Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Cegah HIV/AIDS bukan dengan Kondom, tetapi dengan Pembinaan Moral

Cegah HIV/AIDS bukan dengan Kondom, tetapi dengan Pembinaan Moral

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Stop freesex untuk Indonesia bermoral. (Qonita Rizqi Darmawana)
Stop freesex untuk Indonesia bermoral. (Qonita Rizqi Darmawana)

dakwatuna.comKasus dan berita yang saat ini sedang merebak yaitu Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) yang telah menyelenggarakan Pekan Kondom Nasional (PKN) menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Kegiatan ini akan dilangsungkan selama sepekan mulai dari tanggal 1-7 desember 2013. Meskipun telah kegiatan ini telah dilangsungkan semenjak tahun 2007, nyatanya justru malah penderita HIV/AIDS semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Apakah dengan membagi-bagikan kondom secara gratis yang sasarannya adalah anak muda hingga tempat prostitusi mampu mengurangi jumlah penderita HIV/AIDS?  Benarkah kondom aman untuk mencegah HIV / AIDS? Prof. DR. dr. Dadang Hawari membantahnya. ”Saya bisa pastikan salah besar. Karena kondom dibuat dari latex, berarti berserat berpori-pori. Kalau tidak berserat dan tidak berpori-pori itu dari plastik. Ukuran pori-porinya 1/60 mikron, kecil sekali. Kondom dirancang untuk Keluarga Berencana, untuk mencegah sperma. Ukuran virus di banding sperma 1/450 kali lipat. Jadi virus HIV sangat kecil sekali dibanding sperma yang bentuknya seperti kecebong itu.”

Prof. Dadang mengingatkan penelitian di Indonesia lima tahun yang lalu untuk KB dengan kondom, gagal 20 persen. “Apalagi untuk HIV/AIDS. Sekarang kenyataannya, dengan menggunakan kondom ternyata semakin banyak pula yang terkena HIV/AIDS, padahal kampanye sudah bertahun-tahun, pengidap HIV/AIDS semakin banyak bukannya menurun.”

Bagaimana dengan di negara maju? Prof Dadang menjelaskan, “Di Amerika, 1/3 jumlah kondom yang beredar di pasar bocor. Kesimpulan dari penelitian dari Badan POM di Amerika tahun 2005, tidak dikampanyekan lagi kondom karena mulai gagal. Kondom untuk sperma bukan untuk virus HIV yang sangat kecil”. Secara ilmu kesehatan telah di jelaskan bahwa hal tersebut yang tadinya disinyalir mampu mengatasi HIV/AIDS justru gagal.  Jika ada yang tidak mau bicara atas nama moral dan agama dalam urusan Pekan Kondom Nasional, ternyata ilmu kesehatan telah membantahnya sendiri.

Entah yang menyelenggarakan apakah pemerintah sendiri maupun dengan beredar berita bahwa yang menyelenggarakan adalah pihak swasta. Yang jelas kegiatan ini akan berakibat pada maraknya perilaku freesex di kalangan pemuda dan masyarakat yang seolah-olah pemerintah turut mendukungnya. Dan yang mampu menjadi solusi ialah dengan pembinaan moral sejak dini, anak-anak yang telah diperkenalkan dengan Al-Qur’an bagi yang muslim, perilaku orang tua yang baik untuk ditiru, lingkungan sekolah dan rumah yang mendukung. Pembinaan moral tidak hanya berhenti pada pelajaran ketika kita masih kecil, bahkan saat menjadi mahasiswa pun pembinaan moral ini tidak boleh kita tinggalkan. Apakah dengan mengikuti kegiatan mentoring/halaqah, mengikuti kajian keagamaan, karena apabila pembinaan moral hanya berbatas pada mata kuliah keagamaan yang hanya 2 sks per minggu dan hanya ada pada satu semester, bisakah dibayangkan perilaku kita yang bisa jadi tidak bisa diarahkan lagi tanpa kita sadari?

Wallahua’alam bishawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Qonita Rizqi Darmawana
Mahasiswi S1 Universitas Brawijaya jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian. Jarmusda Malang Raya. Love travelling so much. Perantau dari Jakarta. SD-SMP-SMA Jakarta, lulus tahun 2010.

Lihat Juga

Antara Fenomena LGBT dan Ancaman AIDS