Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin

Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul Asli: Wasailut Tarbiyah ‘inda Ikhwanil Muslimin
Judul Terjemahan: Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin
Penulis: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud
Penerbit: Era Intermedia – Solo
Tebal: 376 Halaman; 23 cm
ISBN: 979-9183-13-8

Cover buku "Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin".
Cover buku “Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin”.

dakwatuna.com Tarbiyah adalah cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (berupa kata-kata) maupun dalam bentuk tidak langsung (berupa keteladanan, sesuai dengan sistem dan perangkatnya yang khas), untuk memproses perubahan dalam diri manusia menjadi kondisi yang lebih baik.

Dalam proses perubahan ini, di mana masing-masing individu muslimin yang tergabung dalam tarbiyah dituntut untuk menjadi lebih baik dengan mengoptimalkan segala macam potensi yang ada dalam dirinya. Baik potensi fisik, pikiran dan ruhani. Sehingga, tarbiyah merupakan cara terbaik untuk mempersiapkan individu-individu muslim guna menyongsong kebangkitan Islam yang Allah janjikan.

Tarbiyah sendiri, secara garis besar, memiliki beberapa tujuan utama. Pertama, sebagai sarana ibadah kepada Allah sesuai dengan syariat-Nya. Dalam tahap ini, masing-masing peserta diberikan pendidikan yang komprehensif tentang kesejatian dirinya. Dari mana dia berasal, untuk apa diciptakan, bagaimana seharusnya menjalani hidup, dan penyadaran tentang ke mana mereka akan berpulang.

Kedua, tegaknya khilafah Allah di muka bumi. Khilafah yang merupakan sistem pemerintahan ideal ini, hendaknya dipersiapkan dengan kerja nyata berupa mempersiapkan kader-kader yang siap mengemban amanah memakmurkan bumi ini. Sehingga, peserta tarbiyah ini, dalam menjalani proses tarbiyah, dipersiapkan untuk menjadi khalifah-khalifah yang tersebar di segala bidang. Sehingga, khilafah yang diimpikan bukan sekadar wacana, melainkan sebuah cita-cita yang bisa dicapai dengan banyak jalan.

Ketiga, saling mengenal sesama manusia. Tarbiyah bukan proses memalaikatkan manusia. Ia adalah upaya mencetak manusia muslim paripurna yang mempunyai dua dimensi. Yakni, baik hubungannya dengan Allah sebagai satu-satu-Nya Pencipta. Dan, harmonis interaksinya dengan sesama manusia. Ia terus menyebarkan ilmu-ilmu langit yang diakses melalui tarbiyah itu sendiri. Sehingga, keberadaan mereka, di manapun, senantiasa menerangi. Bukan sekadar pengutuk kegelapan.

Keempat, kepemimpinan dunia. Kita hidup di zaman di mana kezhaliman mendominasi. Ketika kebenaran disalahkan dan kesalahan dibenarkan. Tentu, hal ini tidak lantas membuat kita pesimis. Melainkan optimis sepenuh jiwa, bahwa kita diberi tanggung jawab untuk mengusung kebangkitan Islam. Ketika Islam berhasil memimpin peradaban, maka kesejahteraan, bukan hanya mimpi. Bahkan, di zaman para pendahulu kita, semua golongan, semua aliran, semua agama, merasa damai ketika kepemimpinan dunia berada dalam genggaman kaum Muslimin. Dan, tarbiyah, tidak hanya mengajak kita untuk bernostalgia mengenang kejayaan itu. Tapi melangkah pasti dengan apa yang kita miliki. Jikapun misalnya kebangkitan Islam akan dicapai pada langkah ke seribu, maka apa yang kita lakukan sekarang ini, meskipun baru langkah pertama, setidaknya kita tengah menunjukkan kesungguhan kita.

Kelima, menghukum dengan syariat. Setelah Islam mencapai puncak kepemimpinan dunia, selanjutnya adalah menegakkan hukum syariat di segala lini. Hukum syariat ini sejatinya sangat manusiawi. Karena ia diatur oleh Allah yang menciptakan manusia. Maka Allah, adalah Dzat yang paling mengetahui bagaimana ciptaannya, apa yang baik dan buruk baginya, dan seterusnya.

Ikhwanul Muslimin, sebagai gerakan dakwah yang diinisiasi oleh Imam Hasan al-Banna ini, di mana agenda kebangkitan Islam menjadi brand gerakan yang dimusuhi oleh Yahudi dan Nasrani, mempunyai perangkat-perangkat tarbiyah yang jelas, tertata rapi dan mempunyai indikator yang jelas dalam membentuk kader-kadernya.

