Home / Berita / Nasional / Tidak Rasional, Ada yang Sebut Jokowi ‘Nabi’

Tidak Rasional, Ada yang Sebut Jokowi ‘Nabi’

jokowidakwatuna.com – Jakarta.  Pencitraan yang dibuat maupun yang alami mengenai sosok Joko Widodo telah membuatnya sebagai sosok yang disebut di berbagai media sosial sebagai ‘nabi’. Mulai dari akun twitter yang mempunyai follower yang cukup banyak sampai media online.

Pencarian google.com, Sabtu (16/12) mengenai kalimat  ‘nabi jokowi’ menghasilkan 1.930.000 hasil pencarian.

Susah untuk menilai ‘kenabian’ yang dimaksud dari sosok Joko Widodo yang sekarang menjabat sebagai Gubernur Jakarta itu. Selain itu, Antara(15/12) melaporkan masyarakat Indonesia juga dinilai mulai tidak rasional terhadap sosok Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi itu.

Ketidakrasionalan itu terlihat dari elektabilitas tertinggi dalam survei nasional Cyrus Network dengan 28,2 persen dibandingkan tokoh-tokoh lainnya.

“Masyarakat terperangkap di antara realitas dan mitos tentang seorang pemimpin seperti Jokowi,” kata Direktur Riset Cyrus Network, Eko David Dafianto, saat memaparkan hasil surveinya di Jakarta, Ahad.

Eko mengatakan pemimpin yang baik dan berprestasi termasuk mantan Walikota Solo itu tetap membutuhkan kritik. Bahkan, kata dia, Jokowi juga harus membuka ruang untuk kritik secara luas.

“Publik harus disadarkan bahwa Jokowi itu tetap manusia biasa, bukan ratu adil atau tokoh serba bisa yang akan menyelesaikan seluruh persoalan melalui tangannya,” ujarnya.

Eko menjelaskan dari survei yang dilakukannya sebanyak empat kali, sebanyak 66,9 persen responden membicarakan Jokowi. Kemudian, yang membicarakan Jokowi bernada positif sebesar 62,7 persen.

“Sembilan dari 10 orang yang mengenal Jokowi, membicarakannya dengan nada positif. Apapun yang dilekatkan pada Jokowi, akan jadi baik dan bagus. Jokowi sudah jadi mitos, publik tidak rasional lagi dan kehilangan objektivitas dalam memberikan penilaian. Apapun yang menjadi pendapat Jokowi menjadi benar. Siapapun yang mengkritik Jokowi, akan menjadi musuh bersama (public enemy),” tambahnya.

Di tempat yang sama, Pakar Psikologi Politik UI Hamdi Muluk mengkhawatirkan nama Gubernur DKI Joko Widodo yang merajai hasil survei karena tidak ada pesaing yang dapat menandingi mantan wali Kota Solo itu.

“Saya khawatir dengan fenomena ratu adil. Sepertinya Jokowi jadi manusia setengah dewa. Ini capres setengah dewa tidak sehat jangan terjebak dengan mitos ratu adil,” katanya.

Hamdi menuturkan Indonesia memiliki sejarah pemimpin yang dianggap ratu adil seperti Soekarno dan Soeharto. “Itu tidak sehat,” kata Hamdi.

Ia mengatakan banyak pemberitaan Jokowi sudah tidak relevan dengan jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, seperti halnya soal pemberitaan sepatu milik Jokowi.

“Masa sepatu robek saja diberitakan, hal remeh temeh yang tidak ada kaitannya,” katanya.

Apalagi, ujar Hamdi, banyak yang mengkritik Jokowi malah di-bully di media sosial. “Kalau mengkritik Jokowi seperti mengkritik dewa, sudah tidak sehat,” imbuhnya.

Ia menegaskan fenomena Jokowi ini memperlihatkan kegagalan partai mengusung calon yang dapat menandingi kader PDIP itu. “Itu kegagalan partai karena yang lain nama-nama lama,” kata Hamdi.

Ia pun khawatir kompetisi pada pemilu 2014 akan terhambat karena tidak ada pesaing yang dapat menandingi Jokowi, sehingga orang malas berpikir karena akan memilih Jokowi.

Hamdi mengatakan dengan nilai tersebut, Jokowi juga tidak akan mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam Pemilu 2014. Tidak ada pesaing Jokowi dalam bursa pemimpin nasional, membuktikan partai politik gagal total dalam hal kaderisasi.

Padahal, kata Hamdi, persaingan calon presiden menuju pemilu 2014 menarik bila terdapat pilihan alternatif lain selain nama-nama yang beredar di masyarakat.

“Kalau bagus, keluarkan 10 atau 20 orang seperti Jokowi. Ibarat atlet badminton, All England namanya Jokowi, ini menyedihkan, masa yang lain kelasnya tarkam,” ujarnya.

Cyrus menggelar survei sebanyak empat kali yaitu pada 21-27 Agustus 2013, 13-17 September 2013, 1-5 Oktober 2013 dan 18-24 November 2013. Metode yang digunakan untuk pemilihan responden adalah multistage random sampling (acak) pada 204 desa/kelurahan terpilih di seluruh Provinsi Indonesia.

Jumlah responden sebanyak 1.020 orang dengan usia minimal 17 tahun. Wawancara dilakukan melalui tatap muka. Tingkat kepercayaan survei adalah 95 persen dengan margin of error sebesar plus minus 3,1 persen.

