Home / Berita / Silaturahim / Leni Mendapat Pelajaran Berharga Dalam Setiap Ujian Kehidupan

Leni Mendapat Pelajaran Berharga Dalam Setiap Ujian Kehidupan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Leni kanker 1dakwatuna.com – Tanpa pen dan korset besi, Leni (41 th) tidak bisa berdiri tegap. Pen berukuran kira-kira 15 cm ini terpasang pada tulang belakang untuk menyangga tubuhnya supaya tidak roboh saat berdiri. Selain dengan pen, juga dibantu korset besi yang di pasang di sekitar perutnya.

Bermula tahun 2009, Leni menemukan ada benjolan kecil sebesar ujung kelingking di payudara sebelah kiri. Leni bergegas memeriksakan benjolan itu ke RS di daerah Gaplek, Pondok Cabe. Hasil pemeriksaan menyatakan Leni mengidap kanker ganas, bahkan sudah mulai menyebar ke ruas tulang belakang, kemudian iapun segera dirujuk ke RSCM.

Serangkaian pengobatan panjangpun dijalaninya, dari Oktober 2009 – Juni 2013 saja, Leni sudah menjalani 3 operasi besar dan 2 operasi kecil, 30 kali kemoterapi dan 2 periode sinar radio terapi. Pengobatan inipun mulai mempengaruhi kondisi fisiknya. Rambutnya yang panjang kini menjadi botak dan beberapa bagian kulitnya menjadi hitam.

Perubahan fisik ini tentu menjadi perhatian anak bungsunya, Tasya yang kala itu masih duduk di Sekolah Dasar. “Mamah kok botak sih kaya alien?” tanya Tasya kepada ibunya, Leni hanya berusaha tersenyum saja. “Ibu ngikutin bapak nak”, jawab sang ayah Nurhalim (43 th) yang juga mencukur habis rambutnya.

Berkat kedisiplinannya dalam berobat, kondisi Leni berangsur membaik. Bahkan kini sudah tak nampak tanda-tanda seperti orang sakit. Kulit yang tadinya menghitam sudah kembali putih. “Karena itu pula saat naik kendaraan umum saya jarang di kasih tempat duduk sama penumpang lain” kenang Leni sambil tersenyum lebar.

Di antara pasien penderita kanker, Leni termasuk pasien yang disiplin. Berfikir positif, pasrah menerima keadaan dan modal utamanya bertahan hidup adalah anak-anaknya tercinta. Tak jarang dokter RSCM mengajak Leni mengisi seminar untuk memotivasi para penderita kanker lainnya.

Biaya operasi yang dijalani memang ditanggung oleh pemerintah melalui JAMKESMAS. Namun ada beberapa obat yang harus Leni beli dengan uang sendiri. Suami yang hanya pekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu  membuat Leni kesulitan mencari biaya untuk menebus obat-obatan tersebut. Sepanjang hidupnya Leni harus mengkonsumsi Arimidex untuk menghambat pertumbuhan kanker yang harganya mencapai Rp. 500 ribu lebih per 7 butir tablet.

Belum lagi ongkos transport yang harus dikeluarkan untuk kontrol 2-3 kali setiap minggunya yang cukup besar, karena jarak dari rumahnya di Jl. Suka Karya Kp. Buaran Kel. Serua Indah, Ciputat, Tangerang Selatan menuju RSCM sangat jauh.

Melalui program Zakat Peer to Peer, BWA mengajak para muzakki untuk meringankan beban keluarga Leni. Tentunya zakat Anda akan memberikan secercah harapan bagi mereka yang membutuhkan.  (bwa/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Badan Wakaf Al-Quran
Badan Wakaf Al Qur'an (BWA) adalah organisasi nirlaba (non-profit organization), berbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat.

Lihat Juga

Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Dr Warsito P Taruno. (inet)

Penemu Alat Penyembuh Kanker Asal Indonesia: “Tak Ada Tempat Buat Saya di Indonesia?”

Organization