak putus asa, lantas kita katakan pada sahabat-sahabat kanker itu bahwa mereka sedang berjuang.

Tentang korupsi yang membelit bangsa ini bagai kanker, yang kita semua merasakan kepedihannya, hingga sempat terlontar sebuah ucapan, “korupsi akan hilang dari Indonesia bila semua penduduknya pergi dan digantikan manusia-manusia lain.” Sebuah ungkapan yang menghibur berbingkai keputusasaan, di antara karut marut yang tak kunjung usai.

Meski pedih, kanker tubuh menjadi indah bagi banyak orang, memperindah empati mereka, melembutkan perasaan mereka, menumbuhkan rasa kasih dalam hati-hati mereka. Di antara perjuangan itu terangkai doa-doa yang indah, membuat banyak orang belajar tentang arti kehidupan. Di antara itu lahir orang yang mengerti arti kesetiakawanan dan pengorbanan.

Dapatkah kanker bangsa ini menjadi seindah kanker tubuh?

Teramat sulitkah membebaskan bangsa ini dari kanker yang membelitnya? Ketika berbagai upaya telah ditempuh hingga banyak orang berpikir tak tahu lagi harus berbuat apa. Bagaimanakah mengurai satu per satu sel-sel korupsi yang menggerogoti bangsa ini? Bagaimana berpacu dengan mereka yang kalap, buta dan ganas? Menyerah dan Membiarkan tubuh bangsa ini hancur digerogotinya, dan engkau juga mau ikut bersama kehancurannya?

Tapi tidak, perhatikan baik-baik bahwa sel-sel kanker tubuh dan kanker bangsa berbeda satu sama lain. Sejahat apapun sel-sel kanker bangsa itu, jika kesadaran mereka terbuka dan insyaf, dalam sekejap mereka sudah kembali menjadi sel-sel bangsa yang normal. Tak butuh proses panjang seperti membersihkan kanker tubuh, sekronis apapun organ-organ bangsa yang telah digerogoti olehnya, bisa pulih seperti sedia kala. Setebal apapun catatan-catatan hitam, tak perlu lama untuk menghapusnya, bisa ditukar dengan catatan-catatan putih bersih saat ini juga, oleh sekejap taubat yang sebenarnya.

Sekronis apapun bangsa ini, harapan itu senantiasa ada. Separah apapun kerusakan organ-organ bangsa, tak mesti berpikir tentang amputasi. Ia bisa pulih, kembali menjadi organ sehat yang bermanfaat bagi bangsa ini. Tak ada kata paliatif dalam kamus penyembuhan bangsa ini. “Maaf, sehubungan dengan kondisi pasien yang sedemikian, kami menyarankan keluarga membawa pulang, untuk selanjutnya dipasrahkan saja kepada Tuhan, mungkin ini adalah sebuah pilihan terbaik,” bangsa ini tak membutuhkan kalimat-kalimat seperti ini. Ia membutuhkan optimisme dan perjuangan yang tak kenal menyerah.

Hanya saja jika para koruptor itu lebih takut akan konsekuensi yang menyertai bila mereka insyaf daripada takut akan akibat dosa-dosa bila terus mereka lakukan. Saat mereka tak mengerti bahwa sebesar apapun dosa mereka, senyum dan tangan terbuka akan menyambut jika mereka kembali. Saat mereka tak menyadari jika tak mau insyaf saat ini, suatu saat nanti pasti mereka akan insyaf juga, meski penyesalan saat itu akan menjadi tak berguna sama sekali. Hal ini berarti sebuah kabar gembira bagimu, bahwa uluran tanganmu untuk menyembuhkan bangsa ini masih berarti. Selemah apapun keadaanmu, saat engkau merasa hanyalah orang kecil yang tak berdaya, bukankah engkau yakin akan adanya Kuasa Tuhanmu?

Namun bagaimana engkau berharap Tuhan mengetuk hati sel-sel kanker bangsa untuk insyaf jika engkau sendiri tak mau mengambil keindahan pembelajarannya.

Kanker bangsa ini tak membuat amarahmu indah, bukankah tanganmu sendiri yang memilihnya dalam bilik-bilik suara hingga mereka bisa menempati jabatan tersebut.

Kanker bangsa ini tak membuat penyesalanmu indah, pemberian yang tak seberapa dari mereka kau rasakan teramat berarti, meluluhkan sumpah serapahmu pada para koruptor itu. Pemberian itu nilainya tak seberapa dibanding penghasilan yang kau dapatkan dari hasil jerih payahmu, apalagi dibandingkan dengan harga dirimu. Engkau tak lagi merasa aneh dengan kegembiraanmu saat menerima pemberian itu, padahal engkau tahu, semua yang mereka berikan kepadamu tak sebanding dengan hak-hakmu yang dirampas oleh mereka.

Saat-saat para koruptor itu melakukan pencitraan dan tebar pesona, engkau menyembutnya dengan gempita, menengadahkan tanganmu, merengek-rengek dan mengharap pemberiannya. Engkau puji mereka sebagai dermawan, peduli pada rakyat. Saat-saat orang yang memiliki integritas, yang lebih layak memimpin bangsa ini engkau acuhkan begitu saja.

Kanker ini tak membuat kepedulianmu indah, engkau inginkan bangsa ini terbebas dari cengkeraman para koruptor itu, namun engkau duduk-duduk saja di rumahmu, sibuk dengan urusanmu sendiri, kepentinganmu dan pekerjaanmu. Apakah engkau berandai-andai malaikat penyelamat begitu saja turun dari langit, memperbaiki bangsa ini, dan engkau cukup diam menunggu?

Apakah engkau merasa langkahmu dalam ketidakberdayaan ini sia-sia? Engkau merasa tak ada gunanya melawan sel-sel ganas itu? Lantas engkau enggan berpayah-payah menghadapinya, malah membiarkan dirimu menjadi bagian darinya, engkau menjadi kanker bangsa juga. Bukankah besarnya nilai kepahlawanan sebanding dengan kesulitan yang mesti dipecahkan?

Saat-saat mereka yang berjuang melawan kanker bangsa itu terbelit oleh sel-sel ganas itu, berubah haluan menjadi kanker bangsa juga, mengapa engkau sama sekali tak merasa kehilangan, tanpa berupaya menyelamatkan mereka, engkau biarkan kanker-kanker bangsa itu bersorak menikmati kemenangannya?

Saat-saat mereka yang berhadapan dengan belitan ganasnya sel-sel kanker bangsa itu kelimpungan, berhadapan dengan hukum, kekuasaan dan media yang telah dikuasai para koruptor itu, tertimpa berbagai fitnah, hingga menjadi pesakitan, kemudian para koruptor itu tertawa terbahak-bahak, engkau pun ikut tertawa terbahak-bahak. Ketika para koruptor itu kegirangan, engkau pun ikut kegirangan. Ketika para koruptor itu mencemooh mereka, engkau pun ikut mencemooh mereka.

Di antara ketidakberdayaanmu, masih ada yang bisa engkau lakukan, dari yang engkau mampu, mulai dari dirimu, agar engkau dicatat di sisi Tuhan sebagai orang yang telah berusaha, agar engkau tidak merasa kecilnya pengorbananmu sia-sia saja. Jika engkau tak mau mati bersama kanker ini maukah untuk sekadar mengatakan tidak pada pencitraan, tebar pesona dan money politik.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Pemuda Investasi Bangsa