Sementara itu, elektabilitas capres Prabowo Subianto berada di urutan kedua, yakni 11,7 persen, diikuti Aburizal Bakrie 10,4 persen, Wiranto 9,8 persen, Megawati Soekarnoputri 4,2 persen dan Jusuf Kalla 3 persen.  (rol/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Astaghfirullah.
    Dan yang aku lebih kaget, melihat-menyimak-mengetahui keadaan seperti itu; mengapa Pak Jokowi tidak menanggapi?
    Apakah secara politis, ada semacam pengambilan manfaat dari kedangkalan akidah? Saya ulangi, ini sudah menyangkut akidah!
    Atau apakah media yang “tidak suka” dengan Pak Jokowi juga mendapat manfaat dengan pemberitaan ini?

    Situasinya digiring untuk sebesar-besar kemanfaatan politik. Rakyat dibuat bingung!

    • Rudyno Nasrial

      Yg saya rasakan juga demikian….tau ga pemimpin jasmev seorang katolik kartika jumadi yg brani mempermainkan agama? Atau pemimpin barisan relawan jokowi for president sihol manulang terdakwa kasus korupsi kpu? Saya bingung jokowi kok ga berlepas dari orang2 sperti ini,malah membiarkan,dan sptnya jokowi malah lebih dekat dg non muslim,dan yg gencar mempromosikannya kbnykan nonmuslim….saya jg melihat fenomena media hanya sekedar manfaatin jokowi doang tanpa jelas arah visi misinya kemana….sgala masi wacana diberitain ujung2nya ga jadi heboh berita aja….sbaliknya media pun memanfaatkan berita negatif jokowi untuk dikonfrontir dg pembelanya jokowi ujung2nya naikin rating media….mirislah liat media2 komersil indonesia

  • unnamed

    kalau bicara probabilitas, mungkin pak jokowi belum mengetahui fenomena
    ini. karena fenomena ini belum diekspos ke publik oleh media. dan kalau
    pun beliau sudah tahu, saya rasa beliau akan klarifikasi ttg fenomena
    tersebut. beliau kan seorang muslim sekaligus amir, jadi saya rasa
    beliau mengerti mana yang salah dan mana yang benar, apalagi mengenai
    akidah. (saya bukan mendukung atau oposisi thd beliau, hanya mencoba
    melihat dari sisi lain)

    yang perlu ditanyakan pada diri kita
    masing2 adalah, “jangan2 kita juga mendukung kesesatan itu?”. jangan2
    kita hanya diam saja melihat saudara kita tersesat?. jangan2 kita
    terlalu sibuk dengan diri kita sendiri hingga apatis dengan masalah
    umat?

    CMIIW

  • Rudyno Nasrial

    Nabi ga serta merta muncul begitu aja jaman dulu,dan justru kemunculannya pertama kali menimbulkan cemoohan,sgt bertolak belakang dg jokowi yg bru dtg langsung digembargemborkan.

    • Lukman Hakim NajwaComp

      sangat setuju sekali

  • Ternyata ngak cuma gue saja yang risih, tapi ummat Islam juga mulai risih yaitu para fans dunia maya Joko Widodo yang disebut sebagai JASMEV dan BARA-JP terlau berlebih-lebihan mengagung-agungkan Jokowi, jangankan cuma menyebut Jokowi sebagai “Nabi”, “Satrio Piningit”, “Juru Selamat Bangsa Indonesia”, dan lain sebagainya, bahkan yang menjadikan Jokowi sebagai DEWA bahkan “TUHAN”-pun sudah ada.

    Giliran ditegur “Hei ! tidak boleh kamu mengangung-agungkan Joko Widodo berlebih-lebihan, itu musyrik !” jawabannya selalu “siapa sih yang menyembah jokowi ? justeru kalian panasbung / Pasukan Nasi Bungkus yang mendewa-dewakan Jokowi untuk menghina Jokowi kan !”

    Tapi kenyataannya mereka (Jasmev dan Bara-JP)-lah yang memuja-muji Jokowi secara berlebih-lebihan, ngak ada bedanya sama Alay yang membuat group facebook “SMASH TUHAN KITA” atau “TUHAN CHERRYBELLE”

  • Ibnu Kencana

    Tolong belajar lagi bagaimana menulis artikel yang bermutu. Jangan menunjukkan ketidakmampuan berpikir, sekedar ngasal.
    Masa cuma krn meng-google “jokowi nabi” , terus mendapat 1.930.000 hasil pencarian , langsung diklaim publik tidak lagi rasional dan menganggap dia nabi?

    Saya google “jokowi monyet”, ada 3.050.000 hasil pencarian.. Jadi ?

  • Didats Triadi

    Astagfirullah,

    Jadi cuma karena Anda mencari kata “Jokowi Nabi” dan dapet hasilnya, berpendapat publik udah gak rasional?

    Coba sekali-sekali otaknya yang dikasih Allah itu dipake buat nulis artikel yang paling tidak bermutu. Bukan tulisan yang memfitnah orang.

  • Jangkriek NgaTuq

    Jokowi memang hebat……di kala kita butuh orang2 yg bisa mengobati/menjawab keinginan kita(rakyat)muncul seorang Jokowi yg nota bene orang kampung tapi otak brilian. pelajaran utk orang2yg (mengaku pintar,agar berkaca diri.

Lihat Juga

Beberapa buku yang pernah ditulis Ahmad Fauzi. (twitter.com/samarra79)

Hina Nabi Muhammad dan Islam, Orang Ini Masuk RSJ

Organization