Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aktualisasi Hamdalah: Pendidikan Syukur Bagi Manusia

Aktualisasi Hamdalah: Pendidikan Syukur Bagi Manusia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (dakwatuna.com/hdn)
Ilustrasi (dakwatuna.com/hdn)

dakwatuna.com – Membaca hamdalah pada Al-Quran surat al-Fatihah tidak asing lagi di hadapan kita, bahkan sudah menjadi kebiasaan. Setiap orang juga kita selalu membacanya, pada saat mendapatkan kenikmatan, kesuksesan, juga keberhasilan dalam hidup. Shalat, yang menjadi kewajiban Muslim, berisi mengenai bacaan ini, juga menjadi salah satu rukunnya, sehingga jika seseorang tidak membacanya, shalatnya tidak sempurna. Minimum 17 kali dalam bilangan raka’at shalat, kita membacanya setiap hari. Ajaran agama mengenai amalan tertentu menuntun kita untuk selalu mendengungkan hamdalah pada setiap dzikir yang kita lakukan untuk mengingat Allah. Bacaan hamdalah tidak hanya dibaca pada suatu saat ketika mendapatkan kesuksesan, melainkan hendaknya mengalir dalam hembusan napas setiap saat. Sebab Allah telah menciptakannya menjadi makhluk yang sempurna (ahsan taqwim) yang berbeda dengan makhluk lain ciptaan-Nya.

Ketika Anda membaca tulisan ini sejatinya denyut dan hembusan nafas mengantarkan Anda menyadari bahwa Allah telah memberikan kekuatan, kompetensi, pemahaman, penglihatan, dan kekuatan analisis bacaan pada Anda di saat orang lain tidak punya kemampuan untuk membaca dan berkesempatan membaca. Kita bersyukur masih diberikan kekuatan tersebut dan masih diberikan kesempatan hidup oleh-Nya dalam mengarungi makna kehidupan.

Al-Hamdu Lillah

Sungguh indah ungkapan al-Qur’an mengenai hamdalah dengan perwujudan teks al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin (QS.al-Fatihah: 2). Segala puji hanya milik dan tertuju kepada Allah Swt. Allah lah Tuhan yang layak untuk dipuji, bukan yang lainnya, bahkan bukan pula makhluknya. Manusia, sebagai salah satu makhluk yang dititahkan untuk membaca firman-Nya dalam al-Qur’an, diberikan suguhan segar berupa proses penyadaran diri untuk selalu mengaitkan diri pada-Nya. Waktu yang masih kita jalani, kesehatan yang masih melekat pada diri, ruang yang masih dipandang luas untuk aktivitas, ruh yang masih dikandung jasad, juga aspek lainnya yang masih muncul di hadapan kita, semuanya berkat dari Allah yang terkadang tanpa disadari proses perwujudannya di hadapan kita.

Al-Quran surat al-Fatihah ayat 2 memberikan ajaran bijak pada manusia bahwa apa yang dilakukan oleh manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia merupakan dampak dari sifat al-rahman dan al-rahim Allah. Allah memberikan nikmat yang besar pada setiap makhluk di dunia tidak mengenal ras, jenis, etnis, maupun agama sekalipun. Semuanya diberikan rizki yang maha luas oleh Allah. Seiring dengan kenikmatan yang besar tersebut, dengan al-rahim, Allah hanya menyediakan nikmat besar bagi manusia di akhirat nanti sesuai dengan cerminan perilaku di dunia dan hanya ditunjukan bagi orang-orang yang berperilaku sesuai dengan aturan-Nya.

