Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mentafakuri Matahari

Mentafakuri Matahari

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – 

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,” (QS. asy-Syams: 1)

Tatkala Allah bersumpah atas nama makhluk-Nya, itu menandakan makhluk tersebut memiliki posisi yang amat penting dalam kehidupan. Pun begitu dengan matahari. Terbayangkah apa yang terjadi pada kehidupan ini bila tak ada matahari?

Maka, mari sejenak kita mentafakkuri (memikirkan) serta mentadabburi (merenungi) perihal matahari. Bukankah Allah ciptakan ia juga sebagai bahan pembelajaran bagi kita?

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),” (QS. an-Nahl: 12)

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (QS. an-Nahl: 17)

Apa saja pelajaran yang bisa kita ambil dari matahari?

Pertama, matahari tahu kapan harus terbit dan kapan harus tenggelam. Proporsional. Tidak show off berlebihan. Ini mengajarkan kepada kita untuk tahu diri, tidak serakah, tahu kapan harus bertindak di depan umum dan kapan harus diam di balik layar, tidak mengambil jatah kesempatan orang lain untuk berbuat.

Kedua, matahari punya kedisplinan yang tinggi. Ia tidak pernah terlambat terbit dan tenggelam. Jadwalnya telah tertata rapi, tetap terjaga. Selain itu, ia beredar sesuai garis edarnya. Bisa dikatakan, matahari itu disiplin waktu dan dispilin tempat.

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yaasin: 40)

Dari sini kita bisa belajar kedispilinan dan menjaga waktu yang kita miliki. Tidak terlambat dan tidak menunda dalam hal apapun.

Di sisi lain, kita pun perlu berusaha untuk tetap berada di ‘garis edar’ kehidupan, yakni apa yang Allah firmankan dalam al-Qur’an dan apa yang Rasulullah Saw ajarkan dalam as-Sunnah. Terbayangkah apa jadinya bila tata surya ini keluar dari garis edarnya dan berevolusi seenaknya? Pasti hancur! Ya, seperti itu pula yang terjadi bila manusia hidup seenaknya dan keluar dari ‘garis edar’ yang telah Allah gariskan. Hancur!

Garis edar matahari juga mengajarkan kita untuk proporsional dalam menjalani kehidupan, tidak berlebih-lebihan (ekstrem kanan) dan tidak pula mudah menggampangkan atau menyepelekan (ekstrem kiri). Pertengahan saja. Seperti matahari, ia tidak terlalu jauh tapi tidak pula terlalu dekat dari bumi. Jaraknya tepat. Itulah yang membuatnya selalu menghangatkan. Maka jadilah pribadi pertengahan, yang tidak possesive tapi juga tidak teramat cuek.

Ketiga, kehadiran matahari itu memberikan manfaat yang besar. Keberadaannya membantu proses fotosintesis dedaunan, memungkinkan penguapan air pada siklus hujan, dan lain sebagainya. Seyogyanya begitu pula seharusnya kita, berbeda antara ada dan tiadanya. Adanya menjadi sumber manfaat bagi sekelilingnya, sehingga tatkala ia tidak ada, mereka merindukannya, seolah ada sesuatu yang hilang.

Keempat, matahari memberikan sinarnya tidak pandang bulu. Seluruh sisi bumi mendapatkan sentuhan hangatnya. Inilah makna keikhlasan. Memberi tanpa memandang yang diberi. Maka semoga kita pun demikian, memberikan kebermanfaatan secara luas.

Kelima, untuk dapat bersinar, matahari memiliki kandungan gas yang sangat besar. Gas tersebut terus terbakar hingga habis saat Kiamat tiba. Apa pelajarannya? Tentu agar kita bisa memberi manfaat yang besar, ‘kandungan kapasitas’ kita pun harus besar. Maka asahlah kemampuan kita. Perbanyak keilmuan dan wawasan kita. Dengan begitu, kita menjadi lebih ‘tajam’ dan lebih berguna daripada mereka yang ‘tumpul’.

Allahu a’lam…

Terakhir, mari kita berdoa,

“Allahumma nawwir quluubana binuuri hidayatika, kama nawwartal ardha binuuri syamsika abadan abada, birohmatika yaa arhamar raahimiin.”

(Ya Allah, pancarkanlah cahaya kepada hati kami dengan cahaya hidayahmu, sebagaimana Engkau cahayai bumi dengan mataharimu selama-lamanya, dengan kasih sayang-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.)

NB: Ditulis ketika matahari begitu ramah dan cerah.

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak kecil menggemari segala jenis masakan. Hingga kini senang membaca dan mengakrabi aksara.

Lihat Juga

Tafakur “Apa Tujuan Kita Ada”?