Usrah merupakan perangkat pertama dalam membentuk kader muslimin yang militan. Ia merupakan batu pertama dalam struktur bangunan jamaah. Dalam tahap ini, yang dilakukan adalah pembentukan kepribadian anggota untuk ditarbiyah secara integral, menyentuh seluruh sendi kepribadian, untuk selanjutnya memformat mereka dengan format Islam sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah.

Usrah ini memiliki lima perangkat. Pertama, pertemuan pekanan. Kedua, tempat pertemuan yang nyaman dan jauh dari keramaian yang mengganggu konsentrasi pikiran dan hati. Ketiga, pertemuan di masjid. Keempat, pertemuan di rumah-rumah anggota usrah. Kelima, memperluas jaringan usrah dengan mempertemukan anggota-anggota keluarga peserta usrah.

Kumpulan usrah dalam jumlah banyak ini, setiap pekan atau dalam beberapa waktu berkala, dikumpulkan secara berjamaah untuk menjalankan katibah. Yakni mentarbiyah sekelompok anggota usrah dengan pola tarbiyah yang bertumpu pada tarbiyah ruhani, pelembutan hati, penyucian jiwa, dan membiasakan fisik beserta seluruh anggota badan untuk melaksanakan ibadah secara umum, juga untuk tahajud, dzikir, tadabbur dan berpikir secara khusus.

Selanjutnya adalah rihlah. Jika usrah dan katibah lebih berdimensi pikir, ruh, dan aneka kegiatan yang berkaitan untuk menyuburkan keduanya, maka rihlah lebih berdimensi kepada fisik. Sehingga, rihlah merupakan pelengkap tarbiyah yang memiliki kedudukan sangat penting untuk menciptakan iklim sosial keikhwanan yang dipandu oleh nilai-nilai Islam dan kedisiplinan secara fisik sehari penuh.

Selanjutnya, perangkat tarbiyah yang tak kalah pentingnya adalah mukhayyam atau mu’asykar. Bisa dibilang, mukhayyam merupakan gabungan antara usrah, katibah dan rihlah. Dalam mukhayyam ini ada tiga tujuan pokok yaitu pengumpulan, tarbiyah dan pelatihan. Pengumpulan bermakna berkumpulnya anggota dalam satu waktu, baik anggota tingkat awam, khusus, para pemimpin jamaah maupun tingkat pemimpin internasional.

Aspek tarbiyah dalam mukhayyam meliputi mencelup kehidupan pribadi dengan celupan Islam dan membersihkan diri dari noda selama 24 jam selama beberapa hari atau beberapa pekan, membiasakan para peserta hidup secara militer, pendidikan kesabaran, bekerjasama antar seluruh anggota, pengajaran sejarah harakah Islam, memperkenalkan anggota dengan pemimpin jamaah, dan pembahasan aneka persoalan penting yang sudah diagendakan.

Sedangkan latihan dalam mukhayyam meliputi latihan hidup secara militer, interaksi dengan pemimpin, memikul tanggungjawab, menggunakan kebutuhan baik secara keuangan, keahlian maupun pengetahuan, menggunakan waktu secara full time, melakukan penjagaan dan keamanan serta melatih para anggota untuk menjaga informasi, rahasia terkait jamaah kepada pihak luar.

Perangkat berikutnya yang tak kalah pentingnya dalam tarbiyah Ikhwanul muslimin adalah daurah, nadwah dan muktamar. Daurah merupakan aktivitas mengumpulkan anggota dalam jumlah relatif banyak di suatu tempat untuk mendengarkan ceramah, kajian, penelitian, dan pelatihan tentang suatu masalah, dengan mengangkat tema tertentu yang dirasa penting bagi keberlangsungan amal islami.

Nadwah sendiri merupakan berkumpulnya sekumpulan orang di suatu tempat pertemuan untuk melakukan kajian dan musyawarah tentang suatu tema. Sedangkan muktamar merupakan forum besar untuk melakukan musyawarah membahas dan mengkaji suatu persoalan. Dalam sejarah jamaah beberapa muktamar yang sudah dilakukan adalah Muktamar al-Manshurah, Muktamar Asyuth, Muktamar Palestina, Muktamar Parlemen-parlemen Internasional, dan lain sebagainya.

Membaca buku yang dirujuk langsung dari dokumen-dokumen resmi Ikhwanul Muslimin ini, membuat kita semakin yakin bahwa masih ada sekumpulan orang yang merindukan Islam dan berupaya secara seksama untuk mewujudkannya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (20 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Konsep Pendidikan Dalam Al-Quran