Sebagai manusia yang diperintahkan untuk membaca al-Qur’an, manusia hendaknya menyadari bahwa kenikmatan yang diberikan hakikatnya berasal dari Allah. Ini menjadi sebuah konsekuensi, Allah lah yang mesti disembah dan dipuji. Allah telah menciptakan segalanya untuk kebaikan manusia. Pujian manusia terhadap sesamanya juga makhluk lainnya, yang dalam konteks sosiologis mencerminkan kerukunan dan pengakuan sesama, sejatinya bukan semata-mata memuji makhluk melainkan memuji Yang Maha Menciptakan. Sebab, subjek yang dipuji tidak mungkin dapat dipuji, jika Allah tidak menciptakannya.

Rabb al-‘Alamin

Penulis memandang terdapat dua frase pokok pada ayat hamdalah ini yang dapat dijadikan petunjuk bagi kehidupan. Pertama, frase al-hamdu lillah, dengan struktur kalimat ikhbari, menunjukkan makna kalimat informasi penting yang dipandang sempurna walaupun tidak menggunakan artikel kata lainnya. Frase ini, sebagaimana dijelaskan di atas, mengandung makna terdalam mengenai kemutlakan orientasi puji dan syukur hanya pada Dzat Yang Maha Rahman dan Maha Rahim.

Kedua, frase Rabb al-‘alamin. Gabungan kata ini (idhafat) memiliki makna bahwa Allah Yang Maha Mengatur seluruh alam yang diciptakan. Allah menciptakan seluruh kosmos baik makrokosmos (alam semesta) maupun mikro kosmos (unit partikular ciptaan) menurut ketetapan-Nya sekaligus keteraturan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Allah menciptakan makhluk tidak sekaligus meninggalkannya, melainkan mengaturnya pula. Pemahaman ini bersinggungan dengan makna kata pendidikan yang dalam bahasa Arab (menurut salah satu aliran pemikiran bentukan kata; isytiqaq) disebut tarbiyah yang berarti mengembangkan, menumbuhkan, mendidik, juga mengatur menjadi lebih baik.

Pada frase kedua ini tersirat sebuah makna bahwa manusia hendaknya menyadari bahwa Allah telah mengatur, mengembangkan, dan menumbuhkan dirinya sesuai dengan kehendak kebaikan-Nya. Alam semesta dan kehidupan manusia diciptakan dengan alur keseimbangan yang ditetapkan. Manusia yang berkehendak memperbaiki dirinya menjadi lebih baik dan berkembang, Allah telah menyediakan seluruh fasilitasnya, tanpa diminta oleh makhluk. Bukankah kita tidak meminta potensi akal, penglihatan, pendengaran, dan anggota tubuh lainnya? Tetapi Allah telah menyiapkan semuanya. Semuanya ini terbentuk karena Allah mengatur segalanya.

Bahkan ketika kita menghadapi masalah baik kesempitan maupun kesukaran hidup, Allah menyediakan solusi yang terbaik bagi dirinya sesuai dengan kemampuan menghadapi masalah. Bahkan Allah menegaskan bahwa setiap kesukaran pasti ada kelapangan, setiap masalah pasti diiringi oleh solusi (QS. Al-Insyirah: 5-6).

Penuturan bahasa al-Quran dengan struktur yang indah pada redaksi al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin, menyediakan ruang penyadaran (consciousness) bagi manusia, bahwa kita diciptakan dan mengarungi nuansa kehidupan sampai detik ini berkat rahman dan rahim-Nya. Sebagai makhluk yang diberikan potensi kesadaran, kita dapat menegaskan kembali bahwa yang patut disembah dan dipuji hanya Allah, sebab menurut teks ayat ini Allah telah menyediakan fasilitas dan mengatur seluruh kosmos terutama manusia dengan kehendak kebaikan. Apa yang berjalan pada alur kehidupan ini sejatinya adalah bentuk kebaikan Allah, walaupun terkadang kita lupa pada-Nya. Wallahu ‘Alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ketua Yayasan Pendididkan Latifah Ciwaringin, Cirebon.

Lihat Juga

llustrasi. (bestonlinequranlearning.com)

Kriteria Manusia Beruntung Menurut Al-Quran

Organization